BERTEMU IBU Sebelum sulur cahaya fajar mekar, Toyota Fortuner itu sudah sampai Tugu Kartasura. Jalanan masih sepi dan lengang. Hanya sesekali satu dua mobil dan bus Sumber Kencono melesat memecah keheningan. Fortuner itu mengambil jalan ke kanan, ke arah Jogja, melaju dengan tenang. Sebelum sampai markas Kopasus belok kanan masuk dukuh Sraten yang masuk dalam wilayah Pucangan, Kartasura. Rumah-rumah masih rapat menutup pintu dan jendelanya. Hanya beberapa rumah saja yang sudah membuka pintunya tanda sang penghuninya sudah siap beraktivitas. Mereka yang telah membuka pintu di hari masih gelap seperti itu biasanya adalah para bakul yang harus sampai di pasar sebelum subuh tiba. Kecuali sebuah rumah tak begitu jauh dari masjid Al Mannar. Itu adalah rumah kelahiran Khairul Azzam. Sejak jam tiga Lia dan ibunya telah bangun dan menyiapkan segalanya menyambut kepulangan Azzam. Hati Azzam bergetar. Rumahnya masih seratus meter lagi, tapi ia seperti telah mencium bau wangi ibunya. Ibu yang sangat Edited by : Bo155 Bon-q97 dicintainya, telah sembilan tahun berpisah lamanya. Matanya basah. Diujung dua matanya air matanya meleleh. Saat cahaya fajar perlahan mulai mekar, fajar keharuan luar biasa mekar di hati Azzam. Fortuner itu berhenti di halaman rumahnya. Bu Nafis dan Lia sudah berdiri di beranda. Azzam turun dengan derai air mata yang tak bisa ditahannya. ”Bue...!” Ia bergegas mencium tangan ibunya lalu memeluk ibunya penuh cinta. Tangis bahagia Azzam tak tertahan lagi. Tangis pertemuan seorang anak dengan orang yang telah melahirkan, merawat dan mengajarkannya kebaikan, setelah sekian tahun lamanya ditinggal pergi. Ibunya juga menangis bersedu-sedan. Tangis kerinduan yang memuncak dan tertahan bertahun-tahun lamanya. Azzam sesenggukan dalam pelukan ibunya. Lia, Husna, Eliana bahkan Pak Marjuki menitikkan air mata. ”Kau akhirnya pulang juga Nak.” ”Iya Bu.” ”Kau kurus Nak.” ”Tidak apa-apa Bu. Alhamdulillah Azzam sehat.” ”Iya Alhamdulillah.” Azan Subuh memecah keheningan. Sesaat lamanya Azzam berpelukan dengan ibunya. Setelah cukup lama, ia melepaskan Edited by : Bo156 Bon-q97 pelukan ibunya dan memeluk Lia dengan penuh kasih sayang. Lia tak kuasa menahan tangis. Air mata Azzam terus mengalir. ”Kau sudah besar Dik.” Ujar Azzam sambil menatap wajah Lia yang basah dengan air mata. Lia hanya mengangguk. Karena keharuan luar biasa Lia tidak mampu berkata-kata. Setelah mencium ubun ubun kepala adiknya yang dibalut jilbab biru tua Azzam melepas pelukannya. Husna dan Eliana menyalami dan mencium tangan Bu Nafis. Sementara Azzam dan Pak Marjuki menurunkan barang-barang. Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah. Azzam mengamat-amati keadaan rumahnya dengan hati penuh bahagia. Tak ada yang berubah, masih seperti semula saat sembilan tahun lalu ia tinggalkan. Hanya saja rumah itu semakin tampak kusam dan tua. ”Inilah rumah kami Mbak Eliana. Rumah orang desa, gubuk reot, tak seperti rumah orang kota.” Kata Husna. Ketika Husna menyebut Eliana, Bu Nafisah mendongakkan kepala. Ia baru sadar kalau yang ada di hadapannya adalah Eliana yang terkenal itu. Sejak jam tiga konsentrasinya hanyalah pada Azzam saja. ”Jadi ini tho yang namanya Eliana. Masya Allah, terima kasih ya Nak sudi mampir ke gubug reot ini.” Kata Bu Nafis. ”Iya Bu, saya Eliana. Keluarga saya biasa memanggil saya El. Mm... kebetulan dari Cairo saya bareng sama Mas Irul. Iya di Cairo ia lebih dikenal dengan sebutan Irul atau Khairul. Terus kemarin kok ya di Graha Bhakti Budaya bertemu lagi. Saya sangat terkejut ternyata salah seorang peraih penghargaan bergengsi itu Husna, adiknya Mas Irul. Terus saya punya agenda ke Solo. Akhirnya ya bareng saja kan lebih enak. Oh ya kenalkan ini paman saya. Pak Marjuki Abbas namanya.” Jelas Eliana tenang. Edited by : Bo157 Bon-q97 Lia keluar membawa nampan berisi wedang jahe. Husna membantu meletakkan wedang jahe itu ke meja. Lia masuk lagi dan mengeluarkan mendoan hangat dan tape goreng hangat. ”Wah, ini pas sekali. Yang seperti ini nih yang saya kangeni.” Ujar Pak Marjuki. ”Iya Pak monggo, silakan. Ya namanya juga kampung. Adanya ya cuma makanan seperti ini.” Sahut Bu Nafis. ”Agenda apa di Solo Mbak, kalau boleh tahu?” Tanya Lia pada Eliana. ”Pertama ingin melihat-lihat kota Solo. Saya kan belum pernah ke Solo. Kalau paman ini sudah hafal. Lha dulu SMA dia di Solo. Lebih spesifik lagi saya ingin melihat tempat untuk syuting. Kedua saya punya Bude di daerah Gemolong. Saya ingin bersilaturrahmi ke rumah Bude. Sebab belum sekali pun saya bersilaturrahmi ke sana. Padahal Bude dan anak-anaknya sudah beberapa kali ke Jakarta. Ya alhamdulillah saya juga bersilaturrahmi ke rumahnya Mas Irul ini.” Jelas Eliana. ”Oh ya Mbak. Mumpung bertemu saya mau klarifikasi langsung saja. Saat ini penduduk di kampung ini sedang geger lho Mbak. Ini garagara wawancara Mbak dengan para wartawan di bandara itu lho. Wawancara itu kan diputar berulang-ulang di hampir semua televisi swasta. Di situ Mbak kan bilang pria paling dekat dengan Mbak adalah Mas Khairul Azzam. Opini yang berkembang di masyarakat adalah Mas Azzam itu pacarnya Mbak. Apa benar itu Mbak?” Tanya Lia dengan ceplas-ceplos dan gamblang. Eliana tersenyum. Ia memandang Azzam yang duduk agak di dekat dengan pintu. Edited by : Bo158 Bon-q97 ”Tanya aja sama dia. Kalau dia ngaku pacar saya ya bagaimana lagi. Kalau tidak ya bagaimana lagi.” Jawab Eliana diplomatis sambil memberi isyarat ke arah Azzam. Azzam diam saja. ”Bagaimana Kak sesungguhnya?” Desak Lia pada Azzam. ”Ah kayak begitu kok dibahas. Ya mudahnya begini saja. Saat di wawancara itu nggak apa-apalah saya ini pacarnya Eliana. Ya hitunghitung saya sedekah menjaga nama baik dalam tanda petik pamor Eliana. Kan di dunia artis itu seolah-olah aib kalau tidak punya pacar. Kayaknya kok tidak laku begitu. Jadi saya ini ya bemper lah saat itu. Kalau di luar wawancara ya biasa saja. Tidak ada hubungan apa-apa. Kamu apa tidak lihat tho Dik, apa sudah gila Eliana punya pacar kayak saya. Artis-artis atau pengusaha yang ganteng-ganteng dan kaya kan masih banyak. ” Azzam menjelaskan dengan tenang. ”Ah Mas Irul, jangan segitunya merendah tho Mas. Jujur ya saat di bandara itu memang saya menjawab pertanyaan wartawan asal saja. Habis bagaimana, kan saat itu masih lelah. Pusing amat dengan wartawan. Tapi sesungguhnya saya melihat ada sesuatu dalam diri Mas Irul yang saya kagumi Mas. Jujur saya ini sedang dalam proses mencari makna hidup. Dan saya paham hidup tidak mungkin sendirian terus. Pendamping hidup itu penting. Saya sedang mencari, terus terang pendamping hidup yang bisa saya ajak hidup sampai tua. Saya, jujur, sudah bosan bergonta-ganti pacar. Sudah saatnya saya mencari pasangan hidup, atau belahan jiwa. Bukan pacar. Maka dalam wawancara kemarin saya tidak menyebut pacar. ” Eliana menjelaskan pandangannya sedikit tentang apa yang sedang ia cari. Iqamat dikumandangkan. Azzam mengajak Pak Marjuki ke masjid. Husna mempersilakan Eliana mengambil air wudhu. Sementara Bu Nafis masih duduk menikmati rasa bahagianya. Ia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dihargai dengan seluruh isi dunia sekalipun. Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan kembalinya Azzam Edited by : Bo159 Bon-q97 setelah sembilan tahun tak pernah bertemu kecuali lewat surat, mimpi dan telepon. Pagi seperti bergetar. Selesai shalat subuh puluhan tetangga berdatangan. Awalnya ibu-ibu dan bapak-bapak jamaah subuh masjid Al Mannar. Tak lama kemudian para tetangga yang tidak shalat subuh berjamaah. Kabar Azzam telah pulang langsung menyebar. Dan kabar Eliana yang mengantar Azzam membuat pagi itu seperti bergetar. Puluhan orang ingin membuktikan dengan mata dan kepala sendiri bahwa kabar itu benar. Banyak ibu muda yang datang bukan semata karena menjenguk Azzam yang pulang. Tapi karena ingin bertemu dan berfoto bareng Eliana. Sebenarnya, selesai shalat Subuh Eliana langsung ingin jalan. Tapi Bu Nafisah menahan, ”Ibu tidak ridha kalau pergi sebelum mandi di rumah ini dan belum sarapan di sini.” Akhirnya Eliana mengalah. Ia akhirnya terpaksa mandi dan sarapan di rumah Azzam. Eliana ganti pakaian di kamar Husna. Kamar yang sederhana. Tapi rapi, bersih menebar rasa cinta siapa saja yang masuk ke dalamnya. Meskipun sederhana tapi kamar itu membuat betah siapa saja yang memasukinya. Demikian juga Eliana. ”Ini kamar penulis besar.” Desis Eliana pada dirinya sendiri. Ia jadi merasa malu pada Husna. Ia merasa hanya menang popularitas dan mungkin menang cantik belaka. Ia belum memiliki karya buah pikiran dan tangannya. Sementara Husna sudah melahirkan puluhan cerpen. Di rumah Azzam ia seperti melihat dunia dari sisi yang lain, Ia melihat rumah Azzam adalah rumah prestasi. Dan rumah prestasi tidak harus mewah dan megah. Ketika para tetangga berdatangan dan kaum lelakinya merangkul Azzam dengan penuh haru dan penuh kasih sayang, Eliana diamdiam iri pada Azzam. Iri pada ikatan persaudaraan yang sedemikian kuatnya di kampung itu. Itu yang tidak ia dapati di lingkungan Edited by : Bo160 Bon-q97 perumahan mewahnya di Jakarta. Tak ada yang peduli ia mau apa, dari mana dan sedang apa. Tak ada yang peduli ia sedih atau bahagia. Tapi di sini, kepulangan Azzam tidak hanya milik keluarganya yang telah menunggu sekian tahun lamanya. Bukan hanya kebahagiaan dan haru keluarga ibu Nafis saja, melainkan kebahagiaan seluruh masyarakat sekitar rumah Azzam. Azzam adalah bagian dari mereka. Cara hidup yang penuh persaudaraan seperti itulah yang sebenarnya didambakan Eliana. Pagi itu, orang-orang silih berganti berdatangan ke rumah Azzam. Tidak hanya rasa haru dan bahagia yang mereka rasakan. Ada sedikit rasa penasaran di hati mereka. Mereka selalu menanyakan kabar Azzam dan seseorang yang menyertainya saat keluar dari bandara, yaitu Eliana. Jadilah Eliana menemani Azzam menemui para tetangganya. Husna ikut menemani. Sementara Bu Nafis dan Lia sibuk membuat minuman dan menyiapkan sarapan. Pak Marjuki minta diri tidur di kamar Azzam. Semalam suntuk dia tidak tidur. Ia mengendarai mobil kira-kira dua belas jam. Tiap tiga jam istirahat. Begitu terus sampai akhirnya sampai Solo. Maka selepas dari masjid ia langsung tidur. ”Maaf Mbak Eliana, saya pengagum Mbak lho. Sinetron Dewi-Dewi Cinta tak pernah saya lewatkan. Kalau boleh tahu kapan rencana pernikahan Mbak Eliana dengan Mas Azzam?” Seorang perempuan muda dengan mata berbinar-binar. Perempuan itu seolah tidak percaya kalau Eliana ada di hadapannya. Mendengar pertanyaan itu Eliana dan Azzam berpandangpandangan. Azzam mengangkat kedua bahunya dan berekspresi yang mengisyaratkan ia tidak tahu jawabannya, ia minta Eliana saja yang menjawab. Eliana sendiri bingung harus bagaimana menjawabnya. Edited by : Bo161 Bon-q97 Husna tahu kebingungan dua orang itu, maka ia mencoba membantu dengan berkata, ”Ya ini kan baru ikhtiar Mbak. Belum final. Kalau jodoh ya pasti akan ditemukan Allah. Pokoknya jangan khawatir nanti kalau Mas Azzam menikah Mbak kami beri tahu dan kami undang.” Eliana langsung menimpali kata-kata Husna itu dengan mengatakan, ”Iya benar.” Perempuan muda itu lalu minta foto bareng Eliana dan Azzam. Ia juga minta tanda tangan di buku agendanya. Lalu pergi dengan rasa puas di hati. Jam sembilan sarapan siap. Bu Nafis dan Lia menghidangkan nasi rojolele yang pulen wangi. Lauknya pecel, rempeyek, tempe goreng, lele goreng dan cethol15 goreng yang renyah. ”Mbak Eliana, ini cethol asli waduk Cengklik. Sangat gurih rasanya. Sangat pas untuk lauk pecel. Coba rasakan pasti nanti ketagihan.” ujar Lia sambil menuang teh ke dalam cangkir. Eliana tersenyum. Aroma nasi rojolele itu membuat nafsu makannya terbit. Pak Marjuki yang lebih duluan mengambil nasi pecel dan cethol goreng, langsung menyantap dengan lahap. ”Wah kalau ini benar-benar beda. Uenak betul!” Bu Nafis tersenyum mendengarnya. Eliana mengambil nasi, pecel, cethol, dan tempe. Suapan pertama ia langsung mengacungkan jempol pada Lia. Azzam paling banyak mengambil nasi. Ia sangat rindu dengan masakan ibunya. Rasanya ia ingin menghabiskan semua itu sendirian saja. Azzam makan dengan sangat lahap seperti 15 Cethol adalah sebutan untuk ikan kecil-kecil sebesar jari kelingking atau jari telunjuk tapi bukan ikan Teri. Banyak ditemukan di waduk Cengklik, Boyolali. Edited by : Bo162 Bon-q97 orang kelaparan. ”Wah yang paling menikmati kayaknya Mas Irul ini.” Ucap Eliana sambil mengunyah cethol gorengnya. ”Mm... iya, soalnya ini masakan ada bumbu cinta dan rindunya. Jadi sangat nikmat.” Jawab Azzam sambil mencomot tempe goreng di depannya. Di tengah-tengah asyiknya sarapan, sebuah sedan datang dan parkir di belakang mobil Fortuner. Melihat mobil itu Husna langsung berseru, ”Itu Anna datang!” Mendengar nama Anna, dada Azzam sedikit bergetar. Entah kenapa. Meskipun ia tidak yakin kalau yang datang Anna Althafunnisa. Maka Azzam langsung bertanya pada adiknya, ”Anna siapa?” ”Anna Althafunnisa. Dia mahasiswi Cairo. Mungkin kakak kenal.” ”Ya. Aku kenal.” Sahut Azzam menahan getar di hatinya. Tiba-tiba ia teringat lamarannya untuk Anna yang ia sampaikan lewat Ustadz Mujab ditolak. Bukan ditolak oleh Anna, tapi ditolak Ustadz Mujab karena Anna sudah dilamar oleh Furqan, sahabatnya sendiri. Memang apa yang dilakukan Ustadz Mujab benar. Sebab seorang muslim tidak boleh melamar seseorang yang telah dilamar oleh saudaranya. ”Wah kok kebetulan ya. Orang-orang Cairo pada ngumpul di sini. Aku dengar Anna sudah mau menikah dengan Furqan ya?” Kata Eliana sambil memandang Azzam. ”Aku tak tahu pasti. Coba saja nanti kita tanya.” Jawab Azzam. Edited by : Bo163 Bon-q97 Anna melangkah ke beranda. Husna berdiri menyongsongnya. ”Assalamu’alaikum.” Suara Anna menimbulkan desiran halus dalam hati Azzam. Azzam berusaha kuat melawannya. ”Wa’alaikumussalam. Mbak Anna, kebetulan kami sedang sarapan ayo masuk. Kok pas banget. Ayo silakan!” Jawab Husna ramah. Semua kursi sudah terisi. Husna memberikan kursinya pada Anna. Ia lalu pergi ke belakang mengambil kursi plastik di dapur. ”Ini Eliana, putri Pak Dubes kan?” Tanya Anna pada Eliana. Ia kaget, ada apa gerangan seorang putri Dubes sampai ke rumah Husna. ”Iya benar. Wah surprise kita bisa bertemu di sini. Rumah Anna dekat dari sini?” ”Mungkin sekitar empat belas kilo dari sini.” ”Wah selamat ya. Di Cairo sudah beredar kabar kamu tunangan sama Furqan. Itu benar kan ya?” ”Iya benar. Kami memang sudah tunangan. Mohon doanya. Akad nikah insya Allah Jumat kedua bulan ini.” Jelas Anna pada Eliana. Ia belum sadar kalau di sebelahnya itu adalah Azzam atau yang ia kenal dengan nama Abdullah. Karena pusat perhatiannya tertuju pada Eliana. Sementara Azzam mendengar penjelasan itu dengan hati yang ditabah-tabahkan. ”Wah sudah dekat ya. Tak ada dua minggu lagi dong.” Timpal Lia. ”Iya. Mohon doanya.” ”Mbak Anna, ini Azzam kakakku yang aku ceritakan itu. Bagaimana tidak kenal juga?” Husna mengenalkan Azzam pada Anna. Anna Edited by : Bo164 Bon-q97 memandang Azzam, Azzam memandang Anna. Saat pandangan keduanya bertemu, Anna kaget, benarkah ini orangnya? Kakaknya Husna? Anna berusaha menyembunyikan kekagetannya. Keduanya lalu menunduk. Anna teringat dengan pemuda bernama Abdullah yang menolongnya saat ia dan Erna belanja kitab ke Sayyeda Zaenab. Dompet Erna kecopetan. Ia berusaha mengejar copet sampai lupa dengan kitabnya. Kitabnya tertinggal di bus. Ia kehabisan uang. Lalu seorang mahasiswa yang naik taksi menolongnya. Bahkan meminta sopir taksi mengejar bus. Dan akhirnya ia mendapatkan kembali kitab-kitab yang baru dibelinya. Ia sempat menanyakan nama pemuda itu. Dan pemuda itu menjawab namanya Abdullah. Ia tidak bisa melupakan wajah pemuda baik itu. Wajah pemuda itu sama persis dengan pemuda yang kini duduk tak jauh darinya. Bukankah ini Abdullah itu? Pikirnya. Ia yakin, tak mungkin salah lagi, pemuda yang duduk tak jauh darinya adalah Abdullah yang dulu menolongnya. Hati Anna hampir-hampir terkoyak. Seseorang yang pernah ia harapkan, kini benar-benar ada di pelupuk kedua matanya. Tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa suatu saat ia akan bertemu dengannya. Perasaan Anna yang sudah benar-benar terpendam jauh semenjak lamaran Furqan diterima, hampir muncul kepermukaan. Hampir hampir ia tak kuasa menahan perasaannya itu. Namun ia segera mengukuhkan hatinya untuk orang yang telah resmi menjadi tunangannya, yaitu Furqan. Ia beristighfar. Ia harus meneguhkan diri, bahwa lamaran Furqan telah diterima, dua keluarga telah mempersiapkan segalanya, dan akad nikah akan dilangsungkan segera. Inilah kenyataan yang harus ia syukuri. Ia harus bisa melawan keinginan semunya yang telah lampau. Ia juga harus membuang jauh perasannya. Perasaan yang hanya akan membuatnya gamang. Boleh jadi perasaan itu sebenarnya hanyalah godaan setan kepada orang yang akan mengikuti sunnah rasul, yaitu membangun rumah tangga sesuai tuntunan syariat yang mulia. Edited by : Bo165 Bon-q97 Anna kembali menenangkan hatinya dan bersiap untuk menjawab pertanyaan Husna. Namun Eliana malah mendahulinya dengan kalimat yang bernada mencercanya, ”Ah masak Mbak Anna tidak kenal sama Mas Khairul Azzam. Mahasiswa Indonesia di Cairo, saya yakin sebagian besar mengenalnya. Dikenal sebagai pembuat tempe dan bakso. Ah yang benar saja Mbak Anna!” ”Namanya penjual tempe itu tidak akan masuk dalam kamus elit mahasiswa. Penjual tempe juga tidak perlu dikenal sosoknya, yang penting dikenal tempenya enak.” Sambung Azzam santai sambil promosi tempenya. ”Wah, iya bener juga. Itu kalimat yang indah lho Mas. Penjual tempe tidak perlu dikenal sosoknya yang penting dikenal tempenya enak.” Husna mengapresiasi kalimat kakaknya. Anna merasa tidak enak hati, seolah ia tidak mau mengenal mahasiswa yang pangkatnya jualan tempe. Maka ia pun angkat bicara, ”Maaf, bukannya saya tidak kenal. Kemarin waktu kenalan sama Mbak Husna, yang disebut adalah Azzam. Katanya jualan tempe. Terus saya bilang kalau Azzam saya tidak kenal. Saya mengenal beberapa nama penjual tempe. Saat itu saya sebut beberapa nama yaitu Rio, Budi, dan Muhandis atau Irul. Saya jelaskan yang paling senior adalah Muhandis. Saya tidak tahu kalau Muhandis atau Irul itu sebenarnya adalah Mas Azzam. Dan kalau tidak salah saya pernah kenalan dengan Mas Azzam saat pulang dari Sayyeda Zaenab. Saat itu temanku Erna kecopetan di bus. Aku berusaha mengejar copetnya yang menyebabkan kitabku ketinggalan. Mas Azzam membantu mengejarkan bus yang membawa kitabku itu akhirnya ketemu. Dan Edited by : Bo166 Bon-q97 saat itu Mas Azzam mengaku namanya Abdullah. Coba jika saat itu mengaku bernama Khairul Azzam.” Azzam tersenyum. Ia pun jadi ingat kejadian yang nyaris ia lupakan. Ia memang pernah menolong Anna. Saat itu pun ia belum tahu namanya. Anna memakai jilbab biru seingatnya. Dan ia memang mengaku bernama Abdullah. Sebab nama panjangnya sebenarnya ketika kecil adalah Abdullah Khairul Azzam. ”Yang disampaikan Anna benar. Saya memang dikenal dengan nama Muhandis atau Irul, atau Muhandis Irul. Hanya orang-orang dekat saja yang memanggil saya Azzam. Hampir seluruh mahasiswa mengenal saya sebagai Irul. Terus saya memang sering berkenalan dengan orang memakai nama Abdullah. Itu nama depan saya. Alhamdulillah, yang penting bisa ketemu di sini, iya kan? Oh ya, bagaimana kabar Furqan? Apa jadi lanjut S3?” Di ujung kalimatnya Azzam memandang Anna sekilas. Anna mendongakkan kepalanya. ”Alhamdulillah, dia baik. Ya insya Allah dia mau lanjut S3. Nanti datang ya di acara pernikahan.” Jawabnya. ”Insya Allah, kalau tidak ada halangan.” ”Oh ya Mbak Eliana sama Mas Azzam, kapan kalian menikah? Aku lihat di televisi kemarin katanya kalian pacaran!?” Anna memandang ke arah Eliana. ”Aduh kasihan Mas Irul...” Kata Eliana yang langsung diputus Anna, ”Lho memanggilnya Irul kan bukan Azzam. Sebab di Cairo memang dikenal dengan nama Irul. Maaf Mbak saya potong.” ”Iya jadi kasihan Mas Irul. Semua orang nanti akan nanya dia begitu. Jujur saja sebenarnya itu murni ulah saya. Begitu sampai di bandara saya diberondong pertanyaan sama wartawan ya saja jawab sekenanya. Sebenarnya jujur saja saya tidak ada apa-apa dengan Mas Edited by : Bo167 Bon-q97 Irul. Ya hanya kenal biasa. Kecuali, ya kecuali kalau Mas Irul berani minta saya sebagai calon isterinya! He... he... he...” Semua yang ada di ruangan itu tersenyum mendengar perkataan Eliana. Azzam tidak mau kalah begitu saja, ia langsung angkat suara, ”Ah Mbak Eliana bisa saja candanya. Nanti kalau saya lamar betulan terus kayak Rorojonggrang dilamar Prabu Bondowoso, gimana? Karena saya buruk rupa tidak sesuai dengan standar yang diinginkan lalu disyaratkan membuat seribu candi dalam waktu semalam agar dengan sendirinya sama saja mundur teratur. Iya tho?” Dengan nada bercanda Eliana menjawab, ”Iya!” Husna menimpal, ”Hayoh kapokmu kapan.”16 Matahari semakin tinggi. Sinarnya semakin panas menyengat. Satu dua orang masih berdatangan menjenguk Azzam yang pulang. Tepat pukul sepuluh Eliana pamitan. Demikian juga Anna Althafunnisa. Sebelum Eliana dan Anna pergi, Lia minta agar foto bersama. Anna pergi duluan sebab mobilnya tepat di belakang mobil Eliana. Anna melambaikan tangan dengan senyum mengembang. Kepada Azzam ia menganggukkan kepala. Azzam kembali merasakan desiran halus dalam hatinya. ”Mas Azzam selamat ya sudah berada di tengah-tengah keluarga.” Kata Eliana. ”Terima kasih ya atas tumpangannya.” Jawab Azzam. ”Sama-sama.” 16 Hayoh jeramu kapan. Edited by : Bo168 Bon-q97 ”Ini langsung ke Gemolong?” ”Tidak. Kami mau check in hotel dulu.” ”Rencana menginap di mana?” ”Di Novotel. Mungkin nanti sore jalan-jalan keliling kota Solo. Besok baru ke Gemolong. Kata Pak Marjuki tidak jauh.” ”Selamat jalan ya Nak. Hati-hati. Kalau ada waktu mampir lagi kemari.” Kata Bu Nafis yang berdiri di samping Azzam. ”Iya Bu. Terima kasih atas pecelnya. Sungguh, enak.” Jawab Eliana sambil masuk mobil. Sejurus kemudian mobil itu telah berjalan meninggalkan halaman. ”Dua gadis yang sama-sama cantik.” Ujar Lia lirih. ”Siapa?” Tanya Husna. ”Ya Anna sama Elianalah. Mbak kira siapa?” ”Aku sama kamu.” ”Ih geernya. Memang Mbak cantik?” ”Apa Mbak tidak cantik?” Mendengar percakapan dua adiknya itu Azzam langsung menengahi, ”Sudah ayo masuk. Kalian berdua cantik. Di mata kakak, kalian berdua lebih cantik dari mereka berdua. Kakak ada oleh-oleh buat kalian. Kakak belikan kalian jilbab Turki dari sutera. Ayo kita lihat.” Edited by : Bo169 Bon-q97 ”Ayo.” Sahut Lia dan Husna nyaris bersamaan dengan senyum mengembang. Mereka kembali masuk rumah. Angin bertiup dari Timur ke Barat menggoyang daun-daun pohon mangga yang mulai berbunga di depan rumah. Bunga matahari di dekat jalan bergoyang-goyang indah. Bu Nafis sudah mengambil air wudhu untuk shalat Dhuha. Tak lama kemudian perempuan yang rambutnya sudah memerak sebagian itu larut dalam sujud kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bertasbih dan bertahmid atas pulangnya sang putra kesayangan. Edited by : Bo170 Bon-q97 10 BELAJAR DARI JALAN Azzam tidak perlu waktu lama untuk menyatu dengan masyarakat. Tujuh hari di rumah ia telah kembali akrab dengan hampir semua orang di kampungnya. Ia menyatu dengan mereka. Tak ada jarak antara dirinya dan mereka. Ia tidak pernah merasa berbeda dengan mereka. Tidak sedikitpun terbersit dalam hatinya bahwa ia adalah seorang mahasiswa dari Mesir yang lebih baik dari mereka. Azzam merasa ia sama dengan mereka. Profesinya tidaklah berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya. Hikmah yang ia dapat dari bertahun-tahun jualan tempe dan bakso adalah bahwa ia merasa hanyalah seorang penjual tempe yang tidak boleh merasa lebih atau lebih baik dari orang lain. Kang Jarwo yang jualan ketoprak keliling. Kang Birin yang buka salon pangkas rambut di pojok pasar Kartasuro. Pak Huri yang buka bengkel motor di depan STAIN. Semua ia anggap sama bahkan lebih baik dari dirinya. Mereka ia anggap lebih memiliki pengalaman hidup. Edited by : Bo171 Bon-q97 Juga Kang Paimo yang waktu kecil dulu sering bermain gobak sodor dengannya kini menjadi sopir truk. Ia merasa dirinya dengan Kang Paimo sama saja. Kang Paimo sering ke luar kota. Paling sering ke Jakarta. Ia pernah jadi sopir truk ikan di Demak. Majikannya seorang juragan ikan. Pernah suatu malam, sambil minum kopi panas di gardu ronda Azzam mendengarkan cerita Kang Paimo. Ada empat orang yang ronda malam itu; Kang Paimo, Kang Qadir, Si Badrun dan Azzam. Kang Paimo bercerita dengan penuh semangat. Sementara Azzam, Kang Qadir, dan Si Badrun diam mendengarkan dengan seksama. ”Zam, kamu tahu nggak sopir yang benar-benar sopir adalah sopir truk ikan. Kalau orang belum pernah jadi sopir truk ikan belum menjadi sopir sejati. Orang yang pernah jadi sopir truk ikan berarti ia pernah jadi raja jalanan. Bayangkan Zam, dulu tiga tahun jadi sopir truk ikan. Tiga kali aku kecelakaan, tapi alhamdulillah selalu selamat.” ”Apa hebatnya sopir truk ikan Kang?” Tanya Azzam. Kang Paimo menjawab, ”Hebatnya, sopir truk ikan itu harus selalu cepat dan ngebut sepanjang jalan. Harus selalu mendahului dan menyalip mobil lain. Jalan raya ibarat medan lomba balapan. Dan sopir truk ikan harus menang. Sebab mengejar waktu. Bayangkan saya dulu jadi sopir truk ikan milik juragan ikan di Demak. Saya berangkat dari Demak habis shalat maghrib dan harus sampai Pasar Minggu Jakarta pukul tiga pagi. Tidak boleh terlambat. Kalau terlambat ikannya bisa layu, tidak segar lagi, dan para pernbeli sudah pada pergi. Sepanjang jalan itu saya ngebut. Selalu tancap gas. Sekali pun belok saya tetap tancap gas. Dan itu memerlukan nyali yang besar. Saya harus jadi raja di jalan. Jika ada mobil di depan saya harus membuatnya minggir. Saya perintah minggir dengan lampu Edited by : Bo172 Bon-q97 dan klakson. Bus jurusan Surabaya-Jakarta saja kalau lihat truk saya pasti minggir! ”Dulu saat masih megang truk ikan, saya sering ditemani minuman. Agar berani tancap gas terus ya harus dibantu minum. Dengan setengah mabuk saya merasa melayang tidak takut apa-apa! Itu dulu. Untung Gusti Allah masih sayang pada saya. Tiga kali kecelakaan saya, dan itu karena kondisi saya benar-benar mabuk. Tidak lagi setengah mabuk. Tiga kali kecelakaan dan saya selamat. Yang dua kali menghantam pohon asam di Pemalang. Yang sekali masuk sawah di Brebes. Alhamdulillah saya selamat. Akhirnya saya insyaf. Saya cari kerjaan lain. Susah! Tidak dapat-dapat. Saya pengangguran setengah tahun. Lalu saya nekat jual tanah warisan untuk beli truk. Ya truk itulah sekarang yang jadi andalan saya. Alhamdulillah tiap minggu selalu ada order kirim barang.” Azzam akrab dengan siapa saja. Karena akrab dengan Kang Paimo, ia ditawari belajar mengendarai truk. Ia sambut tawaran itu dengan penuh antusias. Kepada tokoh masyarakat ia sangat hormat. Ia sangat dekat dengan Pak Mahbub, teman seperjuangan ayahnya dulu saat merintis pendirian Masjid Al Mannar. Kini Pak Mahbub jadi ketua takmir sekaligus imam masjidnya. Setiap kali shalat berjamaah dan ia diminta Pak Mahbub menjadi imam. Tapi ia menolak. Ia merasa Pak Mahbub lebih berhak dan layak. Kecuali kalau Pak Mahbub tidak ada dan jamaah memaksanya maka ia baru maju ke depan. Karena tidak banyak yang dikerjakannya ia merencanakan mau berwirausaha. Ia mau mencoba membuka warung bakso. Ia telah mengelilingi Kartasura dan Solo mencari tempat yang tepat untuk membuka usahanya. Yang berjualan bakso telah banyak jumlahnya. Namun ia yakin usahanya akan jaya. Ia yakin dengan inovasi ia akan mampu meraih pelanggan sebanyak-banyaknya. Edited by : Bo173 Bon-q97 Namun setelah ia pikir dengan seksama lebih baik memulai usaha itu setelah ia benar-benar cukup menguasai medan. Ia harus lebih matang melakukan penelitian. Dengan penelitian yang mendalam ia akan mampu melihat peluang-peluang bisnis yang lain. Hari menjelang petang. Azzam baru pulang dari Pabelan. Ia baru saja mengakses internet untuk membuka emailnya. Persis seperti yang ia perkirakan. Dua hari lagi kontainer Pak Amrun Zein datang. Sebelum pulang Indonesia, ia telah membuat kesepakatan bisnis bahwa ia akan menjadi penanggung jawab pendistribusian buku buku mahasiswa Indonesia yang dikirim lewat Pak Amrun. Ia bertanggung jawab untuk wilayah Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur. Dari email yang ia baca, ia harus mengirim buku ke tiga puluh satu alamat. Sore itu setelah mandi ia langsung ke masjid. Habis shalat ia langsung ke rumah Kang Paimo. Ia mengajak Kang Paimo ke Jakarta untuk mengambil dua ratus sepuluh kardus berisi buku dan kitab, dua hari lagi. Lalu mengantarkannya ke tiga puluh satu alamat. Kang Paimo sangat bahagia mendapat tawaran Azzam. Apalagi Azzam membayarnya dengan profesional. Dan benar. Dua hari berikutnya Azzam bersiap untuk pergi ke Jakarta. Kepada ibu dan adik-adiknya Azzam pamit untuk empat hari lamanya. Kang Paimo datang menjemput Azzam dengan ditemani Si Kamdun. Si Kamdun adalah teman kerja Kang Paimo yang paling giat dan andal. Si Kamdun juga bisa mengendarai truk, sehingga apabila Kang Paimo capek Si Kamdun bisa menggantikannya. Mereka bertiga berangkat selepas shalat Ashar. Kang Paimo mengemudikan truknya sambil memberi pengarahan kepada Azzam cara mengendarai mobil yang baik. Azzam yang sudah beberapa kali berlatih semakin paham. Edited by : Bo174 Bon-q97 ”Yang penting praktik bukan teori Zam. Nanti suatu ketika ada kesempatan kau harus praktik langsung.” Kata Kang Paimo. Azzam menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kang Paimo mengendarai truk itu dengan kecepatan sedang. Karena jalan dari Solo ke Jakarta cukup padat. Banyak sekali bus yang beriringan menuju Jakarta. Ketika truk sampai di Batang, Kang Paimo minta Si Kamdun gantian yang duduk di kursi sopir. Truk melaju delapan puluh kilometer perjam. Sampai di Indramayu istirahat di sebuah waning kopi setengah jam. Lalu berjalan lagi. Gantian Kang Paimo yang mengemudi. Kali ini Kang Paimo mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti orang kesetanan. ”Kang tidak usah ngebut! Ini bukan truk ikan!” Protes Azzam ”Oke Zam. Sorry.” Sahut Kang Paimo sambil mengurangi gasnya. Truk itu sampai di rumah Pak Amrun pukul enam pagi. Dua ratus sepuluh kardus ukuran kecil dan besar dinaikkan. Sebelum menata ratusan kardus buku itu Kang Paimo minta daftar alamat yang akan dikirim. Ia berkata kepada Azzam,”Mana Zam alamat-alamatnya?” Azzam lalu menyerahkan daftar alamat yang dituju. Kang Paimo memperhatikan dengan serius. Setelah sesaat lamanya menganalisa, Kang Paimo berkata,”Setelah kulihat maka kita akan mengambil rute seperti ini: Tegal, Purwokerto, Cilacap, Jogja, Klaten, Sragen, Ngawi, Madiun, Jombang, Surabaya, Tuban, Rembang, Kudus, Kendal, baru pulang ke Kartasura. Bagaimana Zam?” ”Aku ikut saja, Kang Paimo kan lebih paham.” ”Kalau begitu cara menyusunnya alamat paling akhir kita masukkan dulu. Sehingga letaknya paling dalam sana. Begitu seterusnya. Dan Edited by : Bo175 Bon-q97 alamat yang rencananya paling awal kita datangi kita letakkan di depan. Sehingga kita enak nanti ketika menurunkan.” ”Wah benar itu Kang. Cerdas juga sampeyan.” ”Lho Paimo itu sejak dulu cerdas Zam. Hanya karena nasib saja putus sekolah. Kalau Paimo ini dibiayai sampai lulus kuliah mungkin sudah jadi dosen sekarang. Bukan sopir truk.” ”Memang sudah diatur oleh Allah Kang. Kalau sampeyan jadi dosen lha siapa yang akan aku ajak jalan jalan mengantar buku-buku ini? Kang selama kita bersyukur apa pun pekerjaan kita insya Allah diridhai Allah. Dengan ridha Allah jadi barakah. Yang mahal itu barakahnya itu lho Kang.” Pukul tujuh truk itu kembali berjalan. Kang Paimo membawa truknya ke tempat seorang teman akrabnya di Bekasi Barat. Mereka sampai di sana pukul sembilan. ”Kita mandi, makan dan istirahat di sini. Siang ini harus tidur. Nanti sore baru kita lanjutkan.” Azzam jadi tambah mengerti dunia para sopir. Siang itu Azzam tidur pulas. Jam dua siang ia bangun. Ia shalat dengan menjamak dan mengqashar. Lalu tidur lagi. Jam setengah empat bangun mandi dan memulai perjalanan panjang. Tengah malam mereka sampai di Tegal. Saat melewati kantor polisi Kang Paimo turun dan menanyakan dua buah alamat yang ada dalam daftar itu. Seorang polisi yang sedang berjuang melawan kantuk menjelaskan rute menuju dua alamat itu dengan menguap berkalikali. Pukul setengah satu mereka tiba di alamat pertama. Terpaksa membangunkan pemilik alamat yang sedang tidur. Tapi begitu yang punya rumah bangun dan mengetahui yang datang adalah mahasiswa dari Cairo yang mengantar buku-buku anaknya yang masih di Mesir mereka senang. Mereka terus banyak bertanya tentang Mesir. Tentang keadaan anaknya kira-kiranya. Azzam menjelaskan dengan Edited by : Bo176 Bon-q97 penuh kesabaran. Ia membayangkan seperti itulah kira-kiranya ibunya dulu bertanya kepada teman-temannya yang ia titipi sesuatu untuk disampaikan pada ibunya. Pukul setengah dua sampai di alamat kedua. Lalu tancap gas ke Purwokerto dan Cilacap. Mereka sampai di Cilacap saat subuh tiba. Mereka shalat subuh dahulu sebelum menurunkan barang di alamat yang dituju. Kang Paimo sudah tidak kuat maka digantikan oleh Si Kamdun. Langsung tancap gas ke Jogjakarta. Baru sampai Kebumen, Kang Paimo minta berhenti istirahat. ”Kita berhenti dulu Zam, istirahat. Di depan ada rumah makan besar yang ada mushallanya. Kita bisa tidur di mushalla itu beberapa jam saja.” Azzam mengiyakan usul Kang Paimo. Lebih baik istirahat dulu agar tubuh kembali fit dan segar, daripada memaksakan diri yang bisa berakibat fatal. Mereka istirahat cuma dua jam. Kang Paimo dan Si Kamdun bisa tidur begitu nyenyak dan tenang. Mereka bangun, makan, dan melanjutkan perjalanan. Pukul tiga sore mereka sampai di Jogja. Ada tiga alamat yang harus mereka datangi. Yaitu di Kotagede, Krapyak, dan Kalasan. Mereka langsung menuju Klaten. ”Coba kau tengok Zam. Klaten berapa tempat?” Ujar Kang Paimo sambil memindah gigi truk agar melaju lebih cepat. ”Cuma satu Kang.” ”Di mana?” ”Pesantren Daarul Quran, Polanharjo.” Edited by : Bo177 Bon-q97 ”Oh aku tahu. Itu pesantrennya Kiai Lutfi. Aku dulu sering diajak Pak Mahbub mengaji pada Kiai Lutfi kalau hari Rabu.” ”Mengaji apa Kang?” ”Kitab Al Hikam.” ”Sekarang masih sering ke sana Kang?” ”Jarang. Aku sering luar ke kota sih Zam.” ”Ya kalau pas di rumah mbok ya disempatkan ngaji Kang.” ”Insya Allah, masak ngejar dunia terus ya Zam.” ”Oh ya Zam. Aku dengar putrinya Kiai Lutfi kan kuliah di Cairo juga tho. Kau kenal?” ”Kenal Kang.” ”Kalau belum punya calon, kau lamar saja Zam. Orang orang bilang, putrinya Pak Kiai Lutfi itu cantik lho Zam.” ”Aku tahu itu Kang. Tapi dia sudah tunangan. Minggu depan dia nikah.” ”Wah berarti bukan rezekimu Zam.” ”Kang Sampeyan tahu tidak jumlah anak Kiai Lutfi. Semuanya berapa?” ”Setahuku cuma dua. Yang pertama laki-laki dan sekarang diambil menantu oleh Kiai Hamzah Magelang. Dan tinggal di Magelang. Yang kedua ya yang kuliah di Cairo itu.” Edited by : Bo178 Bon-q97 Pukul setengah delapan malam, truk itu sampai di Pasar Tegalgondo. Kang Paimo belok kiri ke arah Janti. Kang Paimo lalu tancap gas. Jalan sepi. Di depan tampak sebuah mobil sedan. Azzam kenal dengan mobil itu. ”Pelan Kang. Kalau tidak salah itu mobilnya Anna, putri Kiai Lutfi.” Kata Azzam. Kang Paimo agak teliti melihat ke depan. Truk itu berjalan hanya sepuluh meter di belakang sedan. Sangat jelas sekali sedan itu Toyota Vios. ”Yang mengendarai kelihatannya perempuan berjilbab Zam.” ”Aku yakin itu Anna, Kang.” Sedan itu sampai di pertigaan Polanharjo ambil kiri. Truk terus mengikuti. Sedan Vios itu terus berjalan sampai di pertigaan lagi, ambil kiri. Dan truk itu juga mengikuti. Masuk di perkampungan desa Wangen. Hati Azzam entah kenapa berdesir, jantungnya berdegup lebih kencang. Sedan itu masuk gerbang pesantren. Truk juga masuk. Truk parkir tak jauh dari sedan. Pengemudi sedan keluar. Perempuan tinggi semampai berjilbab biru muda. Azzam terperanjat. Ia seperti melihat gadis yang ia tolong di Cairo. Perempuan itu menoleh ke arah truk. Dalam terang cahaya lampu truk tampak benar pesona kecantikannya. Perempuan itu memang Anna Althafunnisa. Azzam turun, lalu dengan hati bergetar melangkah ke arah Anna. Putri Kiai Lutfi itu terhenyak melihat siapa yang datang. ”Assalamu’alaikum, maaf saya mau mengantar buku buku dari Cairo yang dikirim lewat kontainer Pak Amrun.” Kata Azzam pada Anna. Edited by : Bo179 Bon-q97 ”Wa... wa... wa’alaikum salam. Oh ya Mas Azzam. Turunkan saja di rumah.” Anna agak gugup dan tidak percaya kalau yang mengantar buku-bukunya adalah Azzam. Anna bergegas masuk rumah. Ia membuka pintu ruang tamu selebarlebarnya. Anna lalu bergegas ke masjid memberi tahu ayahnya yang saat itu sedang membacakan kitab Fathul Wahhab pada para pengurus dan santri senior. Azzam membantu Kang Paimo dan Si Kamdun menurunkan karduskardus berisi buku dan meletakkannya di ruang tamu kediaman Kiai Lutfi. Anna dan Kiai Lutfi sampai di samping truk. Mereka berdua melihat kesibukan tiga orang itu. Anna mengamati Azzam dengan seksama. Ada rasa kagum bercampur heran masuk dalam hatinya. Kagum ada pemuda yang ulet dan pekerja keras seperti Azzam. Pemuda yang tidak malu untuk mengangkat kardus-kardus seperti itu demi ibu dan adik adiknya. Dan heran, Azzam sama sekali tidak canggung menyatu bersama dengan kedua orang temannya, yang ia pastikan adalah seorang sopir dan kernetnya. Begitu melihat Pak Kiai Lutfi, Azzam menurunkan kardusnya lalu beranjak menjabat dan mencium tangan ayahanda Anna itu. Apa yang dilakukan Azzam diikuti dua temannya. ”Azzam ya?” Sapa Pak Kiai. ”Inggih Pak Kiai.” ”Aku sudah tahu banyak tentangmu. Ayo kita masuk dulu. Kita duduk dan ngobrol-ngobrol dulu.” ”Maaf Pak Kiai, ini biar kami selesaikan dulu.” ”Oh ya. Saya tunggu di ruang tamu sana ya?” ”Baik Pak Kiai.” Edited by : Bo180 Bon-q97 Kiai Lutfi dan Anna masuk rumah. Pak Kiai menghitung jumlah kardus yang telah dimasukkan ke ruang tamu. Sementara Anna ke dapur membuat minuman dan mencari makanan yang bisa dikeluarkan. Tak lama kemudian seluruh kardus milik Anna selesai diturunkan. Keringat Azzam berkucuran, demikian juga dua temannya. Mereka duduk-duduk di beranda. ”Ayo Zam, masuk! Ajak teman-temanmu itu masuk!” Perintah Pak Kiai. ”Kami masih keringatan Pak Kiai.” Jawab Azzam pelan. ”Tidak apa-apa ayo, jangan duduk di situ. Ini sudah ada tempat duduk. Nanti AC-nya aku hidupkan biar sejuk.” Desak Pak Kiai. ”Baik Pak Kiai.” Azzam dan kedua temannya masuk. Azzam membuka topinya. Rambut dan wajahnya tampak sedikit kusut dan awut-awutan. ”Sudah dari mana saja Zam?” Tanya Pak Kiai. Azzam lalu menceritakan perjalanannya. Sejak berangkat sampai ke Jakarta. Lalu ke Tegal, Purwokerto, Cilacap dan Jogja. Pak Kiai Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. ”Terus setelah dari sini mau ke mana lagi Zam?” ”Wah masih banyak lagi Pak Kiai. Perjalanannya masih panjang. Yang kami tempuh baru sepertiga perjalanan. Ada tiga puluh satu alamat. Kami baru mengantarkan di sebelas alamat termasuk sini. Jadi masih ada dua puluh alamat lagi.” ”Yang sudah mana saja?” Tanya Pak Kiai lagi. Edited by : Bo181 Bon-q97 ”Tegal dua. Purwokerto tiga. Cilacap dua. Jogja tiga. Dan Klaten, sini, satu.” Jawab Azzam, ”Dan yang belum tersebar di Sragen, Ngawi, Madiun, Jombang, Surabaya, Tuban, Rembang, Kudus, dan Kendal Pak Kiai.” Lanjut Azzam menjelaskan rute yang akan ditempuhnya sekalian. ”Wah kau hampir keliling seluruh Jawa Zam.” ”Begitulah Pak Kiai, demi mengais rezeki Allah.” ”Semoga Allah memberkahi.” Anna keluar membawa nampan berisi empat gelas minuman segar berwarna kuning. Gadis itu meletakkan gelas ke meja satu per satu dengan hati-hati. Azzam menunduk, tapi kedua matanya tidak bisa untuk tidak memperhatikan jari-jari Anna mengambil dan meletakkan gelas. Jari-jari itu putih bersih dan lancip. Jari-jari yang indah. Azzam beristighfar dalam hati, ia merasa telah melakukan dosa dengan menikmati keindahan jari-jari lentik itu. Anna kembali masuk ke belakang. ”Silakan diminum Nak Azzam. Kalau tidak salah ini sirup Markisa asli Brastagi Medan. Kemarin yang membawa kakaknya Anna yang di Magelang. Dia kan pergi ke Medan mengunjungi adik isterinya yang kuliah di USU. Pulang bawa sirup Markisa ini. Segar lho. Ayo!” Azzam, Kang Paimo, dan Si Kamdun mengambil gelas yang ada di hadapannya dan meminumnya. Minuman itu dingin. Mereka yang kehausan dan kegerahan sangat merasakan kenikmatannya. ”Oh ya ngomong-ngomong kalian sudah makan belum?” Tanya Pak Kiai Lutfi. ”Mm... mm...” Azzam merasa kikuk mau menjawab. Edited by : Bo182 Bon-q97 ”Aku tahu kalian belum makan. Paling terakhir kalian makan tadi siang. Kalau tidak di Jogja mungkin di Kebumen.” Azzam diam. Pak Kiai Lutfi bisa menebak kekikukannya. ”Nduk, Anna! Siapkan makan yang enak!” Seru Kiai Lutfi sambil menoleh ke belakang. ”Inggih Bah.” Jawab Anna pelan, tapi jelas sampai ke ruang depan. ”Aduh tidak usah repot-repot Pak Kiai.” Ucap Azzam basa-basi. ”Tidak. Kalian tidak boleh keluar dari rumah ini kecuali sesudah makan. Biar Anna yang menyiapkan. Aku juga ingin tahu seperti apa masakan putriku. Biasanya kan ada khadimah dan Umminya, jadi dia santai, tidak perlu masak. Katanya sih kalau di Cairo masak sendiri. Aku ingin tahu seperti apa yang akan ia hidangkan. Ini kebetulan dua khadimah yang biasanya membantu sedang tidak ada. Yang satu sedang pulang dan yang satunya ikut sama Umminya Anna ke Magelang, ke rumah kakaknya.” Kiai Lutfi menjelaskan dengan santai ceplas-ceplos pada ketiga tamunya. Suara Kiai Lutfi itu agak keras, sehingga terdengar sampai ke belakang. Anna mendengarnya dengan perasaan malu dan tertantang. Malu seolah-olah selama ini ia hanya anak Ummi, tidak berbuat apa-apa. Semua telah disediakan. Meskipun kenyataannya begitu. Tapi hal itu, entah kenapa membuat dirinya malu. Sebab di sana ada Azzam. Dan ia tertantang, ia akan membuktikan pada ayahnya bahwa ia adalah putri ayahnya yang bisa memasak enak. ”Abah belum tahu kalau aku bisa masak nasi goreng ala Pattani Thailand!” Desis Anna dalam hati sambil tersenyum. Ia belajar membuat nasi goreng yang unik itu dari Jamilah, gadis asli Pattani saat masih di Alexandria. Tadi sore ia melihat di nasi rice cooker masih penuh dan kulkas ada bahan yang lengkap untuk masak nasi Edited by : Bo183 Bon-q97 goreng ala Pattani. Ia memang sudah merencanakan membuat nasi goreng untuk dirinya sendiri malam ini. Lima belas menit kemudian Anna keluar dengan membawa hasil masakannya. Anna mengeluarkan tiga piring yang isinya tampak sebagai telur dadar berbentuk segi empat. Kiai Lutfi mengernyitkan keningnya. ”Silakan Mas Azzam!” Anna mempersilakan. ”Apa ini Nduk, cuma telur dadar begini?” Ucap Kiai Lutfi. Anna hanya tersenyum dan kembali masuk. Ia tidak menjawab pertanyaan Abahnya. ”Setahu saya ini namanya nasi goreng Pattaya. Nasi goreng khas muslim daerah Pattani di Thailand.” Justru Azzam yang menerangkan. Azzam mengambil piring itu dan menyendok dadar telur persegi empat. Ternyata di dalamnya ada nasi goreng yang ada cacahan daging ayamnya. Pak Kiai Lutfi jadi takjub. ”Nasinya dibungkus telur ya. Kok bisa ya?” Heran Kiai Lutfi. Azzam menyantap dengan lahap. Ia harus mengakui masakan Anna lezat. Ia jadi iri pada Furqan, ia merasa Furqan benar-benar pria paling beruntung di dunia. Anna tidak hanya cerdas, dan berprestasi secara akademik. Gadis itu ternyata juga jago masak. Kang Paimo dan Si Kamdun juga makan dengan lahap. ”Wah, luar biasa. Ini enak betul. Gurih! Dan unik Pak Kiai!” Komentar Kang Paimo sambil mengacungkan jempolnya pada Kiai Lutfi. Kiai Lutfi menelan ludahnya. Ia sangat penasaran pada masakan putrinya itu. Kenapa cuma tiga piring? Ia malu mau minta pada putrinya. Sementara Anna tersenyum di belakang, mendengar Edited by : Bo184 Bon-q97 perkataan-perkataan yang memujinya di depan. Ia sengaja membiarkan Abahnya melihat tamunya makan. Ia sedikit ingin ’mencandai’ ayahnya. Ketika ia yakin ayahnya berada di puncak penasaran dan nafsu makannya, ia keluarkan bagian untuk Abahnya. ”Lha yang ini untuk Abah! Ini namanya nasi goreng Pattaya Bah!” Kata Anna pelan sambil tersenyum. Abahnya tersenyum lalu mencicipi nasi goreng bikinan putrinya. Ia masih penasaran, bagaimana meletakkan nasi dalam balutan telur dadar ini. Ini memang baru kali pertama ia menemukan penyajian masakan seperti itu. ”Ini cara memasukkan nasinya bagaimana ya Zam?” Tanya Kiai Lutfi. Azzam tersenyum. Azzam mau menjawab, tapi sebelum ia menjawab dari dalam suara Anna terdengar menyahut, ”Nanti Anna ajarin cara membuatnya Bah!” Kiai Lutfi tersenyum. Malam itu putrinya membuat kejutan untuknya. Selesai makan Azzam dan kedua temannya berpamitan pada Kiai Lutfi. Azzam dan dua temannya turun ke halaman. Kiai Lutfi mengikuti di belakang. Malam terang. Bulan perak sebesar semangka seperti bertengger di langit, di kelilingi bintang-bintang. Azzam melangkah tenang. ”Nak Azzam.” Kiai Lutfi memanggil. Azzam menghentikan langkah. Anna memperhatikan dari beranda dengan seksama. ”Iya Pak Kiai.” Edited by : Bo185 Bon-q97 ”Kalau ada waktu senggang sering mampir ke sini ya? Itu anak-anak santri perlu mendengar banyak hal dari orang yang punya pengalaman lebih sepertimu.” ”Aduh saya ini juga masih bodoh Pak Kiai. Mohon doa restunya.” ”Benar ya sering datang?” ”Insya Allah.” ”Oh ya satu lagi. Rabu depan kamu sudah selesai kan mengantarkan buku-bukumu itu?” ”Insya Allah.” ”Datang ke sini ya. Pengajian Al Hikam. Untuk umum. Biar kamu serawung dengan banyak orang. Biar nanti dengan silaturrahmi tambah jaringan dan koneksi. Di antara yang ngaji itu banyak juga lho pebisnis-pebisnis muda Solo dan Klaten.” ”Iya Insya Allah.” ”Terakhir.” ”Jangan lupa hari Jumat datang. Itu hari pernikahan Anna.” ”Insya Allah.” ”Ingat semua insya Allah yang kamu ucapkan itu aku tagih lho.” ”Doanya bisa memenuhi Pak Kiai.” Cahaya bulan menerangi halaman. Rumput-rumput Jepang di selasela paving tampak hijau keperakan. Angin malam mengalir pelan. Azzam naik truk dengan mengucap salam. Truk yang dinaiki Azzam menderu dan hilang dari pandangan. Kiai Lutfi mengambil nafas panjang. Kiai Lutfi naik ke beranda. Anna Edited by : Bo186 Bon-q97 masih berdiri di sana. Lalu sambil berjalan masuk rumah ia berkata pada putrinya, ”Abah suka dan kagum pada pemuda itu. Sayang baru tahu dan bertemu sekarang.” Ada rasa dingin masuk dalam relung-relung hati Anna. ”Jujur, pemuda seperti Azzam itu kalau boleh Abah berterus terang adalah pemuda yang jadi idaman Abah. Sayang baru bertemu sekarang. Jika Abah masih punya anak putri pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Abah tahu tentang perjuangannya membesarkan adik-adiknya. Dia sungguh pemuda luar biasa!” Ada gemuruh cemburu luar biasa dalam hati Anna. Lalu perasaan sedih perlahan menyusup ke dalam hatinya. Mata Anna basah mendengar perkataan Abahnya. Ingin rasanya ia katakan pada Abahnya, bahwa Azzam itulah ternyata pemuda yang dulu menolongnya. Pemuda yang menundukkan pandangannya dan mengatakan namanya Abdullah. Azzam itulah juga pemuda yang dulu sangat mengesan di hatinya. Bukan hanya dulu, bahkan sampai sekarang. Tapi takdir telah memilihkannya jalan. Furqanlah jalannya. Anna masuk kamarnya. Dan di kamarnya ia menangis. Kata-kata Abahnya terus terngiang-ngiang dalam hatinya, ”Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Di jalan Kang Paimo dan Si Kamdun tiada henti hentinya memuji Anna Althafunnisa. Mereka juga tiada henti-hentinya memuji keramahan Pak Kiai Lutfi. Edited by : Bo187 Bon-q97 ”Aku tidak mengira Pak Kiai ternyata ramah sekali dan bisa sangat cair dengan tamunya. Selama ini kalau aku ikut pengajian Al Hikam beliau kan tampak berwibawa sekali.” Kata Kang Paimo. ”Tapi kukira ini semua karena berkahnya Azzam. Kalau tidak bareng Azzam mungkin lain ceritanya. Karena bareng Azzam kita dapat mencicipi masakan putrinya Pak Kiai segala. Tidak sembarang orang lho bisa mendapatkan kemuliaan seperti ini. Memang berkumpul dengan orang baik seperti Azzam ini banyak berkahnya. Seringseringlah kau ajak kami ya Zam kalau ada acara apa saja, atau kalau jalan ke mana begitu. Biar kami kecipratan berkahnya.” Sahut Si Kamdun. ”Ah kamu ini ada-ada saja Dun. Ini semua karena berkah silaturrahmi. Begitu saja.” Azzam meluruskan. Truk itu melaju kencang ke Solo. Ketika masuk perbatasan Kartasura Kang Paimo bertanya, ”Mau pulang dulu tidak Zam?” Azzam menggelengkan kepala. ”Kenapa?” ”Nanti malah tidak selesai-selesai. Kalau saya pulang dulu pasti saya akan ditahan ibu dan adik-adik saya. Baru boleh berangkat lagi besok pagi. Itu pun pasti agak siang jika sudah sarapan. Sudah lurus saja. Jika belum saatnya pulang ya tidak usah pulang!” Tegas Azzam. ”Wah kau bakat jadi pemimpin besar Zam. Kau punya disiplin yang bisa diandalkan!” Sahut Kang Paimo. Truk itu terus melaju melewati Solo, lalu ke Sragen. Sampai di Sragen pukul sebelas malam. Kemudian melanjutkan perjalanan dan mengantarkan buku-buku itu ke Ngawi, Madiun, Jombang, Surabaya, Tuban, Rembang, Kudus, dan Kendal. Edited by : Bo188 Bon-q97 Azzam dan kedua temannya pulang kembali ke rumahnya di Sraten, Kartasura, dua hari setelahnya. Azzam memasuki rumahnya dini hari jam empat. Ia disambut ibu dan kedua adiknya dengan penuh cinta dan kerinduan. Husna langsung menyiapkan air hangat untuk mandi kakaknya. Melalui perjalanan mengantar buku-buku itu Azzam banyak belajar dan mengambil pelajaran. Azzam juga sudah benar-benar bisa mengendarai truk itu karena mengantarkan buku-buku. Dalam perjalanan dari Sragen dan Ngawi Kang Paimo kelelahan, dan Si Kamdun tak kuasa menahan kantuk. Kang Paimo memaksa Azzam untuk mengemudikan. Pertama ia mengemudikan dengan pelan. Lama-lama tambah kecepatan. Dan akhirnya bisa mengemudikan truk itu dengan baik dari Sragen bahkan sampai Madiun. Ia jadi banyak belajar dari jalan. Edited by : Bo189 Bon-q97 11 UJIAN TAK TERDUGA Azzam meminjam sepeda motor butut milik Husna. Ia harus shalat Ashar di Wangen. Ia telah berjanji pada Kiai Lutfi bahwa dirinya akan ikut pengajian Al Hikam. Ia tidak mau mengingkari janji yang telah terlanjur ia ucapkan. Meskipun saat itu lelah dari tubuhnya belum benar-benar pulih. Ia pacu sepeda motor tua itu sekuat-kuatnya. Tapi lajunya maksimal tetap enam puluh kilometer perjam. Menjelang sampai Polanharjo ia melihat sawah yang terhampar. Sejenak ia hentikan motornya. Sudah lama ia tidak menikmati pemandangan sawah seperti itu. Di kejauhan ia melihat orang-orang sedang bekerja. Mereka mencangkul bergelut dengan lumpur. Dari jauh mereka kelihatan seumpama kayu hidup, tak berbaju. Terik matahari memanggang mereka. Tubuh mereka hitam dan berkilauan karena keringat. Keringat mereka merembes dari setiap pori-pori lalu jatuh dan jadi pupuk penyubur padi yang kelak mereka tanam. ”Mereka para Edited by : Bo190 Bon-q97 pahlawan, karena keringat merekalah jutaan orang bisa makan.” Gumam Azzam. Setelah puas menikmati pemandangan yang menggugah itu ia melanjutkan perjalanan. Lima belas menit sebelum ashar Azzam sampai di masjid pesantren. Masyarakat yang hendak mengikuti pengajian Al Hikam telah banyak berdatangan. Azzam melihat di antara yang hadir ada Pak Mahbub, imam masjid di kampungnya. Pak Mahbub tampak sedang asyik berbincang dengan seorang kakek berbaju hitam. Azzam tidak ingin mengganggu keasyikan mereka. Ia lalu melihat Kiai Lutfi berjalan dari rumah ke masjid. Kiai itu berbincang dengan seorang santri. Lalu mengitarkan pandangannya ke arah jamaah yang ada di dalam masjid. Azzam terus memperhatikan gerak gerik Kiai itu. Dan saat kedua matanya dan kedua mata Kiai Lutfi bertemu, ulama kharismatik itu tersenyum padanya. Ia kaget ketika Kiai Lutfi berjalan ke arahnya. ”Kau memenuhi janjimu Zam?” ”Janji memang harus dipenuhi Pak Kiai.” ”Kebetulan kau datang. Aku mau minta tolong, tapi maaf mendadak.” ”Apa itu Pak Kiai.” ”Sepuluh menit yang lalu aku dapat kabar Kiai Rosyad Teras Boyolali wafat. Dia kakak kelasku di Sarang. Aku harus ke sana. Sebab mau dikubur bakda ashar ini juga. Lha ini kok kebetulan Si Hamid yang biasa jadi badal sedang di Jogja. Kasihan kalau pengajian diliburkan. Aku minta kamu yang menggantikan ya.” Edited by : Bo191 Bon-q97 Mendengar kalimat terakhir Kiai Lutfi Azzam bagai disambar petir. Ia sama sekali tidak siap dan tidak menduga hal ini akan menimpanya. Seketika keringat dingin keluar dari pori-porinya. ”Menggantikan Pak Kiai menjelaskan isi Al Hikam?”Tanya Azzam. ”Iya.” ”Aduh Pak Kiai saya tidak bisa. Sungguh!” ”Kamu jangan terlalu merendah. Alumni Al Azhar pasti bisa.” ”Tapi saya datang untuk belajar Pak Kiai.” ”Ini juga belajar.” ”Saya tidak bawa kitabnya Pak Kiai.” ”Pakai kitabku.” ”Sungguh Pak Kiai, jangan saya!” ”Tak ada yang lain. Kalau kamu tidak mau namanya menyembunyikan ilmu.” ”Jujur Pak Kiai, saya tidak siap.” ”Sudah, kamu jangan mbulet-mbulet. Ayo ikut aku mengambil kitab. Aku jelaskan sampai di mana. Ayo Nak!” Dengan hati bergetar Azzam bangkit mengikuti Kiai Lutfi. Saat berpapasan dengan beberapa santri, tampak para santri memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. Ia tidak memakai sarung lazimnya para santri. Tapi ia pakai celana. Untungnya ia Edited by : Bo192 Bon-q97 memakai baju panjang dan kopiah putih. Jadi masih tidak terlalu menarik perhatian. Kiai Lutfi memintanya duduk di kursi yang ada di beranda. Kiai Lutfi lalu masuk untuk mengambil kitabnya. Di ruang tengah Kiai Lutfi bertemu Anna. ”Jadi ke Boyolali Bah?” ”Iya.” ”Yang mengajar ngaji Al Hikam siapa?” ”Tadi rencananya Si Hamid seperti biasa. Tapi ia ternyata pergi ke Jogja. Tapi alhamdulillah ada pengganti lain yang semoga lebih baik.” ”Siapa Bah?” ”Azzam.” ”Azzam siapa?” ”Siapa lagi kalau bukan temanmu itu. Yang ngantar kitab ke sini.” ”Dia? Dia ada di sini?” ”Iya mau ikut pengajian. Untung Abah lihat, jadi kupaksa saja dia.” ”Abah ini, itu namanya zalim Bah! Kasihan dia, kalau tidak siap bagaimana?” ”Abah tidak zalim insya Allah. Ini akan jadi pelajaran penting bagi dia insya Allah. Dia akan sadar kalau alumni Timur Tengah itu harus siap mengabdi pada ummat kapan saja. Harus selalu siap.” Edited by : Bo193 Bon-q97 ”Terserah Abah lah.” Kiai Lutfi mengambil kitab Al Hikamnya. Lalu memberi tahu Azzam di halaman berapa Azzam harus membacakan. Kitab itu sudah ada di tangan Azzam. Pemuda kurus itu menerima dengan dada panas dingin. Ia tidak tahu apa nanti yang akan ia sampaikan pada sekitar tujuh ratus orang yang sore itu telah datang untuk mengambil cahaya dari Al Hikam. ”Tenang nanti begitu selesai shalat ashar aku akan memberi sedikit pengantar memperkenalkan kamu pada jamaah. Kamu langsung naik mimbar menguraikan Al Hikam.” Kata Kiai Lutfi. Kaki Azzam terasa begitu berat untuk melangkah. Baginya ini adalah ujian yang lebih menegangkan dari ujian di Al Azhar. Azan ashar dikumandangkan. Jantung Azzam berdegup kencang. Ia menenangkan diri dengan mengambil air wudhu meskipun ia masih punya wudhu. Azzam shalat sunnah qabliyah. Dalam sujud Azzam memohon pertolongan kepada Allah. Selesai shalat sunnah Azzam membaca bab yang harus ia jelaskan nanti. Tak lama kemudian iqamat dikumandangkan. Kiai Lutfi maju ke depan. Dengan sangat teliti ia menata barisan. Masjid itu penuh oleh santri dan masyarakat umum. Takbiratul ihram menggema sampai ke relung relung jiwa seluruh makmum. Azzam shalat dengan hati bergetar. Selesai shalat ashar setelah istighfar Kiai Lutfi langsung naik ke mimbar, ”Assalamu’alaikum wr. wb. Jamaah sekalian, bapak bapak dan ibu-ibu yang mulia. Sore ini Kiai Rosyad, seorang ulama dari Boyolali dipanggil Allah. Inna lillahi wa inna ilahi raaji’un. Mohon maaf, saya harus takziyah ke sana. Pengajian Al Hikam insya Allah akan digantikan oleh Ustadz Khairul Azzam. Ustadz muda yang baru Edited by : Bo194 Bon-q97 pulang dari Mesir. Sebelum pengajian mari kita shalat ghaib dahulu bersama. Menshalati jenazah Kiai Rosyad rahimahullah Ta’ala.” Kiai Lutfi kembali ke pengimaman untuk memimpin shalat ghaib. Setelah shalat beliau langsung keluar masjid dan masuk ke mobilnya meluncur ke Boyolali. Beberapa jamaah mengikuti Pak Kiai takziyah. Namun 99 persen jamaah tetap khidmat di dalam masjid. Di lantai atas, Anna dan Bu Nyai Nur juga duduk khidmat. Anna sangat penasaran apa yang akan disampaikan oleh kakaknya Husna. Hatinya khawatir Azzam akan mengecewakan jamaah. Bukan karena tidak bisa menyampaikan, tapi karena tidak ada persiapan sama sekali. Ia tahu ayahnya suka main todong saja. Kalau ia yang ditodong seperti Azzam pasti akan ia tolak mentah mentah. Bahkan pada orang yang menodong seenaknya seperti itu ia pasti akan marah. Azzam naik ke mimbar. Dari lantai dua Anna memperhatikan. Azzam tidak tahu kalau putri Kiai Lutfi itu memperhatikannya. Kalau tahu bisa kacau suasana hatinya. Azzam membuka dengan salam, lalu mengajak para jamaah membuka pengajian dengan bacaan Al Fatihah bersama. Hati Azzam bergetar ketika lantunan fatihah menggema begitu dahsyat. Dilantunkan bersama oleh ratusan orang di rumah Allah yang mulia. Kemudian Azzam membaca hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah. Ia telah menguasai keadaan. Barulah Azzam berkata dengan suara yang tenang dalam bahasa Jawa yang halus, ”Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, jujur, saya ini sebenarnya juga masih bodoh. Maka saya datang ke pesantren ini untuk mengaji. Jujur, saya datang untuk mengaji, untuk menimba ilmu. Bukan untuk mengajar. Bukan untuk membacakan kitab. Tapi Romo Kiai Haji Lutfi Hakim memaksa saya untuk naik ke mimbar ini. Saya tidak Edited by : Bo195 Bon-q97 bisa berkutik apa-apa kecuali menjalankan titah Pak Kiai. Sebab saya ini santri. ”Jamaah yang mulia, anggap saja saya ini sedang latihan. Jadi kalau nanti banyak khilaf mohon dimaafkan. Maklum masih bodoh dan sedang latihan. ”Baiklah jamaah yang mulia. Kita akan lanjutkan apa yang sebelumnya telah dibacakan oleh Romo Kiai Lutfi. Terakhir kita sampai pada kalimat hikmah yang ditulis Ibnu Athaillah As Sakandari: Man atsbata li nafsihi tawadhuan fahuwa al mutakabbiru haqqanl Yaitu siapa yang yakin bahwa dirinya merasa tawadhu’ maka berarti dia benar benar telah takabbur. Tentu Romo Kiai telah menjelaskan panjang lebar masalah itu.” Kalimat-kalimat yang disampaikan Azzam itu terasa ringan masuk kalbu para jamaah. Anna yang ada di atas mulai yakin Azzam akan menyelesaikan tugasnya dengan baik. Anna tidak ingin Azzam gagal dalam menyampaikan isi hikmah Ibnu Athaillah As Sakandari pada ratusan jamaah tetap pengajian Al Hikam. Anna mendengar Azzam melanjutkan pengajiannya: ”Kali ini kita hayati bersama kalimat Ibnu Athaillah yang berbunyi: ’Laisa al Mutawadhi’u al-ladzi idza tawadha’a ra’a annahu fauqa ma shana’...’ Artinya, bukanlah orang yang tawadhu’ atau merendahkan diri, seorang yang jika merendahkan diri merasa dirinya di atas yang dilakukannya. Misalnya, contoh sederhananya ada orang merasa tawadhu’ dengan duduk di belakang suatu majelis, tapi pada saat yang sama ia merasa tempat yang pantas bagi dirinya adalah di atas itu yaitu duduk di bagian depan majelis itu. Maka orang seperti ini menurut Ibnu Athaillah As Sakandari bukanlah orang yang tawadhu’. Bahkan sejatinya orang yang sombong. Edited by : Bo196 Bon-q97 ”Atau misalnya ada orang merasa tawadhu’, merasa telah merendahkan diri dengan datang ke suatu tempat menggunakan sepeda ontel, tapi dia merasa dirinya sebenamya pantas di atas itu yaitu menggunakan motor. Maka orang seperti ini bukan orang yang merendahkan dirinya, tapi orang yang sombong. ”Lantas siapakah orang yang benar-benar tawadhu’? Orang yang benar-benar merendahkan diri? ”Ibnu Athaillah mengatakan di baris selanjutnya: ’Wa lakin al mutawadhi’ idza tawadha’a ra-a annahu duna ma shana’a.’ Artinya, tetapi orang yang benar-benar merendahkan diri adalah orang yang jika merendahkan diri merasa bahwa dirinya masih berada di bawah sesuatu yang dilakukannya. Misalnya, ada orang yang dipaksa duduk di bagian agak depan suatu majelis, ia akhimya duduk di bagian agak depan, tapi ia merasa sesungguhnya dirinya lebih pantas duduk di belakang. Atau misalnya di masyarakat ada orang yang dimuliakan dan dihormati banyak orang, ia selalu merasa dirinya sejatinya belum pantas menerima penghormatan seperti itu. Itulah orang yang tawadhu’.” Azzam berhenti sejenak memandang ke wajah beberapa hadirin. Di lantai dua tanpa sepengetahuan Azzam, Anna menyimak semua kalimat Azzam dengan seksama. Azzam merasa beruntung bahwa bagian kitab Al Hikam yang ia jelaskan ini pernah ia dapatkan penjelasannya dari Imam Muda bernama Adil Ramadhan. Dia adalah imam di masjid tak jauh dari apartemennya di Cairo. Imam muda itu sebenamya adalah kakak kelasnya di Fakultas Ushuluddin, dan usianya sama dengannya. Adil Ramadhan lulus S.1. dengan predikat terbaik di angkatannya, dan sekarang sudah diangkat sebagai asisten dosen di Universitas Al Azhar. Azzam merasa beruntung bahwa ia telah mengkhatamkan Al Hikam dibimbing oleh Imam Adil Ramadhan. Edited by : Bo197 Bon-q97 Azzam menambah penjelasannya, ”Jamaah yang mulia, tawadhu’ adalah sifat orang-orang mulia. Tawadhu’ adalah sifat para nabi dan rasul. Kebalikan dari tawadhu’ adalah takabbur, sombong. Ulama sepakat bahwa takabbur itu diharamkan dalam Islam! ”Sombong adalah sifat milik Allah saja, yang berhak memiliki hanya Allah. Tidak boleh ada satu makhluk pun yang menyaingi Allah dalam hal ini. Siapa yang menyaingi Allah dan merasa berhak memiliki sifat takabbur maka dia berarti merasa menjadi Tuhan manusia. Orang yang seperti ini pasti mendapat murka dari Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah ber firman, ’Sombong adalah selendangKu, dan agung adalah pakaian-Ku. Siapa yang menyaingiKu dalam salah satu dari keduanya maka akan Aku lempar dia ke dalam neraka Jahannam.’17 ”Karena rasa sayang dan cinta Allah memerintahkan Rasulullah Saw. untuk tawadhu’. Lalu karena rasa sayang dan cinta juga Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk tawadhu’. Rasulullah bersabda, ’Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan aku agar tawadhu’, jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain, jangan sampai ada yang congkak pada orang lain.’18 ”Rasululah adalah teladan bagi orang berakhlak mulia. Beliau makhluk Allah paling mulia namun juga orang paling tawadhu’ dalam sejarah ummat manusia. Sejak muda Rasululah selalu merendahkan dirinya. ”Contoh yang menggetarkan jiwa kita, adalah beliau sama sekali tidak risih menjadi penggembala kambing. Dengan menggembala kambing beliau tidak hanya merendahkan diri pada manusia juga pada binatang. 17 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, dan Muslim 18 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah dan Abu Daud Edited by : Bo198 Bon-q97 mjbookmaker by http://jowo.jw.lt Beliau tidak canggung hidup di tengah-tengah kambing yang bau dan kotor. Beliau menjaga dan melayani kambing dengan penuh kasih sayang. Jika ada kambing yang melahirkan beliau membantu persalinannya. Tidak ada jarak antara beliau dengan kambing yang digembalakannya. Rasulullah tawadhu’ tidak hanya pada manusia juga pada binatang ternak yang digembalakannya. ”Contoh sifat tawadhu’ Rasulullah. yang lain adalah beliau masih mau memakan makanan yang jatuh ke tanah. Dapat kita baca dalam Sirah Nabawiyyah bahwa setiap ada makanan jatuh ke tanah, Rasulullah Saw. tidak membiarkannya. Beliau pasti mengambilnya dan membersihkannya. Beliau membuang kotoran seperti debu yang menempel padanya lantas memakannya. Beliau selalu menjilati jarijarinya setelah makan. Beliau tidak merasa risih akan hal itu sama sekali. ”Anas bin Malik ra., pembantu Rasulullah Saw., menjelaskan jika Rasul makan beliau menjilati jari-jarinya tiga kali. Anas meriwayatkan: Rasulullah Saw. bersabda, ’Jika makanan kalian jatuh maka buanglah kotorannya dan makanlah dan jangan meninggalkannya untuk setan!’19 ”Para sahabat nabi juga menghiasi dirinya dengan sifat merendahkan diri. Suatu hari Ali bin Abi Thalib membeli kurma satu dirham dan membawanya dalam selimutnya. Saat itu Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang memimpin ummat Islam seluruh dunia. Ada seorang lelaki melihatnya dan berkata padanya, ’Wahai Amirul Mu’minin, tidakkah kami membawakannya untukmu?’ Ali menjawab dengan merendahkan diri, ’Kepala keluarga lebih berhak membawanya.’20 19 Diriwayatkan oleh Imam Muslim. 20 Al Bidayah wan Nihayah 8/5. Edited by : Bo199 Bon-q97 ”Jamaah yang mulia, sejarah membuktikan hancurnya seseorang juga hancurnya suatu bangsa di antaranya adalah kesombongan dan kecongkakan yang dilestarikan. Seorang ulama menjelaskan hakikat sombong adalah jika seseorang merasa pantas dibesarkan padahal sejatinya tidak pantas. Jika seseorang merasa pantas menempati suatu derajat padahal ia belum pantas. ”Bangsa kita ini akan bisa binasa jika masih banyak orang-orang yang sombong. Bahkan sombong yang telah membudaya. Misalnya, ada seorang yang masuk Fakultas Kedokteran dengan membayar uang yang berjuta-juta rupiah jumlahnya kepada pihak universitas. Ia tetap memaksakan diri masuk Fakultas Kedokteran, ia merasa pantas. Padahal sejatinya ia tidak pantas. Nilainya masih kurang. Tapi ia merasa pantas karena memiliki uang. Kepantasan itu bahkan ia beli dengan uang. Ia tidak hanya sombong. Lebih sombong lagi, ia membiayai kesombongannya itu. Maka yang akan jadi korban selain dirinya sendiri ya bangsa ini. Akan muncul di negeri ini nanti ribuan dokter yang tidak tahu apa-apa. Sehingga malpraktek ada di manamana. ”Ada juga maskapai penerbangan yang sombong. Sebenarnya tidak pantas dan tidak layak terbang. Tapi merasa layak terbang. Merasa layak dibesarkan. Ia mempropagandakan perusahaannya sedemikian menyilaukan. Padahal pesawatnya adalah barang rongsokan. Pilotnya belum lulus jam terbang. Tapi ia sombong. Ia merasa layak terbang. Akibatnya jika demikian kebinasaanlah yang datang berulang-ulang. ”Juga, banyak orang merasa layak jadi pemimpin. Merasa layak jadi negarawan yang mengatur bangsa. Padahal mengatur diri sendiri saja tidak bisa. Mengatur keluarganya saja tidak bisa. Tapi ia merasa layak ditinggikan sebagai pengatur negara. Sesungguhnya yang mendorong itu semua adalah kesombongannya. Maka, jika sudah demikian hukuman dari Allah tinggal ditunggu kapan datangnya.” Edited by : Bo200 Bon-q97 Sore itu Azzam hanya membaca dua baris saja dari kitab Al Hikam. Namun penjelasannya cukup panjang dan mendalam. Bu Nyai Nur tersihir oleh uraian Azzam. Sementara Anna diam-diam semakin kagum pada pemuda itu. Anna kembali ingat perkataan ayahnya. Dan benarlah perkataan Abahnya malam itu: ”Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Begitu turun dari mimbar ratusan jamaah menyalaminya. Para santri berebutan ingin mencium tangannya. Setiap kali mau dicium dengan cepat Azzam menarik tangannya. Ia merasa sangat tidak pantas dicium tangannya. Dosanya masih menggunung dan aib dirinya tak terhitung jumlahnya. Ia yakin jika yang ingin mencium tangannya melihat dosa dan aibnya, pasti akan menjauh darinya, tak akan sudi mencium tangannya. Pak Mahbub ikut menyalaminya dan memeluknya erat-erat dengan mata berkaca-kaca, ”Semoga ilmumu barakah Zam. Aku bangga padamu, Anakku. Aku jadi teringat ayahmu, teman seperjuangan Bapak. Semoga manfaat ilmumu menjadikan ayahmu diangkat derajatnya disisi Allah.” ”Amin. Doanya Pak Mahbub. Dan mohon bimbingannya, saya masih harus banyak belajar.” Lirih Azzam. Seorang bapak-bapak setengah baya dengan batik biru keemasan datang menyalami Azzam dengan menyungging senyum, ”Aku bahagia ada anak muda sepertimu Nak. Pak Kiai Lutfi tidak salah memilihmu. Kalau boleh tahu Nakmas sudah menikah?” Bahasa lelaki itu halus dan santun. ”Belum Bapak.” Edited by : Bo201 Bon-q97 ”Kebetulan kalau begitu. Siapa tahu jodoh. Saya punya anak perempuan masih kuliah. Nama saya Ahmad Jazuli. Ini kartu nama saya. Nakmas boleh dolan bila ada waktu luang.” Azzam menerima kartu nama yang diulurkan bapak itu dengan dada bergetar. Sepulang dari takziyah Kiai Lutfi langsung bertanya pada Bu Nyai, ”Bagaimana Mi tadi pengajiannya?” Kiai Lutfi duduk meletakkan punggungnya di sofa. Di luar senja mulai turun. Sinar matahari yang kekuning kuningan perlahan mulai pudar. Para santri ada yang sibuk mandi, ada yang sudah rapi, ada yang sibuk menata baju bajunya dan memasukkan ke dalam almari. Mendengar pertanyaan itu spontan Bu Nyai Nur menjawab dengan penuh semangat, ”Wah luar biasa Bah! Pemuda itu bahasa Jawanya enak. ”Penjelasannya runtut dan dalam. Cuma dua baris saja dari kitab Al Hikam yang dia bacakan. Tapi penjelasannya masya Allah Bah. Haditsnya ia sampaikan. Seolah-olah dia itu hafal ratusan hadits. Terus contoh-contohnya mulai dari yang kecil-kecil, contoh tawadhu’nya Rasulullah, ada juga contoh Sahabat. Terus itu Bah, bagusnya penjelasannya itu lho, masuk juga untuk keadaan bangsa saat ini. Jujur Bah ya, tapi Abah jangan marah lho!” ”Apa itu Mi?” ”Pertama, penjelasan Azzam dan cara menerangkannya aku lebih suka daripada caranya Abah. Menurutku Abah terlalu membuat tasawuf angker. Terus contoh contoh yang Abah sampaikan seringnya cuma Mbah Kiai ini begini, Mbah Kiai itu begini, Syaikh Edited by : Bo202 Bon-q97 ini begini, Syaikh itu begini. Langsung saja Bah kayak Azzam tadi, langsung induk-induknya yang diambil. Langsung Rasulullah, baru yang lain-lain sampai masuk keadaan sekarang ini.” Anna mendengar perbincangan kedua orang tuanya itu dari dapur. Ia tersenyum Abahnya dikritik Umminya. Dalam hati Anna berkata, ”Bagus Mi, ayo terus kritik Abah. Biar semakin maju dan tercerahkan.” Ia ingin tahu apa jawaban Abahnya. Apakah akan marah dan tinggi hati atau sebaliknya. Kalau marah maka ia akan sarankan kepada Abahnya agar tidak usah membacakan kitab Al Hikam saja. Kalau marah berarti Abahnya sombong. Dan sebaiknya Abahnya belajar tidak sombong baru mengajarkan Al Hikam. ”Iya maklum Mi. Azzam itu kuliah sampai Mesir, lha Abah kan cuma pesantren lokal. Kalau Azzam Ummi lihat lebih baik dari Abah alhamdulillah, Abah bersyukur, akan terus ada penerus perjuangan menegakkan kalimat Allah. Itu kan yang pertama Mi. Yang kedua apa?” Anna tersenyum mendengar jawaban Abahnya. Abahnya sungguh lapang dada. Tapi Anna senyum Anna hilang begitu mendengar perkataan Umminya, ”Maaf Bah, entah kenapa hati Ummi sebenarnya kok cenderung pada pemuda itu setelah tadi mendengarkan uraiannya. Ummi merasa pemuda itu cocok jadi anak Ummi.” ”Maksudmu jadi menantumu.” ”Iya Bah.” ”Sudahlah Mi. Ummi ini panutan. Ummi harus bersyukur atas segala pemberian Allah. Semua manusia ada kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Anna sudah memilih Furqan. Insya Allah itu pilihan Edited by : Bo203 Bon-q97 terbaik. Abah yakin Furqan juga punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh pemuda itu. Jangan mengatakan hal ini sama Anna. Nanti dia malah sedih. Kita harus dukung apa yang dipilih Anna, meskipun kita sebenarnya punya pilihan dan kriteria yang berbeda.” Jawab Kiai Lutfi. Di belakang tanpa mereka ketahui Anna mendengarkan itu semua. Anna berusaha menahan tangisnya. Pelan-pelan ia naik ke lantai atas. Dan masuk ke kamarnya. Di kamar ia kembali menangis. Ia tak kuasa menahan sesak di dalam dada. Edited by : Bo204 Bon-q97 12 PERNIKAHAN Dini hari, kira-kira jam dua, tepat di hari Anna akan melangsungkan akad nikah, Kiai Lutfi bermimpi. Sebuah mimpi yang menakjubkan. Dalam mimpinya itu ia melihat gugusan bintang. Lalu ada bintang paling terang turun dan bersinar di atas mimbar masjid pesantren. Kiai Lutfi melihat beberapa tunas pohon kelapa yang menakjubkan yang tumbuh tepat di halaman pesantren. Lebih menakjubkan lagi dalam mimpinya itu ketika ia ke kamar putrinya ia melihat sorban putih wangi ada di sana. Entah kenapa sepertinya ia yakin sorban putih itu adalah milik Kiai Sulaiman Jaiz, yang tak lain sebenarnya adalah pendiri pesantren Wangen. Kiai Lutfi terbangun dengan rasa takjub masih menyelimutinya. Ia bangunkan Bu Nyai Nur, isterinya. Ibunda Anna Althafunnisa itu membalikkan badan dengan sedikit menggerutu, ”Ada apa Bah. Tidak tahu apa aku masih sangat ngantuk. Tadi aku tidur jam satu. Abah mau besok aku pucat di hari yang paling bersejarah bagi Anna!” Edited by : Bo205 Bon-q97 ”Ummi, tolong sebentar saja. Aku bermimpi sangat menakjubkan! Mimpi baik yang luar biasa indahnya.” Bisik Kiai Lutfi tepat di depan telinga isterinya. Bu Nyai Nur langsung membuka matanya dan bangkit perlahan. Ia dibangunkan oleh rasa penasaran. ”Mimpi apa Bah?” ”Ini mimpi yang paling indah yang pernah aku lihat Mi. Aku bermimpi melihat gugusan bintang. Terus ada bintang yang sangat terang cahaya. Paling terang di antara lainnya. Bintang itu turun dan bersinar di atas mimbar masjid pesantren kita. Tidak hanya itu, aku juga melihat beberapa tunas pohon kelapa yang menakjubkan yang tumbuh tepat di halaman pesantren. Dan lagi aku menemukan sorban Kiai Sulaiman Jaiz yang sangat wangi di kamar Anna. Apa ya Mi takwilnya?” ”Pasti baik Bah.” Jawab Bu Nyai Nur mantap. ”Ya tapi kira-kira apa ya?” ”Menurutku itu petunjuk baik Bah. Petunjuk penting di hari pernikahan Anna. Bintang itu menurutku adalah Furqan. Karena ia nanti yang akan menggantikan Abah. Dialah bintang di mimbar itu. Lalu tunas-tunas pohon kelapa itu adalah anak-anak hasil pernikahan mereka. Dan sorban itu, bisa jadi menunjukkan kepada kita Furqan mungkin ada pertalian darah dengan Kiai Sulaiman Jaiz. Tapi ya Allahu a’lam Bah. Namanya juga takwil. Yang penting kita takwilkan yang baik-baik saja.” ”Kurasa takwilmu sangat masuk akal Mi. Wah ini sangat membahagiakan. Anna harus diberi tahu biar dia semakin bahagia.” ”Kita bangunkan dia sekarang?” ”Tidak usah. Nanti selepas shalat subuh kita beri tahu dia.” Edited by : Bo206 Bon-q97 Dan benar, selesai shalat subuh Kiai Lutfi dan Bu Nyai Nur memberitahukan mimpi itu kepada Anna. Bu Nyai Nur berkata, ”Aku yakin kau akan bahagia Nduk.” ”Amin.” Sahut Anna dengan hati berbunga-bunga. Ia semakin mantap menghadapi detik-detik bersejarah yang tinggal beberapa jam saja akan dilaluinya. Hari itu Pesantren Daarul Quran Wangen lain dari biasanya. Gerbang pesanten dihiasi janur melengkung. Di sepanjang jalan dari pertigaan Polanharjo sampai pesantren dipasang umbul-umbul berwarnawarni. Para santri libur, namun tetap berpakaian rapi. Sebagian besar dari mereka membantu menyiapkan acara bersejarah bagi keluarga besar pesantren itu. Yaitu hari akad nikah dan walimah Anna Althafunnisa. Panggung pengantin disiapkan di halaman rumah menghadap masjid. Panggung itu terasa mewah. Mahligainya bernuansa Islam Andalusia. Sementara tempat untuk tamu undangan juga terasa mewah. Halaman rumah Kiai yang sekaligus halaman masjid itu bagai di sulap dijadikan tempat seperti dalam dongeng seribu satu malam. Yang menggarap dekorasinya adalah para profesional yang didatangkan dari Jakarta. Sejak jam enam pagi Anna sudah bersiap-siap. Jam tepat pukul setengah tujuh ia sudah siap dengan gaun pengantin yang dipesan oleh Ibu Maylaf, ibunya Furqan pada desainer terkenal. Anna tampak begitu segar dan bernas. Pesona jelitanya bagai putri dalam dongeng. Tepat pukul tujuh Furqan dan rombongan datang. Mereka disambut dengan lantunan Thala’al Badru dan irama rebana yang begitu padu. Furqan tampak gagah lalu ia masuk masjid. Edited by : Bo207 Bon-q97 Pagi itu ribuan orang akan menyaksikan akad nikah yang sudah lama terdengar gaungnya. Para santri dan masyarakat sekitar memenuhi masjid. Tetamu undangan yang berbondong-bondong datang pelanpelan memenuhi kursi yang disediakan. Di antara tamu yang hadir adalah Azzam sekeluarga. Ia menyewa mobil yang ia kendarai sendiri untuk datang. Ibunya sangat takjub dengan pesta yang sedemikian megahnya. ”Namanya juga yang punya gawe orang besar Bu. Ya wajar.” Kata Azzam pada ibunya. Ibunya hanya manggut manggut sambil terus melihat ke panggung pengantin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sementara Husna meletakkan kado pada tempatnya. Azzam dan keluarganya memilih tempat yang agak di belakang. Seorang lelaki setengah baya memakai batik cokelat keemasan dengan peci tinggi datang. Serta merta Pak Kiai Lutfi yang melihatnya mempersilakan lelaki itu ke kursi paling depan. ”Itu yang datang adalah Bapak Bupati!” Bisik Husna pada kakaknya. ”Berarti banyak orang penting yang datang?” Gumam Azzam. ”Tentu Kak. Termasuk kakak kan orang penting. Kakak kan artis, teman dekatnya Eliana.” ”Sst! Jangan bahas Eliana lagi ya. Bosan aku mendengarnya.” ”Iya ya Kak. Husna tak akan bahas lagi.” Tamu-tamu terus berdatangan. Azzam melihat arlojinya. Jam delapan kurang lima menit. Ada seorang anak muda tinggi kurus, kulitnya agak hitam, berkoko dan berkopiah putih datang dan memilih duduk di samping Azzam. Edited by : Bo208 Bon-q97 ”Kosong?” Tanya pemuda itu. ”Iya. Silakan duduk!” Jawab Azzam. ”Dari mana Mas? Dari Jakarta?” ”Tidak. Dari dekat sini saja. Saya dari Sraten, Kartasura.” ”Teman pengantin putra atau teman pengantin perempuan?” ”Teman keduanya. Kebetulan adik saya ini akrab dengan pengantin perempuannya.” ”Memang adik Mas kuliah di Mesir juga?” ”Tidak. Di UNS. Katanya kenal saat bedah buku di sini. Dia jadi pembicaranya dan Anna jadi pembandingnya.” ”Sebentar, apa berarti adik Mas ini Ayatul Husna yang cerpenis itu?” ”Iya. Benar.” Husna yang di sampingnya diam mendengarkan. Manusia memang bermacam-macam, pikirnya. Ada juga yang seperti pemuda ini. Baru duduk langsung memberondong dengan banyak pertanyaan. ”Di samping Mas ini ya orangnya?” ”Benar.” ”Sampaikan padanya saya selalu membaca cerpen cerpennya.” ”Sampaikan sendiri saja langsung. Mumpung orangnya ada di sini.” Edited by : Bo209 Bon-q97 ”Saya malu Mas.” ”O ya gantian, kalau Masnya dari mana?” Azzam gantian bertanya. ”Saya juga dari Klaten, tepatnya daerah Pedan.” ”Kerja di mana Mas?” ”Kerja tetap belum punya. Ini kan saya liburan. Ikut bantu mengajar di pesantren Pak Kiai Lutfi ini. Saya masih kuliah Mas.” ”Kuliah di mana kalau boleh tahu? S1 apa S2?” ”Saya sedang mengambil master di Aligarh India. Dulu S1 di Madinah.” ”Masya Allah. Oh ya kok belum tahu nama Mas.” ”Nama saya Muhammad Ilyas.” ”Saya Khairul Azzam. Oh lagi, kalau boleh tahu, di India ada nggak ya kuliah S2 yang langsung menulis tesis begitu?” ”Saya persisnya kurang tahu. Setahu saya ya pasti ada kelasnya. Tapi kalau S2 langsung by research, artinya langsung nulis tesis, di Malaysia ada.” ”Malaysia?” ”Iya. Mas S1 di mana?” ”Di Al Azhar.” ” Wah, orang Mesir rupanya. Minat S2?” Edited by : Bo210 Bon-q97 ”Kalau S2 langsung nulis tesis, saya ada minat. Tapi kalau S2 masih harus masuk kelas seperti biasa, mending saya bisnis saja. Saya sudah malas ujian.” Kata Azzam dengan intonasi sedikit dikuatkan. Husna tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu. Ia tahu jiwa kakaknya. Kakaknya masih ingin melanjutkan kuliah lagi. Itu pasti. ”Ya di Malaysia. Kalau mau saya ada teman yang sekarang kuliah di sana.” ”Boleh.” ”Ini kalau mau dicatat nomor hp saya. Nomor hp Mas?” ”Oya, ini nomor hp saya, via adik saya Husna.” ”Wah nomor cantik ya.” ”Alhamdulillah.” Para tamu terus berdatangan. Dari pengeras suara diumumkan bahwa acara akad nikah sebentar lagi akan dilangsungkan. Tepat jam delapan akad nikah dilangsungkan. Furqan menjawab qabiltu21 dengan lancar tanpa keraguan. Anna yang menyaksikan dan mendengar dari lantai dua masjid meneteskan air mata. Statusnya kini telah berubah. Ia telah resmi menjadi isteri Furqan Andi Hasan, MA. Ia berikrar dalam hati akan mencintai suaminya sedalamdalamnya. Dan akan membaktikan hidupnya untuk suaminya seikhlas-ikhlasnya. Furqan juga menangis. Ia menangis bahagia sekaligus menangis sedih. Bahagia karena ia telah resmi menjadi suami Anna Althafunnisa. Bahagia karena ia telah menyunting gadis yang diidam-idamkannya. 21 Qabiltu: Aku terima. Edited by : Bo211 Bon-q97 Dan bahagia karena ia telah membahagiakan ayah dan ibunya. Namun di saat yang sama ia juga sangat sedih. Sedih karena ia merasa telah membohongi semua. Ia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri. Dan ia telah mengkhianati Anna dan keluarganya. Tidak hanya mereka saja. Namun juga seluruh keluarga besar pesantren Wangen semuanya. Tak jauh dari situ. Meskipun Azzam tersenyum, ada rasa kecewa yang halus menyusup dalam hatinya. Yang berhasil menikahi gadis shalehah itu bukan dirinya, tapi temannya. Akad nikah yang baru dilangsungkan benar benar menjadi benteng yang menghalanginya untuk memiliki gadis itu selamanya. Anna bukan rezekinya. Ia harus mencari yang lain. Meskipun dulu ia pernah menasihati Fadhil ternyata untuk sama sekali tidak kecewa luar biasa susahnya. Tapi Azzam berusaha untuk menepis kekecawaan itu. Azzam menghibur dirinya, dalam hati ia merasa pernikahan Anna dengan Furqan kini membuat dirinya benar-benar merdeka. Dirinya merdeka dari harapan menyunting Anna, meskipun harapan itu tipis. Harapan yang selama ini masih sesekali datang begitu saja ke dalam hatinya tanpa ia pinta. Sekarang harapan itu telah sirna. Dan ia bisa lebih berkonsentrasi untuk meraih cita-citanya yang pernah ia sampaikan sambil bercanda pada Eliana, yaitu: jadi orang paling kaya se-pulau Jawa. Azzam tersenyum. Ada yang lebih dalam rasa kecewanya melebihi Azzam, yaitu Muhammad Ilyas. Yang duduk tepat di samping Azzam. Ilyas yang lamarannya ditolak oleh Anna. Namun hari itu juga, meskipun kecewa, Ilyas merasa sudah merasa menemukan pengganti Anna. Pengganti Anna yang ia yakin secara kualitas tak akan kalah jauh dari Anna. Dalam hati ia sangat bersyukur hadir di acara pernikahan itu, sebab ia telah berkenalan dengan kakaknya Ayatul Husna. Sebenarnya sebelum nekat melamar Anna ia sudah terpesona dengan cerpen-cerpen yang ditulis Ayatul Husna. Dan dalam hati ia juga Edited by : Bo212 Bon-q97 tertarik dengan penulisnya. Ia berharap bahwa gadis itu belum ada yang melamarnya. Selesai akad nikah, pesta walimah langsung digelar. Acara digelar mengikut adat Surakarta. Ada upacara kecil serah terima pengantin. Yang lazimnya adalah pengantin putri diserahkan kepada keluarga pengantin putra. Tapi dalam upacara kali ini dibalik. Yaitu keluarga pengantin putra menyerahkan sang pengantin putra kepada pengantin putri. Lalu dari pengantin putri menerima pengantin putra. Untuk berbicara mewakili keluarga pengantin putra, keluarga Pak Andi Hasan menunjuk KH. Abdul Hadi seorang ulama besar dari Sukoharjo untuk mewakili. Dan dari pihak keluarga KH. Lutfi meminta KH. Salman Al Farisi dari Batur Klaten untuk mewakili. Upacara berlangsung begitu khidmat. Ratusan ulama dan tokoh penting sekabupaten Klaten dan sekitarnya datang memenuhi undangan. Bahkan ada tiga wartawan yang datang. Setelah acara serah terima pengantin. Pengantin putra dan pengantin putri disandingkan. Sebenarnya Anna tidak mau disandingkan seperti itu. Ia tidak mau jadi tontonan. Furqan juga berpendapat yang sama. Tapi Bu Maylaf dan Bu Nyai Nur bersikukuh harus ada panggung untuk pengantin, harus ada pelaminan dan harus dirias dan disandingkan. Anna dan Furqan tidak bisa berkutik. Hal lagi yang Anna tidak sepakat, dalam pesta walimah itu tempat duduk tamu undangan antara pria dan wanita tidak semuanya dipisahkan. Hanya kursi-kursi bagian depan saja yang tampak jelas lelaki dan perempuan terpisah. Sementara yang agak belakang sudah campur tidak karuan. Selama duduk di pelaminan Anna terus menunduk ke bawah. Ia berbuat demikian karena rasa malunya pada banyak orang. Edited by : Bo213 Bon-q97 Di tengah-tengah acara ada taushiyah yang disampaikan oleh KH. A. Mujiburrahim Noor dari Semarang. Kiai muda yang sangat digandrungi kawula muda di Jawa Tengah ini menyampaikan taushiyahnya dengan penuh humor-humor segar. Di tengah-tengah tausiyahnya itu Kiai muda itu mengatakan, ”Kalau boleh saya ingin menyampaikan satu hikmah yang disampaikan oleh Agatha Christie, seorang penulis novel terkenal, pernah mengatakan, ’Suami paling baik bagi seorang perempuan adalah seorang arkeolog. Makin tua sang perempuan itu, makin cinta dan tergila-gila suaminya itu padanya.’ Saya sarankan kepada Mas Furqan untuk berjiwa seorang arkeolog pada Mbak Anna. Jadi semakin lama umur perkawinan akan semakin bahagia. Kenapa? Karena Mas Furqan memandang isterinya semakin bernilai, semakin mahal. Kan menurut arkeolog semakin berumur dan semakin tua barang itu akan semakin antik dan mahal. Demikian juga Mbak Anna saya sarankan untuk berjiwa arkeolog wanita, jadi semakin tua sang suami akan semakin tergilagila dan semakin mencintainya!” Para hadirin yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum bahagia mendengarnya. Nasihat itu sejatinya oleh Kiai Mujib tidak hanya disampaikan kepada pengantin berdua. Tapi juga disampaikan untuk seluruh hadirin, agar semakin mencintai pasangan hidupnya. Acara ditutup dengan doa. Yang dipimpin langsung oleh ayah Anna Althafunnisa, yaitu KH. Lutfi Hakim. Saat doa dibacakan jiwa Anna bergetar. Furqan menangis kepada Allah agar dibukakan jalan bahagianya. Tak jauh dari situ Azzam berdoa semoga Allah menemukan pasangan hidup yang terbaik untuknya. Setelah doa ditutup, hidangan penutup dikeluarkan. Barulah setelah itu para hadirin mohon diri pulang. Azzam sekeluarga menemui Kiai Lutfi dan Bu Nyai. Kiai Lutfi berkata kepada Azzam, ”Aku doakan kau mendapatkan pasangan yang terbaik menurut Allah Nak.” Azzam mengamini pelan. Setelah itu Azzam menemui Furqan. Edited by : Bo214 Bon-q97 Kedua sahabat lama itu berangkulan erat, Azzam mengucapkan, ”Baarakallahu laka wa baaraka ’alaika wajama’a bainakuma fi khair.” Furqan mengamini. Lalu Azzam menelungkupkan kedua tangannya di depan dada di hadapan Anna. Spontan Anna melakukan hal yang sama. ”Terima kasih sudah datang. Juga terima kasih dulu pernah menolong.” Lirih Anna. ”Tak perlu berterima kasih untuk sebuah kewajiban.” Jawab Azzam sambil tersenyum. Ketika Azzam turun dari panggung, Anna sempat mengikutinya dengan ekor matanya sesaat. Ia teringat kata kata Abahnya saat Azzam mengantarkan buku, ”Jika Abah masih punya anak putri, pasti akan Abah pinta Azzam jadi menantu. Abah tak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Dalam hati Anna mengatakan, ”Kaulah sejatinya dambaan Abahku dan juga dambaan diriku.” Anna langsung beristighfar. Ia merasa melakukan kesalahan besar. Sambil menyalami tetamu putri yang minta diri ia terus beristighfar. Ia mencoba menghapus bayangan Azzam dengan mimpi Abahnya semalam. Juga takwil mimpi Umminya. Bahwa bintang itu menurut Umminya adalah Furqan. Karena ia nanti yang akan menggantikan Abah. Dialah bintang di mimbar itu. Dan tunas-tunas pohon kelapa dalam mimpinya Abahnya itu adalah anak anak hasil pernikahannya dengan Furqan. Hari akad nikah itu hari Jumat. Karena waktunya akan diputus shalat Jumat, maka acaranya benar-benar diringkas dan dipercepat. Pulang dari acara pernikahan Anna, Azzam mengajak Husna, Lia dan ibunya keliling kota Solo. Azzam menyewa mobilnya satu hari penuh. Ia merasa harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Edited by : Bo215 Bon-q97 Selain untuk jalan jalan ia bertujuan untuk semakin memperbanyak jam terbang mengemudi, meskipun dengan mobil sewaan. Sejak kepulangan Azzam, Bu Nafis tampak lebih segar dan kesehatannya semakin membaik. Batuknya jauh berkurang. Melihat anaknya bisa mengemudikan mobil Bu Nafis merasa bahagia sekali. Bu Nafis berkata, ”Aku doakan kamu bisa beli mobil Nak. Terus nanti kalau punya isteri bisa kau ajak ke mana-mana dengan mobilmu.” Azzam, Husna dan Lia langsung menyahut, ”Amin.” ”Ngomong-ngomong kakak sudah punya calon belum?” Tanya Husna. ”Katanya calonnya Eliana.” Sahut Lia. ”Kalau Eliana jangan dibahas, dia itu cuma main-main. Kalau ngikutin dia bisa sakit jantung kita!” Tukas Husna. ”Iya Nak, kau sudah ada pandangan?” Tanya Bu Nafis. ”Belum, Bu. Jujur saja ya. Selama ini perempuan yang aku kenal cuma tiga. Bue, Husna dan Lia. Belakangan kenal Eliana dan Anna. Itu saja.” Jawab Azzam. ”Kalau Sarah adik kita?” Sahut Lia. ”Ya kenal. Tapi kakak belum pernah ketemu dia kan. Waktu kakak berangkat dulu kan Sarah masih di kandungan.” ”Kakak sudah ingin nikah?” Ujar Husna ”Lha tentu lah Na. Kakak ini sudah tua. Itu tetangga kita Si Pendi sudah punya anak tiga. Si Pendi itu kan teman SD kakak dulu.” ”Husna punya teman Kak, mau coba Husna temukan dia?” Edited by : Bo216 Bon-q97 ”Boleh saja.” ”Kak Azzam sebenarnya sudah ketemu sama dia.” ”Siapa?” ”Itu Si Rina Jakarta.” ”Itu yang ikut jemput di bandara?” ”Ya. Dia itu baik akhlaknya. Husna jaminannya.” ”Boleh.” ”Wah kalau dia akan sangat cepat prosesnya Kak. Besok pagi menikah juga bisa. Sebab dia sudah bilang ke saya suka sama kakak. Dan kedua orang tuanya juga mengharapkan menantu lulusan Cairo. Kalau begitu besok saya hubungi Rina.” Husna bersemangat. Tapi Bu Nafis tiba-tiba menyela, ”Bue tidak setuju!” Husna menoleh ibunya dengan pandangan heran. ”Kenapa Bu? Rina itu berjilbab dan baik. Dia teman baik Husna.” Pelan Husna. ”Ibu tidak setuju punya menantu Rina!” Tegas Bu Nafis. ”Iya tapi kenapa?” ”Entah ibu tidak tahu. Yang jelas ibu tidak cocok! Rina sudah pernah ke rumah kan? Ibu tidak cocok!” Kata Bu Nafis sengit. Edited by : Bo217 Bon-q97 ”Tenang Bu. Kita nanti akan cari yang ibu cocok.” Kata Azzam meredakan. Azzam tahu persis watak ibunya sekali bilang tidak cocok maka akan sangat sulit dilunakkan hatinya. Bagi Azzam, ibunya tidak cocok dengan Rina ia tak kehilangan apa-apa. Nanti Rina pasti akan ketemu jodohnya. Hanya saja saat ibunya tidak cocok dengan Rina berarti ia harus ikhtiar untuk mencari jodoh yang benar benar cocok baginya dan bagi ibunya. Sebab ia ingin menikahi perempuan yang benar-benar diridhai ibunya. Azzam membawa mobilnya ke Masjid Agung. Ia sudah rindu dengan masjid legendaris di Kota Solo itu. Masjid yang banyak memberikan kenangan indah padanya. Di antaranya dulu waktu masih SD ia pernah menjuarai Lomba Tartil Al Quran tingkat anak-anak seKaresidenan Surakarta yang diadakan oleh MUI Surakarta. Di Masjid Agung itulah ia lomba dan di masjid itulah ia menerima pialanya. Dan itu adalah piala pertama yang ia terima dalam hidupnya. Dengan susah payah akhirnya Azzam bisa memarkir mobilnya di halaman masjid. Karena jam terbangnya belum banyak, ia sampai keringatan saat memarkir mobilnya. Baginya yang belum mahir benar, memarkir mobil adalah kesulitan terbesarnya. Apalagi tempatnya begitu padat. Ia harus ekstra hati-hati. Azan pertama dikumandangkan. Ia memandang masjid kenangan. Masih sama dengan sembilan tahun silam. Sementara ia ke masjid untuk shalat Jumat, Ibu dan dua adiknya melangkah ke Pasar Klewer. Ia sempat berpesan pada Husna, ”Lihat-lihat saja dulu, jangan mengadakan transaksi jual beli dulu ya. Nanti kita belanja setelah kakak selesai shalat Jumat. Okay Dik?” Husna mengangguk paham. Edited by : Bo218 Bon-q97 13 PERTEMUAN DI KLEWER Ada yang mengatakan, bahwa Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Sebagian orang-orang Solo meyakini hal itu. Meskipun orang-orang Jakarta selalu bilang pasar tekstil terbesar adalah Tanah Abang Jakarta. Yang jelas Pasar Klewer sebagai pasar batik dan lurik terbesar di Indonesia hampir tidak ada yang membantahnya. Dan pasar Klewer dikenal sebagai pasar aneka sandang terlengkap di Jawa Tengah juga diakui siapa saja. Pasar Klewer adalah urat nadi perekonomian masyarakat Solo. Terletak tepat di sebelah barat Keraton dan tepat di selatan Masjid Agung. Tiga tempat itu seolah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena letaknya yang sangat strategis Pasar ini tak pernah sepi dari hiruk pikuk pembeli dan pedagang. Bahkan pelancong. Edited by : Bo219 Bon-q97 ”Semakin padat saja ya Na Klewer sekarang?” Kata Azzam pada Husna. Ia sudah berada di sebuah lorong Pasar Klewer. Depan belakang dan kiri kanannya adalah kios pedagang sandangan. Mulai dari pakaian bayi, anak anak, sampai kakek-kakek dan nenek-nenek dijual di situ. Mulai yang murah sampai yang mahal. Mulai batik sampai jeans. Mulai baju pesta sampai baju takwa. Semua ada. ”Sangat padat Kak. Menurut data yang saya ketahui jumlah pedagang resminya saja tak kurang dari 1467 pedagang. Dari pedagang sebanyak itu transaksi yang berjalan tak kurang dari lima sampai enam milyar setiap harinya.” Husna menjelaskan. ”Kau mau beli apa Na?” ”Beli jaket dan jilbab buat Si Sarah Kak. Oh ya kapan ya kita ke Kudus Kak? Dia belum kita beri tahu kalau Kakak sudah pulang.” ”Bagaimana kalau Ahad depan. Kakak akan sewa mobil lagi satu hari.” ”Boleh.” ”Ibu dan Lia mana?” ”Di atas Kak. Ibu lagi milih mukena dan Lia lagi mencari seprai untuk kado pernikahan temannya.” ”Wah kok menikah terus ya di mana-mana.” ”Memang lagi musimnya Kak. Mumpung tidak musim hujan.” ”Ayo kita temui mereka.” ”Ayo.” Edited by : Bo220 Bon-q97 ”O ya kalian sudah shalat zuhur?” ”Sudah. Tadi kita mampir ke kios temannya Lia. Dan kita shalat di sana.” Azzam dan Husna bergegas menemui ibunya. Di sepanjang lorong Azzam banyak menjumpai pedagang kaki lima yang dagangannya memenuhi lorong, sehingga cukup mengganggu para pengunjung, termasuk dirinya. Di lantai dua, di Kios Sumber Rejeki, Azzam menemui ibunya yang sedang memilih-milih kemeja. ”Zam Bue pilihkan kemeja buat kamu.” ”Wah yang mana Bu?” ”Ini. Bue suka warnanya.” ”Kalau Bue suka Azzam juga suka.” ”Coba kau lihat ukurannya.” Azzam mengambil kemeja dari tangan ibunya. Ia melihat ukurannya dan mengukur ke badannya. ”Kurang besar sedikit Bu.” Ujar Azzam pada ibunya. ”Ukuran di atasnya Mbak!” Pinta Bu Nafis pada penjaga kios Sumber Rejeki. Penjaga itu perempuan yang masih sangat muda mungkin masih gadis. Penjaga itu berjilbab sangat rapi dan modis. ”Iya Bu, ini.” Penjaga itu mengulurkan kemeja yang berwarna sama. ”Coba ini Zam.” Azzam melihat dan mengukurkan ke badannya. Edited by : Bo221 Bon-q97 ”Lha kalau ini pas.” ”Ada lagi yang kau inginkan Nak?” ”Sudah Bu.” ”Kalau begitu Bue mau total semua. Berapa semuanya Mbak?” ”Seratus enam puluh lima Bu.” ”Dipaskan saja Mbak?” ”Aduh ibu, tadi kan masing-masing sudah dikorting. Sudah dipaskan. Jujur saya cuma mengambil untung sedikit kok Bu. Kalau dikorting lagi saya dapat apa?” ”Dipaskan seratus lima puluh saja ya Mbak semuanya.” Aduh nyuwun sewu sanget22 Bu, tidak bisa.” Azzam menengahi, ”Sudahlah Bu, dibayar saja. Rasulullah itu suka pada penjual yang mempermudah dan juga suka pada pembeli yang mempermudah. Sudah dibayar saja semoga barakah.” Perkataan Azzam didengar sang penjaga. Spontan ia berkata, ”Baik untuk ibu saya diskon lagi lima ribu. Jadi seratus enam puluh Bu.” ”Baik. Terima kasih ya Mbak.” ”Sama-sama Bu.” Sebelum meninggalkan kios itu ketika Husna, Azzam dan Bu Nafis sudah berjalan, Lia iseng bertanya pada penjaga kios itu, ”Eh maaf Mbak, Mbak sudah menikah belum?” 22 Mohon maaf sekali Edited by : Bo222 Bon-q97 ”Kenapa memangnya?” Jawab Mbak itu. ”Cuma mau nanya aja. Penampilan Mbak menarik sih.” ”Kebetulan saya belum menikah. Kalau Mbak?” ”Sama. Saya juga belum.” Jawab Lia. ”Eh, itu kakakmu ya?” ”Iya Mbak. Mbak tertarik?” ”Boleh juga. Kerja di mana?” ”Masih menganggur Mbak.” ”Suruh kerja di sini saja sama aku.” ”Ih, Mbak ini ada-ada saja. Kalau bukan mahram kan tidak boleh berduaan di kios sempit seperti ini.” ”Ya dihalalkan dulu biar tidak dosa.” Ucap gadis penjaga kios itu santai. ”Mbak bisa saja. Eh kalau boleh tahu siapa nama Mbak.” ”Kartika Sari. Panggil saja Tika. Kalau Mbak?” ”Lia.” * * * ”Mau makan di mana kita Bu?” Tanya Azzam. ”Bue kangen sama nasi Timlo Mbok Yem yang ada di dekat Sriwedari itu. Banyak kenangan dengan ayahmu disana. ”Kalau begitu kita ke sana.” Edited by : Bo223 Bon-q97 Azzam membawa mobilnya ke barat ke arah Coyudan. Azzam berkeringat, kelihaiannya mengemudi benar-benar diuji. Jalan dari Klewer ke Coyudan begitu padat dan semrawut. Tukang becak memarkir becaknya sembarangan. Angkutan umum ngetem seenaknya memotong jalan. Mobil box bongkar pasang muatan. Kendaraan bermotor yang jalan pelan namun tiba-tiba berzigzag dengan cepat tanpa perhitungan. Hampir saja Azzam menabrak becak yang tadinya parkir, tiba-tiba nylonong masuk jalan. ”Hati-hati Kak.” ”Itu tukang becak nyawanya rangkap kali. Nylonong sembarangan. Dasar!” Umpat Azzam spontan. ”Nak, kalau ngomong jangan kasar begitulah. Tidak enak didengar.” Tegur Bu Nafis. ”Astaghfirullah. Iya Bu. Kadang setan memang ada di mulut juga.” Azzam melewati kawasan Singosaren. Dan terus ke barat, hingga akhirnya sampai Pasar Kembang. Husna memandang para pedagang yang duduk menunggu pembeli datang. Ada seorang ibu tua yang duduk termangu, pandangan matanya kosong. Husna merasa iba. Entah apa yang sedang dilamunkan ibu tua itu. Tiba-tiba kedua mata Husna menangkap sosok yang ia kenal. ”Kak pelan Kak!” ”Ada apa?” ”Itu seperti Zumrah. Dik Lia coba lihat itu Zumrah kan?” Lia memandang ke arah yang ditunjuk Husna. Edited by : Bo224 Bon-q97 ”Iya benar Mbak.” ”Kak Azzam berhenti sebentar!” Husna sendirian. Ia berjalan cepat menuju sebuah kios penjual kembang. Zumrah tampak duduk di sana melamun. Di sampingnya seorang ibu setengah baya yang gemuk badannya sedang makan jagung godog dengan lahapnya. ”Hei Zum!” Sapa Husna. Zumrah ternganga. Kaget. ”Husna! Lia!” ”Hei, assalamu’alaikum.” ”Wa ’alaikumussalam.” ”Sedang apa kau di sini? Kamu aku cari-cari ke mana mana!” ”Aku tak tahu harus bagaimana. Aku...” ”Sudah ayo ikut kami makan siang. Kau sudah makan?” ”Belum.” ”Ayo. Sekalian ketemu kakakku. Dia sudah pulang. Dulu waktu kecilkan kau selalu bilang mau jadi manten sama kakakku.” ”Ah, kamu Na. Semua kenangan masa kecil kau ingat semua. Jadi Mas Azzam sudah pulang?” ”Iya. Itu di mobil.” ”Wah keren sudah punya mobil.” ”Itu mobil orang. Ayo!” Husna setengah memaksa. ”Yuk.” Zumrah dan Husna menyapa ibu gemuk itu lalu bergegas ke mobil. ”Assalamu’alaikum Bu Nafis, Lia dan Mas Azzam.” Sapa Zumrah pelan. Edited by : Bo225 Bon-q97 ”Wa ’alaikumussalam.” Jawab Bu Nafis, Lia dan Azzam hampir bersamaan. Mobil kembali berjalan. Dari kaca spion di dalam mobil sekilas Azzam melihat wajah Zumrah. Wajah yang murung dan mengguratkan kesedihan. Azzam membawa mobilnya terus ke barat sampai di perempatan Baron. Lalu belok kanan. Sampailah di kawasan Sriwedari. Azzam lalu membawa mobilnya ke arah jejeran toko-toko buku loakan. Di sela-sela toko buku loakan ada sebuah warung makan kecil. Warung itu milik ibu tua namanya Mbok Yem. Tepat di depan warung itu mobil Azzam berhenti dan semua penumpangnya turun. Azzam mengamati took toko loakan dengan hati bahagia luar biasa. Rasa bahagia yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ia juga punya kenangan indah di sebuah toko buku itu. Dulu waktu masih SD ia memang sering diajak ayahnya ke toko loakan itu untuk mencari buku-buku pelajaran bekas yang masih bisa dipakai. Ia sangat bersemangat memilih buku-buku pelajaran bekas. Dengan buku-buku bekas itulah ia bisa meraih prestasi yang baik. Tak hanya itu, ia juga sering minta pada ayahnya untuk membeli majalah Bobo. Untuk buku dan masalah baca membaca ayahnya memang tidak pernah berpikir panjang mengeluarkan uang. Sejak SD ia sudah keranjingan membaca. Lain dengan Husna, waktu SD sampai SMP ia lebih suka main dan dolan dengan teman-temannya. Itu dulu, sekarang Husna sudah 180 derajat berubah. Sekarang Husna adalah predator buku, pelahap buku yang dahsyat. Hampir buku apa saja yang diberikan kepada Husna pasti habis dibacanya. Kecuali buku berbahasa Arab yang Husna tidak tahu artinya. ”Warung ini tempat aku dan ayahmu dulu sering makan bersama ketika ayahmu beli buku-buku loakan untuk dibaca-baca. Sering kali dulu juga mengajak anak anak.” Kata Bu Nafis mengenang masa lalunya. Edited by : Bo226 Bon-q97 ”Iya Bu saya masih ingat.” Sahut Azzam. ”Semoga tempat penuh kenangan ini tidak hilang.” ”Ya nggak lah Bu. Masak hilang.” ”Bisa saja Zam, kalau dibuang sama pemerintah kan bisa hilang.” ”Iya bener juga.” ”Kau mau pesan apa Zam?” ”Aku ikut ibu saja.” ”Semua ikut ibu?” Husna, Lia dan Zumrah menganggukkan kepala. ”Timlo lima Mbok. Es Tehnya juga lima.” Kata Bu Nafis pada Mbok Yem yang duduk seperti menunggu aba aba. Mbok Yem langsung bangkit dari duduknya dan meracik pesanan pembelinya. ”Mungkin aku bunuh diri saja!” Kata Zumrah serak. Semua yang mendengar kaget dibuatnya. ”Aduh Nduk, jangan! Itu dosa besar! Bisa masuk neraka selamanya kamu nanti!” Ucap Bu Nafis seketika. ”Apa yang bisa kami bantu untuk menghilangkan keputusasaanmu Zum?” Lirih Husna. ”Aku tak tahu. Aku seperti tidak punya siapa-siapa Na. Aku merasa seluruh keluargaku membenciku, menginginkan kematianku! Hiks... hiks...” Serak Zumrah tersedu. Edited by : Bo227 Bon-q97 ”Kau punya kami Zum. Aku kan sudah bilang sama kamu agar jika ada apa-apa temuilah aku di radio. Kau malah menghilang entah ke mana. Zum, aku sudah cerita ke ibumu. Ibumu sudah memaafkanmu dan juga adik adikmu. Mereka menginginkan kamu kembali Zum. Hanya pamanmu saja yang masih marah. Itu kalau kau mohon maaf dan menangis di kakinya juga pasti akan luluh.” Dengan penuh cinta Husna menenangkan dan membesarkan hati Zumrah. ”Benarkah ibu sudah memaafkanku?” ”Demi Allah Zum. Iya.” ”Tapi aku tak pantas dimaafkan Na. Aku khilaf lagi. Aku sepertinya sangat susah keluar dari lumpur setan ini. Setelah ketemu denganmu di pesantren aku ke Jogja. Dan di sana, maaf, aku kepergok germoku lagi. Aku tak berkutik. Aku dipaksanya melakukan maksiat lagi. Meskipun aku sedang hamil Na. Sudah kujelaskan dia tidak ambil peduli. Aku diancam akan dibunuhnya jika tidak mau Na! Aku harus bagaimana?” ”Kalau kau ingin bersih, kau harus tidak lagi dekat-dekat dengan dunia itu Zum! Kenapa pula kau ke Jogja? Pasti kan juga ke daerah yang dikenal mereka dan kau kenal tho?” ”Iya Na. Aku memang bingung saat itu. Aku akhirnya ke kos-kosan temanku. Kok pas germo itu ada di sana!” ”Begini saja Zum. Aku sarankan kau pulang saja ke Sraten. Hidup sama keluargamu itu lebih aman.” ”Aku malu Na.” Edited by : Bo228 Bon-q97 ”Terserah kamu Zum kalau begitu! Mau bunuh diri ya bunuh diri sana! Dulu kamu melakukan maksiat itu tak pernah malu! Ini untuk kebaikanmu, yang ini tidak maksiat malah malu!” Husna jengkel. Zumrah diam. Ia tahu Husna marah. ”Zum anakku, kalau kamu mau, ibu akan menemanimu menemui ibumu. Dia pasti senang menerima kedatanganmu. Orang-orang Sraten masih banyak yang sayang padamu kok Nduk.” Zumrah menghela nafasnya. Ia memandang Bu Nafis yang mengelus-elus kepalanya. ”Aku khawatir jika kedatanganku menerbitkan kembali amarah ibuku. Aku tahu dosaku terlalu besar.” Menu yang dipesan sudah siap. Mbok Yem mengeluarkan nasi Timlo lima pasang. Nasi putih dan sayur Timlonya yang mantap rasanya. Di Solo, selain nasi Timlo, makanan khas yang juga sangat dikenal di antaranya adalah nasi liwet, thengkleng, soto lembu, sate buntel, bakso Solo, garang asem, cabuk rambak, pecel ndeso, gado-gado, tahu kupat, nasi gudangan dan nasi sambal tumpang. Itu semua adalah jenis makanan yang sangat dirindukan oleh Azzam. Karena yang seperti itu di Cairo tidak ada. Kalau pun ada yang mencoba membuatnya rasanya pasti beda. Sebab bumbunya tidak sama. Sesaat masalah Zumrah tidak dibicarakan. Semua diam menikmati hidangan masing-masing. Azzam masih bingung dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia sama sekali tidak tahu apa masalah yang mendera Zumrah sebenarnya. Husna tidak cerita banyak padanya. Dan ketika ia sholat di masjid atau ronda orang-orang juga tidak banyak membicarakannya. Yang ia tahu Kang Paimo pernah cerita Pak Masykur ayah Zumrah meninggal karena serangan jantung akibat bertengkar dengan Zumrah. Dan Zumrah diusir dari rumah. Setelah itu tidak pernah kembali. Bahkan di hari pemakaman ayahnya juga tidak kembali. Edited by : Bo229 Bon-q97 ”Bagaimana Zum?” Tanya Husna selesai makan. Zumrah diam. Ia gamang mau mengambil jalan yang mana. Jalan pulang atau jalan pengembaraan panjang yang gelap dan tidak tahu mana ujungnya. Jalan pulang adalah jalan yang ia inginkan, tapi entah kenapa jalan yang gelap itu seperti telah begitu akrab dengannya. Jalan yang selama ini ia lalui dengan darah dan air matanya. ”Mbak Zum, sebagaimana orang untuk jahat dan berbuat dosa perlu keberanian, perlu nyali, maka orang untuk baik dan berbuat benar juga perlu keberanian, perlu nyali yang kuat!” Lia menguatkan. Azzam yang mendengar kata-kata adiknya itu jadi kagum. Ia heran dari mana adiknya itu mendapat ilham untuk mengatakan kalimat yang dalam maknanya itu. ”Baiklah akan aku coba untuk pulang. Aku ikut kalian!” Ucap Zumrah serak. Husna langsung maju memeluk sahabatnya itu. ”Bantu aku untuk kuat ya Na. Aku masih sangat rapuh Na.” Pinta Zumrah. ”Tenanglah Zum, jika kau merasa tidak punya siapa siapa, maka kau masih punya Allah.” Mereka lalu naik mobil dan bergerak ke dukuh Sraten, Kartasura. Azzam bertemu kembali dengan Zumrah. Teman Husna waktu masih kecil. Zumrah yang dulu bersama Husna sering main ke rumah dan sering main petak umpet dengannya. Zumrah yang dulu oleh anak anak yang ngaji di masjid sering dijodohkan dengannya. Zumrah yang pernah bilang ke ibu-ibu di Warung Bu War bahwa ia mau jadi manten dengan kak Azzam saja. Ah masa kecil yang indah itu telah berlalu! Edited by : Bo230 Bon-q97 Ia kini bertemu Zumrah dalam keadaan yang jauh dari bayangannya. Dari pembicaraan di warung Mbok Yem tadi sedikit banyak ia bisa meraba apa yang dilakukan dan dialami Zumrah selama ini. Namun ia tidak mau berprasangka yang tidak-tidak. Sampai di rumah ia yakin Husna akan menjelaskan semuanya. Edited by : Bo231 Bon-q97 14 MALAM PERTAMA Meskipun malam itu bulan tertutup awan, namun keindahannya bagi Furqan sulit dilukiskan. Setelah satu hari penuh menerima tamu yang datang pergi bergantian, akhirnya ia dan Anna bisa masuk kamar pengantin yang telah disiapkan tepat jam sembilan. Ia melepas peci dan jas putihnya yang ia pakai sejak jam tiga. Anna melepas gaun pengantin putihnya perlahan. Ia memperhatikan isterinya melepas gaun pengantinnya itu dengan jantung berdegup kencang. Setelah jilbab dilepas tampaklah Anna dengan rambut hitamnya yang tergerai berkilauan. Di balik gaun pengantin Anna temyata masih memakai rangkapan kaos putih ketat dan bawahan putih tipis. Anna tersenyum tipis pada Furqan. Kedua kaki Furqan bagai terpaku di tempatnya. Seluruh syarafnya bergetar. Hatinya dingin. Ada gelombang kebahagiaan luar biasa yang bagai memusat di ubun ubun kepalanya. Edited by : Bo232 Bon-q97 Anna meraih parfum, bau wangi yasmin nan suci merasuk ke hidung Furqan. Merasuk ke seluruh aliran darah Furqan. Anna menyibakkan rambutnya dan mengulurkan kedua tangannya sambil duduk di tepi ranjang yang bertabur bunga kebahagiaan. ”Ayolah sayang, peganglah ubun-ubun kepalaku. Dan bacalah doa barakah sebagaimana para shalihin melakukan hal itu pada isteri mereka di malam pertama mereka yang bahagia.” Kata-kata Anna bening dan bersih. Furqan tergagap, ia kikuk, ia lupa pada dunia. Ia lupa pada perasaan sedihnya yang selama ini menderanya. Ia melangkah, ia ingat sunnah itu. Sunnah memegang ubun ubun kepala isteri di malam pertama ketika pertama kali bertemu. Tapi ia lupa doanya. Ia lupa apa doanya. Ia mengingat-ingat tapi tidak juga ingat. Yang penting ia maju dan mencium kening isterinya. Furqan duduk di samping Anna. Bau wangi yasmin dan bau tubuh Anna begitu kuat ia rasa. Anna memejamkan mata. Furqan memegang ubun-ubun isterinya dengan dada bergetar. Ia tidak bisa berdoa apa-apa. Ia hanya mengatakan, ”Bismillahi, Allahumma.” Seterusnya tidak jelas. Anna larut dalam perasaan bahagianya. Ia sudah menyerahkan jiwa dan raganya seutuhnya pada suaminya. Anna membaca ’amin’ dengan mata berkaca-kaca. Lalu dari pojok kedua matanya, aliran hangat meleleh ke pipi. Furqan mengusap air mata yang mengalir di pipi isterinya. Ia lalu mengusap rambutnya isterinya yang halus. Lalu perlahan Furqan mencium pipi isterinya. Ciuman yang membuatnya bagai melayang karena bahagia. Anna membuka matanya. Furqan memandangi wajah isterinya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Kedua mata suami isteri itu Edited by : Bo233 Bon-q97 bertemu. Hati Furqan berdesir saat melihat bibir Anna yang ranum. Saat ia hendak menciumnya, Anna berkata, ”Mari kita shalat dulu dua rakaat Mas. Kita bersihkan jiwa dan raga kita dari segala kotoran. Agar apa yang kita lakukan mulai saat ini sebagai suami isteri bersih, ikhlas semata-mata karena Allah. Bukan karena syahwat atau pun birahi. Bukankah itu yang dilakukan para shalihin sejak awal mereka berumah tangga?” Furqan menarik dirinya. Ia jadi malu pada Anna. Kenapa ia begitu tergesa-gesa. Kenapa ia hanya memperturutkan nafsunya. Furqan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kamar itu memang dilengkapi dengan kamar mandi di dalam kamar. Setelah Furqan wudhu gantian Anna yang wudhu. Furqan kembali memakai jas dan pecinya. Sedangkan Anna langsung memakai mukena yang telah dipersiapkannya. Furqan menjadi imam. Ia membaca surat Al Insyirah dan An Nasr. Anna makmum di belakangnya dengan khusyu’. Dalam sujudnya Anna memohon agar ia diberi barakah dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Agar rumah tangganya sakinah, mawaddah dan rahmah. Usai shalat Furqan berdoa secara umum untuk kebaikan dunia dan akhirat. Anna mencium tangan suaminya dengan penuh cinta. Furqan memandangi isterinya yang bercahaya dibalut mukena putihnya. ”Kenapa Mas Furqan membaca doa umum, bukan doa khusus untuk kita sebagai pasangan yang baru menikah?” Pelan Husna sambil tersenyum pada Furqan. ”Mas gugup Dik. Jadi lupa. Nanti kita bisa berdoa lagi kan?” Jawab Furqan diplomatis. ”Nggak apa-apa? Mas mau melakukan itu sekarang?” Edited by : Bo234 Bon-q97 ”Iya.” ”Apa Mas tidak letih?” ”Tidak.” ”Baiklah. Tapi Anna ambil air minum ke bawah dulu ya Mas? Sebentar saja. Anna haus.” ”Mas tunggu.” Anna melangkah keluar kamar tetap dengan memakai mukenanya. Furqan melepas kembali jas dan pecinya. Ia juga melepas kemejanya. Ia bersiap untuk melalui detik detik paling membahagiakan dan paling bersejarah dalam hidupnya. Ia mendengar handphonenya berdering. Ada sms masuk. Ia ambil han phonenya yang ada dalam saku jasnya. Ia buka. Ada tiga sms dari Ustadz Mujab, Cairo. Ia tersenyum. Ia baca. ”Akhi, selamat ya. Barakallahu laka wa baaraka ’alaika wa jama’a bainakuma fi khair. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah maknanya pasangan suami isteri itu menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi perasaan, berbagi suka dan duka. Mawaddah artinya benar-benar saling mencintai. Dan rahmah artinya saling mengasihi, saling merahmati, saling menyayangi. Rahmah di sini menurut ulama berarti pasangan suami isteri tidak ada tindakan saling menyakiti sedikitpun. Suami tidak menyakiti isteri. Baik ragawi maupun rohani. Dan sebaliknya. Jagalah isterimu. Perlakukan dengan sebaik-baiknya. Jangan kau sakiti sedikitpun. Bertakwalah kepada Allah. Selamat menempuh hidup baru. Mujab.” Ia bahagia membaca sms itu. Namun juga tersentak bagai tersengat aliran listrik. Ia sangat mencintai Anna. Namun ia tidak boleh Edited by : Bo235 Bon-q97 menyakitinya. Sedikitpun. Tanpa ia minta ia kembali teringat virus yang ia rasa bercokol dalam dirinya. Virus HIV. Jika ia melakukan itu sekarang, apakah ia tidak menyakiti Anna. Bagaimana kalau Anna tertular HIV? Kesedihan dan nestapa tiba-tiba mendera dirinya. Ia tidak mau mengkhianati dirinya sendiri. Ia sangat mencintai Anna, ia tidak mau menyakitinya. Keinginannya untuk melakukan ibadah biologis perlahan-lahan surut. ”Assalamu’alaikum.” Sapa Anna pelan membuka pintu. Senyum putri Kiai Lutfi itu mengembang. Anna datang membawa gelas berisi air agak kuning kecoklatan. ”Mas minumlah ini dulu. Ini madu. Biar lebih fres dan bugar.” Kata Anna sambil mengulurkan gelas yang ia bawa pada Furqan yang duduk di tepi ranjang. Furqan menerimanya dengan tangan bergetar. Ia paksakan untuk tersenyum pada isterinya. Anna balas tersenyum. Furqan meminum air madu itu teguk demi teguk sampai habis. Lalu meletakkan di meja rias dekat ranjang. Anna melepas mukenanya, lalu duduk di samping Furqan. ”Aku siap beribadah Mas. Aku sudah siap untuk menyerahkan jiwa dan raga. Aku siap untuk menjadi lempung di tangan seorang pematung. Dan Mas Furqanlah sang pematung itu.” Kata Anna sambil perlahan hendak melepas kaos putih ketat yang menempel tubuhnya. Dada Furqan berdesir kencang. Ia ingin memeluk tubuh isterinya itu dengan penuh cinta. Namun ia teringat virus HIV yang bercokol dalam tubuhnya. Dengan mata berkaca kaca ia memegang tangan isterinya. ”Dik, jangan sekarang ya? Letih. Besok saja.” Lirihnya pada Anna. Edited by : Bo236 Bon-q97 ”Benar besok? Tidak sekarang?” Tanya Anna. ”Iya besok saja. Kita istirahat saja dulu. Tak usah tergesa-gesa ya.” ”Anna ikut Mas saja. Tapi kenapa Mas menangis?” ”Mas sangat terharu akan ketulusanmu. Mas juga menangis karena sangat bahagianya. Mas seperti mimpi bisa memiliki isteri sepertimu.” ”Anna juga sangat bahagia Mas. Mas adalah imam Anna, pelindung Anna, Murabbi Anna, juga insya Allah ayah dari anak-anak Anna kelak. Tahu tidak Mas. Kemarin malam Abah bermimpi yang menurut Ummi adalah mimpi tentang Mas. Mimpi yang sangat menakjubkan.” ”Mimpi apa itu Dik?” ”Abah bermimpi melihat gugusan bintang. Terus ada bintang yang sangat terang cahaya. Paling terang di antara lainnya. Bintang itu turun dan bersinar di atas mimbar masjid pesantren. Terus Abah juga melihat beberapa tunas pohon kelapa yang menakjubkan yang tumbuh tepat di halaman pesantren. Dan Abah menemukan sorban Kiai Sulaiman Jaiz yang sangat wangi di kamar Anna ini. ”Menurut Ummi mimpi itu adalah sebuah petunjuk penting menjelang pernikahan ini. Bintang itu menurut Ummi adalah Mas. Karena Mas-lah nanti yang insya Allah akan menggantikan Abah. Mas-lah bintang di mimbar pesantren itu. Lalu tunas-tunas pohon kelapa itu adalah anak-anak hasil pernikahan kita. Dan sorban itu menurut Ummi bisa jadi menunjukkan kepada kita Mas bertalian darah dengan Kiai Sulaiman Jaiz.” ”Siapa itu Kiai Sulaiman Jaiz Dik?” Edited by : Bo237 Bon-q97 ”Pendiri pesantren ini, yang sampai sekarang tidak diketahui rimbanya.” ”Apa Kiai Sulaiman pernah ke Betawi.” ”Allahu a’lam.” ”Semoga takwil ibumu itu benar.” ”Semoga. Amin.” Malam itu Furqan tidak tidur sepicing pun. Meskipun matanya memejam tapi pikiran dan hatinya terus terjaga. Sesekali ia membuka matanya lalu memandangi isterinya yang tidur di sampingnya. Wajah isterinya begitu bersih jelita. Ia ingin menciumnya tapi ia urungkan karena khawatir membangunkannya. Di dalam dadanya seperti ada bara yang membara. Bara cinta, juga bara nafsu pada isterinya. Pada saat yang sama juga ada bara kemarahan yang ia tidak tahu dari mana datangnya. Ia marah pada dirinya sendiri. Marah pada virus HIV yang ia rasa bercokol dalam seluruh sel dan aliran darahnya. Malam ini ia berkukuh untuk tidak menyakiti isterinya. Tapi ia bertanya sendiri pada dirinya, kalau setiap hari bertemu dan tidur satu ranjang dengan isterinya yang begitu jelita apakah ia akan selalu mampu menahan diri. Terus harus bagaimana? Anna telah sah jadi isterinya. Sah untuk ia apa-apakan. Bahkan Anna sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya padanya. Dengan tulus Anna tadi berkata padanya, ”Aku siap beribadah Mas. Aku sudah siap untuk menyerahkan jiwa dan raga. Aku siap untuk menjadi lempung di tangan seorang pematung. Maslah sang pematung itu.” Maka alangkah ruginya jika ia tidak menikmati kebahagiaan ini Edited by : Bo238 Bon-q97 setuntas tuntasnya. Kenapa memperdulikan virus HIV? Sudah menjadi risiko Anna karena menikah dengannya terkena virus HIV. Semua orang toh punya risiko terkena penyakit. Tak terkecuali Anna. Begitulah suara rasionya bergemuruh menghasutnya. Namun dengan sangat halus dan lembut nuraninya mengingatkan bahwa alangkah zalimnya ia jika menyakiti Anna. Apa dosa Anna, sampai tega harus hidup sengsara terkena virus HIV? Mana itu takwa? Mana iman? Mana rasa percaya kepada Tuhan? Mana keimanan kepada hari kemudian? Dan apa dosa Kiai Lutfi sampai putri dan keluarganya dihancurkan? Apa dosa pesantren Wangen sampai dikotori dengan kelaliman? Apa nanti pandangan para santri dan masyarakat jika putri Kiai dan menantu Kiai terkena HIV? Apakah demi syahwat dan nafsu semua dijadikan korban? Alangkah bahagianya iblis dan setan? Sampai tengah malam batinnya terus berperang. Malam itu ia merasa sebagai manusia paling berbahagia di dunia, namun juga merasa sebagai manusia paling nelangsa di dunia. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menata hidupnya? Ia seperti berada di tengah-tengah padang pasir yang gersang, yang sangat sepi, tak ada jejak apa pun di sana. Dan ia tidak tahu harus berbuat apa dan harus kemana? Jam setengah tiga ia mendengar Anna mendesah lalu memanggil namanya. Ia memejamkan mata pura-pura tidur. Ia merasakan Anna bangkit. Turun dari ranjang. Lalu ia merasakan kedua tangan Anna memegang kepalanya dan isterinya itu mengecup keningnya. Dadanya berdebar debar. Ia merasakan kesejukan luar biasa. Ia merasa benar benar dicintai isterinya sepenuh jiwa. Sejurus kemudian ia mendengar gemericik air dari kamar mandi. Ia membuka kedua matanya. Saat Anna ia dengar mematikan kran dan keluar dari kamar mandi ia pura-pura tidur kembali. Anna mengambil sesuatu. Ia sedikit membuka matanya. Remang-remang ia Edited by : Bo239 Bon-q97 melihat isterinya itu memakai mukenanya. Lalu mengambil sajadah dan shalat. Ia tetap rebah di tempatnya. Ia bingung sendiri harus berbuat apa? Ia malu pada Anna. Ia malu pada kebersihan gadis itu. Apakah tega ia menyakitinya? Apakah tega ia merusaknya dengan virus HIV hanya karena ambisi nafsunya. Ia malu. Apakah ia sudah benar-benar tidak punya nurani dan jiwa? Nuraninya menghujatnya. Matanya berkacakaca. Ia mendengar isterinya terisak-isak berdoa. Doa yang sangat panjang. Ia sangat faham isterinya. Di antara orang yang didoakan isterinya adalah dirinya. Isterinya meminta kepada Allah, agar dirinya dijadikan sebagai suami yang shalih yang selalu menjadi penolong meraih kebaikan di dunia dan di akhirat, bukan sebaliknya. Dia mendoakan agar dirinya diberi hidayah selalu, dan dikaruniai rasa takwa selalu di mana pun dia berada. Isterinya mendoakan dirinya dalam shalat malamnya. Isterinya begitu mencintainya dengan sepenuh jiwa dan raga. Apakah ia akan tega merusaknya? Nuraninya bertanya. Dan ia hanya bisa merasakan pilu dan nestapa yang luar biasa. Ia memejamkan matanya kuat kuat. Air matanya meleleh. ”Mas, tahajjud!” Isterinya membangunkannya pelan. Ia membuka matanya dan bangkit. Isterinya menatapnya lekat-lekat. ”Mas menangis lagi? Kenapa?” Edited by : Bo240 Bon-q97 ”Aku mendengar doamu Dik. Terima kasih ya. Semoga Allah meridhaimu.” ”Amin. Mas, shalat tahajjud dulu. Nanti keburu subuh.” ”Baik Dik.” Edited by : Bo241 Bon-q97 15 PAGI YANG MENEGANGKAN Zumrah belum menemui ibunya. Ia tidur di rumah Husna. Ia bersikukuh tidak bertemu ibunya. Berulang-ulang Bu Nafis, Husna dan Lia membujuknya. Tetap saja ia kukuh dengan sikapnya. Selepas shalat subuh Zumrah bersiap untuk pergi. Ia merasa harus pergi sebelum hari terang. ”Terus kau mau kemana Zum? Tanya Husna ”Aku tak tahu Na.” Jawab Zumrah ”Apa kau tak kasihan sama janinmu. Perutmu sudah besar. Dia butuh ketentraman. Dia butuh rasa aman. Dia butuh kesehatannya terjamin sementara kau terus menggelandang begitu, terus juga masih menemui germomu itu alangkah malangnya janin dalam kandunganmu.” ”Aku juga berpikir begitu Na. Tapi apa boleh buat.” Edited by : Bo242 Bon-q97 ”Terserah kau Zum. Aku ingin membantu tapi kau sendiri yang tidak mau.” ”Terima kasih atas segalanya Na. Semoga aku tidak lagi menyusahkanmu.” Mereka berdua berbincang di ruang tamu. Azzam masih di masjid. Bu Nafis keluar membawa minuman dan mendoan goreng. ”Aduh, kok repot-repot Bu. Saya sudah mau pergi.” Kata Zumrah. ”Minum teh hangat dulu dan cicipi dulu mendoannya baru kau boleh pergi.” Sahut Bu Nafis. ”Na, apa tidak ada kos-kosan yang murah. Yang kira kira aman untuk Zumrah, sehingga ia bisa tenang sampai melahirkan?” Tanya Bu Nafis pada Husna. ”Oh ya benar. Kau mau kalau kos di Nilasari. Aku ada teman di sana. Satu bulan lalu bilang cari teman. Kamar dia besar. Harga kamar itu sebulannya seratus tujuh puluh. Kalau mau kau cuma bayar tujuh puluh ribu saja.” Terang Husna. ”Mau. Tapi aku dapat uang dari mana ya?” Lirih Zumrah merana. ”Kalau kau mau, tiga bulan pertama biar aku yang bayar. Setelah itu kau bayar sendiri, bagaimana?” ”Terima kasih Na. Kau baik sekali.””Masih mau pergi sekarang?””Iya tetap pergi sekarang. Nanti siang aku ke radiomu saja,” ”Terserah kau.” Edited by : Bo243 Bon-q97 Zumrah mengambil gelas yang ada di hadapannya dan menyeruput isinya. Setelah itu ia bangkit dan minta diri. Zumrah mencium tangan Bu Nafisah, bersalaman dengan Lia dan memeluk Husna. Zumrah membuka pintu, tiba tiba... ”Mau ke mana lagi, Lonte!” Seorang berjaket hitam membentak keras sambil menodongkan pistolnya tepat di jidat Zumrah. Bu Nafis gemetar ketakutan. Husna dan Lia merinding. Sementara Zumrah saking takutnya tanpa ia sadari mengeluarkan air kencing. Pria berjaket hitam itu baginya bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawanya. Gigi pria itu bergemeretak menahan amarah. Matanya merah marah. ”Am... ampun paman! Ampuni Zum, pa... paman!” Zum terbata-bata serak. ”Tak ada ampun untuk lonte murtad yang membunuh ayahnya sendiri! Pagi ini tamat riwayatmu!” ”Mahrus, dia tidak murtad. Dia masih Islam. Tadi subuh dia shalat di rumah ini!” Husna yang dulu pernah nakal terbit kembali keberaniannya. ”Diam kau Husna! Jangan ikut campur kau! Ini urusanku dengan lonte tengik ini!” ”Tidak ikut campur bagaimana? Dia tamuku! Dan kau seperti perampok yang masuk rumah tanpa kulon nuwun23 dulu!” 23 Minta ijin. Edited by : Bo244 Bon-q97 ”Baik, maafkan kelancanganku. Biar aku tembak lonte ini di jalan saja. Biar dia tidak jadi hantu di rumah ini. Biar dia jadi hantu yang mengelayap ke mana-mana! Ayo jalan!” Mahrus menggertak Zumrah. ”Tidak, jangan!” Zumrah berontak. Buk! ”Ah!” Mahrus memukul pelipis Zumrah dengan gagang pistol. Zumrah mengaduh. Pelipis Zumrah berdarah. Husna mau bergerak menolong Zumrah tapi dicegah Bu Nafis. Bu Nafis tahu kenekatan Mahrus sejak kecil. Ia tidak ingin Husna celaka dengan konyol. ”Mahrus anakku!” Ucap Bu Nafis dengan lembut. ”Iya Bu Nafis.” Jawab Mahrus sambil menengok ke wajah Bu Nafis. ”Apa tidak bisa dirembug dengan baik-baik tho. Dia itu keponakanmu sendiri. Seharusnya kau sayang padanya.” ”Apa ibu kira aku tak sayang padanya. Sejak kecil aku sayang padanya Bu. Dulu waktu SD kalau dia diganggu orang akulah orang pertama yang membelanya. Tapi dia tidak tahu diri. Semua orang di keluarga menyayanginya. Tapi dia membalas kasih sayang itu dengan kebencian. Ayah dan ibunya sendiri mau dia buat mati berdiri! Ayahnya sudah mati dibunuhnya! Dan dia akan membunuh ibunya! Sebelum itu terjadi dia harus dihentikan! Dia ini penjahat yang harus dihentikan, penyakit yang harus dienyahkan! Ibu diam saja ya, ibu tak tahu apa-apa!” Jawab Mahrus dengan marah. Anggota serse itu kalau marah hilang sopan santunnya, tak pandang dengan siapa ia bicara. Edited by : Bo245 Bon-q97 Dada Husna panas mendengar Mahrus berbicara dengan suara keras dan membentak-bentak ibunya. ”Hai Bung, bisa nggak sopan sedikit sama orang tua!” Lia mendahului Husna membentak Mahrus. Husna heran sendiri, adiknya yang biasanya halus ternyata bisa garang juga. ”Kau juga diam anak kemarin sore! Aku dor mulutmu nanti!” Sengit Mahrus sambil memandang ke arah Lia. Melihat mata yang merah dan wajah yang sangar itu Lia jadi mengkeret. ”Ayo keluar!” Bentak Mahrus sambil menyeret Zumrah. ”Ampun paman!” ”Tak ada ampun untukmu!” ”Beri Zumrah kesempatan untuk berbuat baik paman.” ”Kesempatan itu sudah kau sia-siakan!” ”Beri kesempatan sekali saja Paman!” ”Bangsat sepertimu sudah saatnya dienyahkan!” ”Auh! Sakit paman!” ”Diam!” Dengan segenap kekuatan Mahrus menyeret Zumrah ke halaman. Mahrus terus menyeret sampai akhirnya ke jalan. Sampai di jalan Zumrah berontak dengan sengit. Sekali lagi Mahrus memukulkan gagang pistolnya ke kepala Zumrah. Zumrah langsung terjengkang kesakitan. Mahrus sudah bersiap menembak kepala Zumrah. Niatnya sudah bulat bahwa keponakannya harus dihabisi. Ia tinggal merekayasa laporan kejahatannya saja. Sebuah kejahatan yang layak untuk dienyahkan dari muka bumi. Husna, Lia dan Bu Nafis gemetar di beranda rumah. Beberapa orang berdatangan mendengar ada keributan. Tapi Mahrus langsung mengultimatum agar semuanya diam di tempat masing-masing. Edited by : Bo246 Bon-q97 Sebelum pistol itu memuntahkan peluru sekonyong-konyong Azzam datang. Azzam sudah tahu duduk persoalannya dari cerita Husna. Ia juga tahu seperti apa bencinya sama Zumrah. Dengan suara tenang Azzam menyapa, ”Hai sobat lama apa kabar?” Mahrus mengendurkan tangannya dan menurunkan pistolnya yang siap dia letuskan. Ia memandang ke asal suara. Ia lihat yang datang adalah Azzam. ”Hei kau Zam, sudah pulang rupanya.” ”Iya. Kau ngapain bawa pistol segala, Rus? Nakut nakutin anak kecil saja!” ”Ini Zam aku mau mengenyahkan si Lonte Murtad ini. Aku sudah bersumpah di hadapan mayat Kang Masykur, ayah Lonte ini, aku akan memburu Lonte durhaka ini dan menghabisinya.” ”Iya tapi apa kamu tidak malu menumpahkan darah di hadapan sahabat lamamu. Kau masih punya hutang yang belum kau lunasi padaku lho.” ”Apa itu Zam, kok aku lupa?” ”Ingat waktu kelas 6 SD dulu, uang SPP-mu kau gunakan untuk mentraktir Si Murni yang sekarang jadi isterimu. Dan untuk menutupi SPP-mu kau pinjam tabunganku. Kalau tidak aku pinjami kamu mungkin tidak akan lulus SD, karena kau bisa dikeluarkan. Kau nunggak saat itu tiga bulan. Kalau kau tidak lulus SD mana mungkin kau bisa jadi polisi yang gagah bawa pistol seperti sekarang. Kau hutang padaku Rus!” Edited by : Bo247 Bon-q97 ”Kenapa kau ungkit-ungkit masa laluku Zam, aku jadi malu didengar orang-orang!” ”Hei, apa aku bohong sobat?” ”Tidak. Tapi tak usah lah kau bawa-bawa masa lalu.” ”Kau sendiri kenapa kau bawa-bawa masa lalu orang lain?” ”Siapa?” ”Itu keponakanmu sendiri.” ”Zumrah maksudmu?” ”Iya.” ”Dia pezina dan murtad Zam.” ”Dia tidak murtad Rus. Tidak. Dia masih shalat. Sedangkan kekhilafannya itu masa lalunya. Dia sedang mencari jalan kembali yang benar kenapa kau halang halangi?” ”Aku telah bersumpah di depan jenazah almarhum Kang Masykur Zam?” ”Sumpah yang salah itu tak boleh dilaksanakan!” ”Terus aku harus bagaimana Zam?” ”Kau berhutang padaku. Kalau tidak aku hutangi kau mungkin tak akan lulus SD. Mungkin kau tidak akan jadi polisi. Turunkan pistolmu. Ayo masuklah ke rumahku. Jadilah tamuku. Kita cari jalan terbaik untuk semuanya. Dan akan aku anggap lunas hutangmu. Edited by : Bo248 Bon-q97 Kalau tidak maka hutangmu padaku, tak akan aku anggap lunas kecuali setelah kau tinggalkan jabatan kepolisianmu!” Azzam tahu watak Mahrus. Pria itu hanya bisa dijinakkan dengan kalimat yang menundukkan keangkuhannya. Dan ia tahu pria itu tak akan sudi terus berhutang pada orang lain. Termasuk pada dirinya. ”Baiklah! Aku akan masuk bertamu ke rumahmu, dan kita bicara di sana!” Azzam langsung minta Husna untuk membawa Zumrah yang berdarah. Azzam juga minta kepada Lia untuk membuat minuman. Orang-orang bernafas lega. Pagi itu benar-benar pagi yang menegangkan. Pak Mahbub dan Pak RT tergopoh-gopoh terlambat datang. ”Untung ada Azzam Pak RT, kalau tidak, otak Zumrah mungkin sudah keluar dari tengkorak kepalanya dan berhamburan.” Kata Kang Paimo dengan menggigilkan badan. ”Mana Mahrus?” Tanya Pak RT. ”Sedang bicara sama Azzam. Sebaiknya tidak usah diganggu Pak RT. Biar Azzam saja yang rembugan dengan serse edan itu.” Sahut Pak Jalil yang memang kurang suka dengan Mahrus yang menurutnya terlalu sombong karena tak mau mendengarkan omongan orang. ”Kau sudah mendengar cerita tentang Zumrah dari Husna kan?” Tanya Azzam pada Mahrus. ”Iya tapi aku tidak percaya.” Jawab Mahrus. ”Kalau aku yang bilang, apa kamu percaya?” ”Sejak dulu kau tidak bohong padaku.” ”Berarti kau percaya?” ”Ya.” Edited by : Bo249 Bon-q97 ”Baiklah aku akan cerita padamu tentang keponakanmu. Dan aku sangat yakin cerita ini adalah benar dan tidak bohong. Jadi kau harus percaya.” ”Baik akan aku dengarkan.” Azzam lalu menceritakan kepada Mahrus apa yang sebenarnya terjadi pada Zumrah. Cerita yang sama dengan yang disampaikan Zumrah kepada Husna di Pesantren Wangen. Mahrus mendengarkan dengan seksama. ”Jadi begitu ceritanya. Dia tidak murtad?” ”Benar.” ”Awalnya dia diperkosa?” ”Benar. Sebagai paman seharusnya kamu melindungi dia. Sekarang dia ingin kembali ke jalan yang benar. Ingin benar-benar taubat. Tapi ia terus diuber-uber sama germonya. Kau harus bantu dia. Kau harus cari itu para hidung belang yang menistakan dia. Yang harus kamu dor itu ya hidung belang-hidung belang itu Rus. Bukan dia!” ”Kau benar Zam. Kalau kamu tidak datang mungkin peluruku ini salah memecahkan kepala orang.” ”Ada beberapa hal yang harus kau perbaiki pada sikapmu Rus. Jika kau perbaiki maka kau akan menjadi pria jantan sejati dan kau akan dicintai banyak orang.” ”Apa itu Zam?” ”Pertama, cobalah kau latihan senyum. Kau ini susah sekali senyum. Ketemu teman lama saja tidak senyum.” Edited by : Bo250 Bon-q97 ”Ah kau ini ada-ada saja Zam. Hah... hah... hah... ha...!” Mahrus malah terbahak-bahak tidak hanya senyum. ”Lha begitu Rus. Biar dunia ini cerah. Banyak senyum itu bikin awet muda katanya.” ”Masak tho Zam?” ”Iya.” ”Terus apa lagi Zam?” ”Kau harus memperhalus kata-katamu. Kau sering berkata kotor. Hilangkanlah kebiasaan burukmu itu. Masak ponakanmu sendiri kau kata-katai seperti itu!” ”Nanti aku minta maaf sama dia. Masih ada lagi Zam?” ”Masih. Kau lebih sopanlah sama orang lain. Dengarkanlah orang lain. Aku sering dapat cerita saat ronda kau ini paling susah mendengarkan orang. Ingat Rus, Tuhan menciptakan telinga dua sementara mulut cuma satu. Artinya kita diminta untuk lebih banyak mendengar daripada bicara apalagi membentak-bentak orang!” ”Akan aku usahakan Zam. Mana tadi Si Zumrah Zam?” ”Mau kau apakan lagi?” ”Aku mau minta maaf padanya. Juga sekalian aku mau minta data para hidung belang itu. Aku ingin menggulungnya secepatnya.” Azzam lalu memanggil adiknya, ”Husna, bawa Zumrah kemari!” Edited by : Bo251 Bon-q97 Zumrah datang dengan kening dan pelipis diperban putih. ”Kemarilah Nduk!” Kata Mahrus, kali ini dengan mata berlinang air mata. Zumrah melihat perubahan wajah Mahrus. Wajah yang sudah bersahabat. Wajah yang berkaca-kaca. Zumrah maju mencium tangan pamannya. ”Maafkan Paman ya Nduk?” ”Iya paman. Juga maafkan kesalahan Zumrah. Sampaikan pada ibu Zumrah belum bisa pulang. Nanti kalau Zumrah sudah lebih baik insya Allah Zumrah pulang.” ”Seperti itukah perjalanan nasibmu Nduk? Terperangkap dalam jerat lumpur hitam?” ”Iya Paman. Tolong bantu Zumrah paman.” ”Tolong berikan semua data para penjahat yang telah menistakanmu itu!” ”Baik paman.” Zumrah lalu menyebut nama-nama orang yang sering memaksanya juga menyebut nama-nama germo di Jogja dan Solo. Ia juga menyebut nama-nama lelaki hidung belang yang sering memangsa gadis-gadis muda tidak hanya dirinya. Zumrah menjelaskan dengan detil alamat rumahnya dan tempat yang biasa digunakan mangkal mereka. ”Kau mau tinggal di mana Nduk kalau tidak pulang?” ”Aku mau indekos di Nilasari Paman. Husna akan membantuku.” Edited by : Bo252 Bon-q97 ”Jika perlu bantuan paman jangan sungkan hubungi paman di kantor paman.” ”Iya paman.” ”Hati-hati ya Zum. Paman pergi dulu.” Mahrus lalu minta diri pada Azzam dan keluarganya. Pada Bu Nafis, Husna dan Lia lelaki tinggi besar dan kekar itu mohon maaf atas segala khilafnya. Bu Nafis, Husna dan Lia bersyukur kepada Allah dan memaafkan dengan lapang dada. Zumrah menatap pamannya yang melangkah keluar rumah dengan mata berkaca-kaca. Meskipun pamannya itu nyaris membunuhnya, tapi ia merasakan betapa besar sesungguhnya rasa sayang adik bungsu ayahnya itu padanya. Benar, waktu kecil dulu pamannya itulah yang selalu menjadi pelindungnya. Jika ada anak yang nakal jahil padanya, pamannyalah yang akan menindaknya. Pamannya bahkan rela berkelahi mati matian demi menjaga agar kulitnya tidak disentuh oleh anak-anak yang jahil. Pamannya itu seumur dengan Azzam, kakak Husna. Dan ia sendiri seumuran Husna. Jadi pamannya itu kira-kira lebih tua tiga atau empat tahun di atasnya. Zumrah sedikit merasa lega, masalahnya dengan pamannya telah selesai. Ia merasa mulai ada setitik cahaya. Ia mulai merasa kembali mendapatkan secuil kasih sayang. Ia berharap pamannya bisa menindak nama-nama orang jahat yang menistakannya. Harapannya ia bisa hidup dengan tenang. Kembali ke jalan yang lurus. Membesarkan anaknya. Dan jika sudah rasa ia layak menemui ibunya ia akan menemui ibu yang selama ini disakitinya. Edited by : Bo253 Bon-q97 16