INGAT KEMATIAN Zumrah mengerang kesakitan. Ia tidak tahu kepada siapa harus minta tolong. Di dalam kamar kos itu ia sendirian. Teman satu kosnya, Si Muni sedang pulang kampung. Sejak jam tiga pagi kepalanya terasa pusing. Tubuhnya lemas. Perut sakit. Dunia seperti berputar. Ia tidur telentang dengan kepala sakit bukan kepalang. Jika ia duduk inginnya muntah. Ia sudah tidak tahan. Ia merintih. Ajalnya ia rasa seperti akan datang. Zumrah berpikir tentang kematian. Ia menggigil ketakutan. Janganjangan memang ajalnya akan datang. Ia jadi berpikir kalau ia mati akankah ia mati begitu mengenaskan. Mati sepi, sendirian, tak ada yang tahu. Jasadnya akan membusuk di sebuah kos yang terkunci. Jasadnya baru akan ditemukan setelah bau badannya menyengat ke mana-mana. Atau tatkala Muni datang. Dan ia tidak tahu kapan Si Muni akan datang. Zumrah mengerang kesakitan. Kepalanya seperti kena godam. Ia merasa diintai oleh bayang-bayang kematian. Ia sudah tidak tahan. Ia Edited by : Bo337 Bon-q97 harus memberi tahu orang. Harus. Jika ia mati biarlah jenazahnya segera diketahui orang dan dikuburkan. Ia meraih hand phonenya. Tangannya memegang gemetaran. Ia tak tahu apakah pulsanya masih ada ataukah tidak? Ia lihat pulsanya. Cuma tersisa lima ratus rupiah. Hanya cukup untuk sms satu orang. Ia harus memberi tahu orang yang tepat. Yang jika membaca smsnya ia yakin cepat datang. Ia pikir Husna-lah yang paling perhatian. Ia tulis sms pendek: ”Na, aku sakit, tolong datang. Zumrah.” Lalu ia kirim. Ia tahan rasa sakitnya, tapi tetap saja ia tak kuat menanggung. Tiba-tiba ia merasa dingin yang amat sangat. Ia menggigil. Matanya meleleh. Ia ingat bayang kematian. Ia ingat semua dosa-dosanya di masa silam. Ia teringat Allah, Tuhan sekalian alam. Matanya meleleh ketika ia ingat Tuhan. Ia kembali merintih, Tuhan Apakah untuk mengingat-Mu Aku harus sakit dulu * * * Ia masih mengerang sendirian bergelut dengan rasa sakit yang garang ketika Husna dan Azzam datang. Pintu kostnya itu ia kunci dari dalam. Ia terus mengerang. Husna dan Azzam mendengar erangan dan rintihan. ”Zum, Zum!” Husna memanggil-manggil. la tidak dengar panggilan Husna. Ia terus merintih kesakitan. ”Zum, buka pintunya Zum!” Panggil Husna dengan keras. Tak ada jawaban. Edited by : Bo338 Bon-q97 Azzam langsung menggedor pintu itu sekeras kerasnya. Beberapa orang tetangga rumah itu melongok melihat ke arah Husna dan Azzam. ”Ada apa Mas?” Tanya seorang ibu berbadan gemuk. ”Ini Bu, teman kami sakit di dalam. Tapi pintunya terkunci dari dalam. Kami panggil-panggil sepertinya ia tidak mendengar.” Jawab Azzam. ”Coba gedor lagi yang keras!” Sahut ibu itu. Azzam kembali menggedor pintu keras-keras. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Tampaklah wajah Zumrah yang pucat pasi. Zumrah tampak begitu kusut, kurus dan perutnya buncit. ”Uakk!” Zumrah muntah tiba-tiba. Husna menghindar, tapi muntahan itu tetap mengenai ujung kakinya. Husna langsung memapah Zumrah ke kamar mandi. Zumrah kembali muntah beberapa kali. Husna memijit mijit tengkuk Zumrah. ”Uh... uh... akhirnya kau datang Na.” Ucap Zumrah dengan suara serak dan gemetaran. ”Kau sakit apa Zum?” Tanya Husna. ”Tak tahu Na. Badanku menggigil kedinginan. Kepala pusing luar biasa. Dan inginnya muntah.” ”Kau sudah makan Zum?” Zumrah menggelengkan kepala. Husna melihat-lihat apa yang bisa di makan. Seteliti mata Husna tak menemukan apa-apa. Husna bangkit membuka termos. Kosong. ”Muni ke mana?” Edited by : Bo339 Bon-q97 ”Sudah tiga hari pulang kampung.” ”Sejak kapan kau sakit Zum? Keningmu panas begini. Badanmu juga panas.” Tanya Husna ”Sejak kemarin Na. Aku kira bisa aku tahan dan aku atasi, ternyata tidak. Aku terpaksa sms kamu.” ”Kau sudah minum obat?” ”Boro-boro Zum. Air minum saja tak ada. Aku tidak bisa jalan. Semalam terpaksa aku minum air kran.” ”Inna lillahi.” Husna kaget. ”Na, kita ajak saja keluar untuk makan terus ke dokter.” Usul Azzam. ”Acara kakak ngisi pengajian Al Hikam bagaimana?” Tanya Husna. ”Di pesantren kan ada Kiai Lutfi.” Jawab Azzam. ”Tidak usah ke dokter, malah merepotkan kalian. Kalau kau harus ngisi pengajian, biarlah Husna di sini saja sebentar menemaniku.” Kata Zumrah. ”Tidak, kau harus ke dokter! Sepertinya sakitmu serius.” ”Iya Zum, ayo aku bantu kau ganti pakaian. Kita keluar cari makan, lalu ke dokter.” Ujar Husna. Azzam langsung beranjak keluar. Husna menutup pintu dan membantu Zumrah. Pada saat ganti pakaian Zumrah muntah-muntah. Edited by : Bo340 Bon-q97 ”Aduh Na, aku tidak kuat berdiri apalagi keluar.” Rintih Zumrah. ”Tolong Na aku harus rebahan.” Lanjutnya. Husna memapah Zumrah ke kasurnya. ”Bagaimana?” Tanya Azzam dari luar. ”Dia tak kuat keluar Kak. Kakak carikan makan saja buat dia, sama minuman yang hangat. Setelah itu kita panggilkan dokter kemari.” Kata Husna. ”Okay.” Azzam meluncur mencari makanan dan minuman untuk Zumrah. Ia pergi ke depan UMS. Ada banyak warung berjejer di sana. Azzam membelikan Zumrah Soto Kwali, pergedel, sate telur puyuh dan teh panas. Azzam juga mampir ke sebuah warung klontong untuk membeli dua botol air mineral, dua bungkus roti, dan susu kaleng. Lalu dengan agak tergesa-gesa kembali ke kos Zumrah. Ia menyerahkan barang-barang yang dibelinya pada Husna. Husna membukanya. ”Makan Soto Kwali ya?” Lirih Husna pada Zumrah. Zumrah mengangguk. Husna mengambil piring, mangkok, gelas dan sendok. Gadis itu meletakkan pergedel, dan sate telur puyuh di piring. Meletakkan Soto Kwali di mangkok dan menuangkan teh panas dari plastik ke gelas. Ia lalu menyuapi Zumrah dengan hatihati. Zumrah makan dengan pelan-pelan. ”Kau baik sekali Husna.” ”Sudahlah makan yang banyak ya biar cepat sembuh?” ”Tolong minumnya Na.” Edited by : Bo341 Bon-q97 Husna mengambilkan air minum. Zumrah meminumnya dengan hatihati. ”Aku kira aku sudah akan mati Na.” ”Ya kita semua akan mati Zum. Tidak hanya orang sakit yang diintai kematian, orang yang sehat pun juga tidak luput dari intaian kematian.” Jawab Husna sambil menyuapi Zumrah. ”Kapan terakhir kau ke dokter Zum?” ”Setengah tahun yang lalu.” ”Kandunganmu kapan terakhir kau periksakan?” ”Belum pernah.” ”Belum pernah!?” ”Iya. Mana ada uang aku Na.” ”Ya Allah, kenapa tidak bilang Zum. Periksa kandungan itu penting. Kamu ini bagaimana! Kau boleh hidup sengsara tapi jangan bawabawa anak kamu dong!” Cecar Husna dengan nada marah. Zumrah diam mengatupkan kedua mulutnya rapat. Sesaat Husna berhenti menyuapi. ”Kak, tolong panggilkan dokter. Panggilkan dokter Fatimah saja. Rumahnya di Gang Wuni dekat pasar Kleco.” Kata Husna pada kakaknya. ”Okay.” Edited by : Bo342 Bon-q97 Azzam langsung meluncur ke alamat yang dijelaskan adiknya. Tak lama kemudian Azzam datang bersama seorang dokter perempuan setengah baya. Dokter itu tersenyum pada Husna dan Zumrah. ”Kenapa kau Nduk?” Tanya dokter Fatimah ramah. ”Badan menggigil kedinginan. Rasanya lemes. Kepala pusing luar biasa. Perut sakit. Dan inginnya muntah saja.” ”O ya. Sebentar ya ibu periksa tensi darahnya dulu.” Dokter Fatimah memeriksa tensi darah, detak jantung, melihat mata. ”Selama ini kau kerja di mana? Sering memforsir ya?” Tanya dokter Fatimah pada Zumrah. ”Saya kerja di sebuah toko Foto Digital di Jalan Slamet Riyadi. Sebenarnya tidak terforsir. Saya bekerja mulai jam setengah sembilan sampai jam delapan malam.” ”Itu memforsir namanya. Kau hamil tua jangan terlalu banyak kerja. Asupan gizimu harus cukup.” ”Berapa usia kandunganmu?” ”Saya tidak tahu persisnya Bu, tujuh atau delapan gitu. Pasnya saya tidak tahu.” ”Kapan kamu terakhir periksa kandungan. Ibu bisa lihat buku periksanya?” ”Saya tidak pernah periksa sama sekali Bu.” Edited by : Bo343 Bon-q97 ”Innalilla, Kok bisa? Suamimu mana? Yang tadi itu?” Tanya Bu Fatimah. Husna langsung menyahut, ”Suaminya tidak tahu entah di mana Bu. Mungkin sudah disambar bledek! Itu tadi kakak saya bukan suaminya.” ”Yah hidup ini harus sabar ya Nduk. Ibu doakan semoga suamimu sadar dan insyaf!” Ujar Bu Fatimah santai. Zumrah meneteskan air mata. Ia baru merasa butuh seorang suami di sisinya. Ia baru merasa betapa pentingnya seorang pendamping hidup. Ia masih akan terus mendapatkan pertanyaan seperti itu. Kelak ketika anaknya lahir, orang-orang akan bertanya mana ayahnya. Dan anaknya sendiri akan bertanya padanya, siapa ayahku ibu? ”Jangan menangis Nduk. Hadapi hidup ini dengan tabah ya. Kau ini kena gejala tipes, dan darah rendah. Jangan makan yang kecut-kecut, pedas, dan kasar dulu. Makan yang halus-halus misalnya bubur sayur. Banyak istirahat dulu. Ini ibu beri resep, segera cari obatnya di apotik. Ibu sarankan kau segera periksa kandunganmu. Karena kehamilanmu sudah tua periksalah dua minggu sekali. Ibu pamit dulu. Semoga lekas sembuh.” ”Terima kasih Bu dokter.” Ucap Zumrah. ”Sama-sama.” Jawab Bu dokter. ”Kak Azzam resepnya sekalian dicarikan ya?” Kata Husna pada Azzam. ”Baik.” Sahut Azzam. Bu Dokter Fatimah mengemasi peralatannya lalu keluar. Azzam mengikuti dan mempersilakan dokter itu masuk mobil untuk diantar Edited by : Bo344 Bon-q97 mjbookmaker by http://jowo.jw.lt pulang. Sementara Azzam meluncur ke Kleco, Husna bercakapcakap dengan Zumrah. ”Maafkan aku merepotkan kalian terus.” ”Tidak apa-apa. Jadi kau sudah dapat kerja Zum?” ”Ya tiga bulan yang lalu aku dapat kerja. Di toko foto digital Slamet Riyadi. Bosnya masih muda dan baik. Katanya lulusan Mesir.” ”Lulusan Mesir?” ”Iya.” ”Siapa namanya?” ”Furqan.” ”Furqan Andi Hasan?” ”Iya, benar kok kamu kenal?” ”Dia itu teman Kak Azzam.” ”O, begitu.” ”Sampai sekarang statusmu masih kerja?” ”Tiga hari yang lalu aku minta cuti. Perutku sering sakit dan kepalaku rasanya seperti ditekan-tekan benda keras.” Edited by : Bo345 Bon-q97 ”Iya harus begitu, kau harus istirahat. Oh ya Zum, kurasa sudah saatnya kau pulang ke rumah ibumu.” ”Aku tidak bisa Na. Aku malu.” ”Itu lagi alasanmu. Berpikirlah yang dewasa kamu ini. Kalau kamu terus di sini, yang jadi korban anakmu. Kalau kau sakit tak ada yang membantu. Zum sebentar lagi aku dan Kak Azzam mau menikah. Tinggal menunggu hari. Aku mungkin tidak bisa menemanimu saat kau melahirkan. Apa kau mampu menjalani kelahiran sendiri? Kalau kau pulang, ibumu pasti senang. Juga adik-adikmu. Pamanmu sudah memaafkanmu. Orang-orang kampung sudah mengerti posisimu. Sekarang ini pun kau sakit, kau butuh orang yang membantu merawatmu. Membuatkanmu bubur, juga minuman hangat. Kalau kau nekat tetap saja di sini terus kamu mati di sini itu namanya bunuh diri. Sebab sejatinya kamu bisa pulang. Adik-adikmu pasti merawatmu. Aku tahu mereka itu hatinya halus-halus, baik-baik. Ya sebaik hatimu dulu. Tapi kalau kau memilih di sini, tanpa teman, Sepi dan misalnya mati sampai bangkaimu membusuk, Orang tidak ada yang tahu ya silakan. Sebagai teman aku sudah menjalankan kesetiaanku dan kewajibanku.” Mendengar perkataan Husna Zumrah luluh. ”Baiklah Na, aku mau pulang.” Edited by : Bo346 Bon-q97 23 PERTEMUAN DUA KELUARGA Kiai Lutfi duduk di ruang tamu memandang ke arah pesantren, matanya berkaca-kaca. Ia masih terus teringat kejadian pagi tiga hari yang lalu. Ia sedang shalat dhuha di kamarnya ketika itu, Anna yang baru pulang dari hotel mengajaknya bicara. Anna mencium tangannya sambil menangis. Putrinya itu tersedu-sedu di pangkuannya seperti anak kecil kehilangan mainannya. Putrinya tampak pucat, sedih, gelisah dan takut. Ia bingung apa yang terjadi dengan putrinya. ”Baru bertengkar dengan suamimu ya?” ”Lebih dari itu Bah.” “Apa itu?” ”Kami telah bercerai. Furqan sudah menceraikan Anna!” ”Apa? Cerai!? Apa Abah tidak salah dengar?” “Tidak Bah. Ini siingguhan!” ”Kamu jangan main-main ya Nduk!” ”Anna tidak main main Bah.” Edited by : Bo347 Bon-q97 ”Kalian kan sarjana Timur Tengah, paham agama, tahu syariat, bagaimana mungkin kalian memilih jalan yang dimurkai Allah.” ”Justru jalan ini ditempuh untuk mencari ridha Allah Bah. Untuk kebaikan bersama, untuk kebaikan Anna, kebaikan Abah dan Ummi, juga kebaikan pesantren. Bahkan juga untuk kebaikan Furqan dan keluarganya, maka kami berdua sepakat untuk bercerai! Ikatan pernikahan kami tak mungkin dipertahankan lagi Bah. Anna sudah berusaha yang terbaik tapi tetap saja tak ada jalan lain kecuali pisah. ”Jika ikatan pernikahan kami tetap dipertahankan yang tercipta di antara kami bukanlah ketakwaan Bah, tapi kezaliman. Anna tak ingin ini terjadi, tapi Anna tak bisa apa-apa lagi. Perempuan mana yang ingin jadi janda Bah? Tak ada. Tidak juga Anna. Inilah ujian terberat dalam hidup Anna yang harus Anna lalui dengan penuh kesabaran Bah. Sungguh Bah Anna mohon maaf jika ini sangat menyakitkan Abah dan Ummi” Kalimat putrinya itu sangat mengagetkannya. Kalimat yang diucapkan dengan linangan air mata itu bagaikan keris berkarat yang ditusukkan ke dadanya. ”Apa sebenarnya yang terjadi Nduk?” ”Aku tak tahu bagaimana menceritakannya Bah. Yang jelas kalau pernikahan terus dipertahankan Anna pasti binasa Bah. Dan Anna tidak ingin binasa!” ”Dari kalimatmu ada isyarat bahwa kau yang meminta cerai pada Furqan. Bukan Furqan yang menceraikanmu!?” ”Iya, benar Bah. Anna yang minta cerai. Dan hukumnya wajib Bah. Bukankah marabahaya menurut ajaran Islam harus ditiadakan Bah? Itulah yang Anna lakukan.” Edited by : Bo348 Bon-q97 ”Abah tidak paham marabahaya apa yang kau maksud?” Anna diam, tak bisa menjawab. ”Suatu hari nanti Abah akan tahu.” Siangnya Furqan datang. Abah langsung mengajaknya bicara. Dan Furqan membenarkan semua ucapan Anna. Bahkan Furqan berkata, ”Yang salah saya Bah, bukan Anna. Sungguh Anna tidak salah apaapa. Anna hanyalah korban dari ambisi pribadi saya. Saya mohon maaf jika selama di sini banyak khilaf. Demi kebaikan bersama Anna sudah saya ceraikan. Terserah nanti bagaimana di pengadilan nanti. Jika prosesnya bisa lebih cepat itu lebih baik, sehingga Anna bisa bernafas lega. Selama ini saya sudah membuatnya tersiksa. Saya yang salah dan saya mohon maaf.” Ucapan Furqan yang jujur dan apa adanya justru membuat Kiai Lutfi terenyuh. Ia tak tahu harus bagaimana dan harus di pihak siapa. Yang jadi masalah ia tidak tahu apa yang sebenamya terjadi di antara mereka. Ketidakcocokan seperti apa yang membuat perkawinan mereka harus hancur berantakan? Repotnya Anna dan Furqan tidak mau ada yang menjelaskan apa yang terjadi sebenamya. ”Kami sama sekali tidak perlu ishlah. Malah akan semakin menyiksa dua keluarga saja. Insya Allah keputusan kami sudah final. Namun demikian semoga tali kekeluargaan di antara kita tetap terjalin.” Jelas Furqan tegas. Hari itu juga Furqan mengemasi seluruh barangnya dan pergi meninggalkan pesantren dengan Fortunernya. Furqan benarbenar meninggalkan rumah mertuanya itu. Ia tidak kembali, jadwalnya mengajarkan tafsir Jalalain dan yang lain kepada para santri kosong tidak ada yang mengisi. Kiai Lutfi duduk di ruang tamu memandang ke arah pesantren, matanya berkaca-kaca. Ia masih terus teringat kejadian tiga hari yang Edited by : Bo349 Bon-q97 lalu. Kejadian yang membuat perasaannya remuk redam. Kejadian yang membuat isterinya, yaitu Bu Nyai Nur sempat pingsan, dan sekarang badannya demam. Perceraian Anna dengan suaminya baginya adalah aib yang memalukan. Keluarga Kiai semestinya bisa menjadi suri tauladan akan terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Perceraian itu tak lama lagi akan jadi omongan masyarakat dan dia sebagai panutan masyarakat harus bilang apa? Ia ingin dengan segala daya upaya agar rumah tangga putrinya itu terselamatkan. Ia terus membujuk putrinya agar cerita masalah yang sebenamya terjadi. Namun putrinya itu selalu saja menjawab, ”Abah, pokoknya kami berdua telah sepakat untuk bercerai! Ikatan pernikahan kami tak mungkin dipertahankan lagi Bah. Anna sudah berusaha menjadi isteri yang baik, tapi tetap saja tak ada jalan lain kecuali pisah. Jika tetap dipertahankan maka sama saja mempertahankan kezaliman?” Ia lalu mengejar, ”Bentuk kezalimannya apa Nduk?” ”Maaf Bah, Anna tidak bisa menceritakannya dengan detil. Takut nanti timbul fitnah. Kalau Abah percaya sama Anna, maka relakanlah kejadian ini Bah. Dan kuatkanlah hati Anna. Saat ini Anna sebenamya juga remuk redam. Anna perlu orang yang menguatkan.” la percaya pada putrinya. Tapi ia belum juga bisa bernafas lega karena belum mengetahui pangkal masalah sebenarnya. Ia ingin putrinya itu bercerita saja apa adanya terus terang. Sekiranya ia tahu apa bentuk kezalimannya mungkin ia akan punya pandangan lain atau jalan keluar lain yang bisa menyelamatkan rumah tangga putrinya. Edited by : Bo350 Bon-q97 Selain tes darah ia juga minta divisum untuk mengecek selaput daranya. Dan ia bersyukur bahwa selaput daranya benar-benar masih utuh. Furqan memang sama sekali belum menyentuh mahkota paling berharga baginya. Ia bernafas lega. Ia masih bisa menatap masa depan yang cerah. Ia yakin itu. Setelah urusan perceraiannya dengan Furqan selesai di pengadilan agama, ia akan konsentrasi tesisnya. Ia perlu waktu untuk kembali memikirkan pernikahan. Anna siap masuk mobil ketika panggilan dari Umminya berdering di hand phonenya. Ia diminta pulang. Bu Maylaf dan suaminya akan datang. Ia yakin mereka akan bersama Furqan. Dalam perjalanan ia membayangkan apa yang akan terjadi di rumahnya nanti. Mungkin akan terjadi perdebatan panas. Ia tidak ingin Abah dan Umminya bertengkar dengan kedua orang tua Furqan. Menurutnya itu semua tergantung Furqan. Jika Furqan sebelumnya bisa menjelaskan dengan baik masalah perceraiannya kepada orang tuanya, hal itu tak akan terjadi. Namun jika Furqan malah memprovokasi dan minta pembelaan mereka bisa saja akan ada perang. Jika sampai terjadi pertengkaran antara orang tuanya dengan orang tuanya lantas kedua orang tuanya disalahkan habis-habisan, maka ia harus bicara! Ia harus bicara apa adanya biar semuanya menilai dengan pikiran dan kesadaran masing-masing. Ia tidak gentar, semua senjata ia punya. Ia akan diam menjaga rahasia Furqan jika Furqan bisa juga menjaga kehormatan bersama. Ia merasa dirinya dan kedua orang tuanya hanyalah korban. Korban dari ambisi pribadi Furqan yang ia duga menikahi dirinya karena kecantikan dirinya. Ah, ia sendiri tidak pernah merasa dirinya cantik. Dan ia tidak mau sebenarnya dinikahi orang karena kecantikan dirinya. Sebab ia tahu kecantikan fisik itu pada saatnya nanti akan hilang. Jika ada orang menikahi dirinya karena kecantikan fisiknya maka bagaimana nanti jika kecantikan fisiknya hilang? Apakah ia akan dicampakkan begitu saja? Edited by : Bo351 Bon-q97 Anna mengendarai Viosnya dengan lebih cepat. Azan telah berkumandang. Kalau bisa ia harus lebih dulu datang dari orang tua Furqan. Di depan pasar Kartasura ia nyaris menabrak becak yang seenaknya memotong jalan. ”Masyarakat bangsa ini belum tahu disiplin!” Desisnya marah. Anna sampai halaman rumahnya saat jamaah Isya sedang didirikan. Ia mendengar suara ayahnya membaca awal surat Al Anbiya’. Rumah sepi, semuanya sedang jamaah di Masjid. Cepat-cepat ia mengambil air wudhu dan menyambar mukena, meskipun terlambat masih bisa mendapat beberapa rakaat. Dalam sujud Anna minta kepada Allah, agar semua urusan dimudahkan, dan agar semua jalan setan yang mengajak permusuhan dijauhkan. * * * Pukul setengah sembilan kedua orang tua Furqan datang. Wajah Bu Maylaf agak kurang ramah. Pak Andi Hasan meskipun agak dingin tapi berusaha untuk tetap cair. Pak Kiai Lutfi tetap menyambut ramah. Ia berusaha kuat menjaga hatinya agar tetap bening dan tenang. Sementara Bu Nyai Nur begitu melihat wajah Bu Maylaf langsung dingin. Sementara Furqan menunduk diam. Pak Kiai mencairkan suasana dengan berbasa-basi menanyakan keadaan. Menanyakan kapan berangkat dan kapan sampai di Solo. Menanyakan menginap di mana? Juga menanyakan perkembangan bisnisnya. Pada akhirnya pembicaraan tentang perceraian Furqan dan Anna tidak terelakkan. Pak Andi Hasan yang membukanya. ”Maaf Pak Kiai, ini tentang anak-anak kita. Furqan menyampaikan kepada kami kabar yang membuat kami sedih. Katanya dia telah menceraikan Anna. Namun ketika kami tanya sebabnya dia agak Edited by : Bo352 Bon-q97 berbelit. Jadi untuk itulah kami datang kemari. Terus terang perceraian tidak menjadi tradisi keluarga kami. Kami ingin tahu mungkin sedikit penjelasan bagi kami. Karena mungkin Pak Kiai sebagai orang yang bisa dikatakan tinggal satu rumah dengan mereka lebih tahu. Kalau ikatan perkawinan itu bisa kita usahakan dipertahankan kenapa tidak?” Pak Kiai Lutfi sudah menduga ia akan dimintai semacam pertanggungjawaban seperti itu. Ia mendesah. Ia bingung harus menjelaskan apa. Dengan agak tergagap Kiai Lutfi bicara, ”Pak Andi, saya me...” ”Abah biar Anna yang bicara!” Tegas Anna memotong. Anna sudah bertekad untuk tidak membuat orang tuanya dipojokkan atau diserang. Pertanyaan Pak Andi ia rasakan seperti minta pertanggungjawaban ayahnya. ”Begini Pak Andi dan Ibu Maylaf, masalah yang ada dalam kamar kami berdua. Abah dan Ummi sama sekali tidak tahu menahu. Kami sudah dewasa. Kami sudah bisa berpikir. Dan Abah saya ini bukan tipe orang tua yang selalu menyuapi anaknya sampai tua. Tidak! Yang jadi perhatian ayah selama ini adalah pesantren. Sebab beliau percaya kepada saya. Bahwa saya bisa mengurus diri saya, suami saya dan rumah tangga saya. Kalau Pak Andi sama Ibu mau bertanya sebab kenapa kami bercerai alangkah bijaknya sekarang bertanya dulu kepada putra Bapak tercinta. Kalau juga dia masih berbelitbelit, dan ruwet kayak benang kusut. Barulah Bapak tanya pada saya. Akan saja jelaskan semuanya sejelas-jelasnya, seterang-terangnya seperti terangnya matahari di siang bolong.” Dengan nada agak emosi Anna berbicara panjang kepada Pak Andi dan Bu Maylaf. Pak Kiai Lutfi tak mengira putrinya yang selama ini Edited by : Bo353 Bon-q97 halus dan penurut ternyata bisa juga menyengat seperti lebah yang diganggu sarangnya. Mendengar perkataan Anna itu Pak Andi agak mengukur diri dengan siapa berhadapan. Anna bagaikan induk betina yang bisa bicara dengan cerdas. Mau tidak mau Pak Andi harus bertanya pada putranya, ”Fur, tolong jelaskan kepada kami semua. Yang jelas, jangan berbelit-belit lagi! Apa sebenarnya yang terjadi?” Furqan memutar otaknya, ia harus punya penjelasan yang tepat. Ia melihat bara dalam mata Anna. Jika ia tidak membuat semua yang ada di ruangan itu memaklumi kenapa ia harus menceraikan Anna, maka Anna pasti akan membuka apa yang terjadi sebenarnya. Senjata pamungkas ada di tangan Anna. Senjata yang jika digunakan oleh Anna, ia rasa akan binasa. Dengan suara serak menahan sesak di dada Furqan bicara, ”Ayah dan ibu, Pak Kiai dan Bu Nyai, sebelumnya saya mohon maaf jika peristiwa ini membuat sedih. Jika Ayah dan ibu sedih, saya lebih sedih. Karena, jujur saja, faktor satu-satunya, saya ulangi lagi faktor satu-satunya yang membuat saya dan Anna harus bercerai menurut saya adalah diri saya sendiri. Kelemahan dan penyakit dalam diri saya sendiri.” Furqan mengambil nafas. Sesaat ia berhenti bicara. Matanya berkacakaca. ”Bisa lebih dijelaskan lagi faktor itu apa? Kelemahan itu apa?” tanya Pak Andi tidak sabar dengan nada agak jengkel pada anaknya. ”Saya mau tanya pada Bapak, maaf ya Pak sebelumnya, tanpa mengurangi rasa hormat dan ta’zhim sedikitpun sama Bapak. Saat Edited by : Bo354 Bon-q97 Bapak menikah dengan ibu dulu. Kapan Bapak bisa maaf menyentuh selaput dara ibu?” Pak Andi tersentak kaget. Juga Bu Maylaf. Anna tidak rnenyangka Furqan akan bertanya seperti itu. Pak Andi seperti bingung. Wajahnya memerah. Ia diminta untuk membuka rahasia yang hanya dia dan isterinya yang tahu. Pak Kiai Lutfi tahu besannya itu bingung. Maka ia bicara dengan santai, ”Nak Furqan, kalau saya dulu sama ibunya Anna siangnya akad nikah, malamnya saya sudah rnengoyak selaput dara ibunya Anna. Saya tidak bisa sabar menunda hari berikutnya. Saya ingin menunjukkan pada ibunya Anna bahwa dia tidak salah memilih saya. Saya jelaskan ini karena kayaknya masalahmu berhubungan dengan hal seperti ini. Saya tidak perlu malu menjelaskan ini di sini di forum yang kita ingin tahu kejelasan semuanya. ” Pak Andi jadi tersindir. Ia jadi tidak malu untuk berterus terang dengan nada kagok, ”Kalau saya melakukan itu baru berhasil satu minggu setelahnya.” Bu Maylaf tersenyum mendengarnya. ”Coba ayah dan ibu, juga Pak Kiai dan Bu Nyai bayangkan, saya sampai sekarang tidak berhasil melakukan hal itu. Anna sampai sekarang masih perawan!” Kata-kata Furqan itu membuat yang ada di ruangan itu kaget bagai disambar halilintar, kecuali Anna. “Apa Fur? Kau jangan bohong?” Kata Bu Maylaf nanar. Edited by : Bo355 Bon-q97 ”Saya tidak bohong Bu. Selama enam bulan Furqan tidak mampu melakukan itu.” ”Kau bohong Fur! Kau bersandiwara kan?” Bu Maylaf masih tidak percaya. Anna langsung menyahut, ”Ibu, Furqan tidak bohong. Selama enam bulan masih utuh keperawanan saya. Kami sebenarnya tidak ingin membuka rahasia ini. Tapi kalian semua ingin kejelasan. Apakah setelah jelas juga tidak dipercaya? Ini saya ada visum baru saja saya ambil dari rumah sakit, saya masih perawan. Kalau ibu masih tidak percaya dengan visum ini, saya siap divisum ulang!” Anna menyerahkan kertas visum yang baru diambilnya pada Bu Maylaf. Furqan tertegun. Ia kaget sampai sedetil itu Anna meyakinkan dirinya bahwa dirinya masih perawan. Bu Maylaf membaca dengan mata berkaca-kaca. Pak Sofyan ikut baca. Pak Lutfi dan Bu Nyai Nur baru tahu apa yang menimpa putrinya. ”Tapi ibu kok sering lihat kamu mandi sebelum Subuh nduk?” Tanya Bu Nyai Nur tiba-tiba. ”Banyak orang yang mandi sebelum Subuh tanpa melakukan hal itu. Apa ada dalam kitab kuning yang memastikan bahwa kalau ada orang mandi sebelum Subuh pasti jinabat, pasti baru saja melakukan hal itu?” Jawab Anna. ”Tapi kelemahanmu itu bisa disembuhkan Fur? Bisa kita obatkan, ke Singapura kalau perlu.” Kata Pak Andi. ”Iya benar.” Imbuh Bu Maylaf sambil menyeka airmatanya. ”Furqan sudah berusaha Bu, sudah setengah tahun. Tapi sia-sia. Ayah dan ibu jangan selalu melihat sisi saya dong. Cobalah empati Edited by : Bo356 Bon-q97 pada Anna juga. Kalau ibu jadi Anna bagaimana? Sudah enam bulan ternyata punya suami yang tidak juga mampu menyentuhnya. Kalau berobat juga tidak tahu berhasil dan tidaknya. Menurut Furqan yang terbaik, agar tidak ada kezaliman adalah bercerai. Biar Anna mencari suami baru. Sementara itu Furqan berobat. Jika sudah sembuh Furqan akan cari isteri lagi. Toh masih banyak perempuan di muka bumi ini.” Jelas Furqan pada kedua orang tuanya. Kiai Lutfi merasa sudah saatnya dia bicara. ”Jadi apa yang Pak Andi tadi tanyakan sudah jelas semua. Sekarang menurut Pak Andi bagaimana. Kita bicara dengan nurani orang tua yang mencintai anak-anak kita.” ”Sungguh Pak Kiai, saya sama sekali tidak mengira ternyata masalahnya seperti ini. Maka dengan ini kami mohon maaf, jika anak saya ini telah membuat cahaya kehidupan di keluarga Pak Kiai semacam ternodai. Kami juga mohon maaf telah punya prasangka yang kurang baik pada Pak Kiai. Kalau begini, ya memang kesalahan ada pada Furqan. Kami kira apa yang terakhir disampaikan Furqan cukup bijak. Jalan terbaik memang ya cerai. Biar tidak ada kezaliman. Semoga ini adalah perceraian yang menjadi obat bersama.” ”Amin.” Malam itu akhirnya tercapai kesepakatan secara damai. Pengajuan masalah ke pengadilan agama akan dipercepat. Saat sidang agar tidak berlarut-larut orang tua Furqan dan orang tua Anna akan ikut bicara dan jadi saksi. Malam itu juga disepakati untuk tetap menjalin tali persaudaraan. Ketika Bu Maylaf pamit, Anna mencium tangan ibu Furqan itu. Dengan linangan air mata Bu Maylaf berkata pada Anna, ”Anakku maafkan Furqan ya, maafkan kami yang mungkin telah menyakitimu.” ”Sama-sama Bu.” Jawab Anna dengan hati terenyuh. Edited by : Bo357 Bon-q97 mjbookmaker by http://jowo.jw.lt 24 SENANDUNG GERIMIS Jarum jam terasa begitu lama berputar. Detik-detik berjalan terasa begitu berat. Matahari terasa lambat berjalan. Dan malah terasa sangat panjang. Azzam merasa menunggu empat hari lagi bagaikan menunggu empat tahun lamanya. Ya, empat hari lagi Azzam menikah. Semua persiapan telah matang. Berkali-kali ia latihan menjawab akad nikah dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih. ”Malu kalau lulusan Mesir menjawab akad nikah tidak fasih.” Pikirnya. Ia sudah membayangkan hari bahagianya itu. Ia membayangkan selesai akad nikah akan menggandeng tangan Vivi dengan penuh kasih sayang. Dan malamnya ia akan tidur dengan sangat nyaman di samping seorang isteri yang penyayang. Pagi itu gerimis turun. Azzam membayangkan jika Vivi sudah jadi isterinya, alangkah indahnya duduk berduaan berpelukan sambil menikmati gerimis yang turun. Dan saat hujan turun dengan lebatnya Edited by : Bo358 Bon-q97 ia akan mengajak isterinya masuk kamar untuk bercengkerama dan merasakan kehangatan. Astaghfirullahl Azzam membuang jauh pikirannya yang bukanbukan. Dalam hati ia menghardik dirinya sendiri, ”Kamu itu yang sabar tho Zam, tinggal empat hari lagi, sabar!” Gerimis tipis turun perlahan. Hati Azzam tak bisa diajak tenang. Ingin rasanya ia terbang ke Kudus, dan minta kepada ayah Vivi agar akad nikah diajukan sekarang. Biar ia bersama Vivi bisa menikmati gerimis pagi yang turun perlahan. Entah ada ilham datang dari mana. Hatinya menulis sebuah puisi: gerimis turun perlahan wajah kekasih membayang dalam daun-daun yang basah diriku resah menanti pertemuan yang tenang cinta kasih dan sayang Tuhan tolong damaikan hatiku yang gamang Benar kata banyak orang, jika orang jatuh cinta akan mampu menulis syair beratus-ratus bait jumlahnya. Hati Azzam masih ingin mendendangkan puisi lagi. Namun, ”Zam ternyata masih ada yang terlupakan.” Suara ibunya membuyarkan lamunannya. Ia tergagap. Bu Nafis berdiri di samping kanannya sambil mengusap-usap rambutnya. ”Nanti rambutmu ini dipotong dulu ya biar rapi.” Kata Bu Nafis lagi. ”Iya Bu, rencana nanti sore Azzam mau potong di pojok Pasar Kartasura. Apa sih yang terlupakan Bu?” Edited by : Bo359 Bon-q97 ”Nanti itu di hari walimahnya Husna yang juga sekaligus syukuran pernikahanmu rencananya kan ada pengajian singkatnya. Lha kita belum minta siapa pembicaranya. Enaknya siapa ya Zam?” ”Siapa ya Bu? Apa Pak Mahbub saja?” ”Ya jangan Pak Mahbub lah Zam. Dia kan sudah ibu minta yang bicara mewakili keluarga, masak dia juga yang mengisi pengajian. Cari yang lainnya, yang kalau bicara enak didengarkan banyak orang dan berbobot isinya gitu lho Zam.” Azzam berpikir sejenak. Wajahnya tiba-tiba cerah. ”Bagaimana kalau Pak Kiai Lutfi Hakim Bu, Pengasuh Pesantren Wangen?” ”Lha itu boleh Zam. Kalau begitu ayo kita ke tempat beliau sekarang.” ”Sekarang Bu?” ”Iya. Mau kapan lagi. Acaranya seminggu lagi. Acaramu di Kudus empat hari lagi. Sudah tidak ada waktu ayo kita berangkat sekarang.” Bu Nafis ngotot. Husna yang mendengar pembicaraan itu dari dapur berseloroh, ”Mbok nanti sore saja tho Bu, kan sedang gerimis. Mobilnya Mas Azzam sedang dipinjam Kang Paimo mengantar ibunya ke rumah sakit.” ”Nanti sore ibu ke Kartasura, memastikan baju Bue sudah jadi atau belum. Sudah sekarang saja mumpung Bue sedang luang. Ya kalau Edited by : Bo360 Bon-q97 tidak ada mobil pakai sepeda motor. Gerimis toh cuma air. Bisa pakai jas hujan tho.” ”Nanti Bue sakit kalau kehujanan.” Lanjut Husna. ”Biar saya saja yang ke tempat Kiai Lutfi Bu.” Sambung Azzam. ”Bue harus ikut. Bue yang akan minta langsung pada Kiai Lutfi, jadi lebih menghormati beliau. Seperti ini tugas orang tua. Insya Allah Bue sehat.” ”Atau nunggu Kang Paimo, paling tidak lama Bu,” ”Ah kamu ini Zam bantah Bue saja. Sudah sekarang siap-siap kita berangkat. Ya kalau Paimo langsung pulang, kalau dia mampirmampir kesana-kemari nanti malah kelamaan nunggu. Ayo Zam cepat!” ”Bue ini ada apa tho kok tidak sabaran sih.” Seloroh Azzam ”Sudah, cepat salin kita berangkat!” Hardik Bu Nafis * * * Dengan berat hati Azzam harus menuruti keinginan ibunya. Ia ganti pakaian dan siap berangkat. Sebelum berangkat Bu Nafis minta dibuatkan teh hangat. ”Bue ini aneh-aneh saja, kenapa tidak tadi-tadi tho. Nanti di tempatnya Pak Kiai Lutfi kan pasti dikasih minuman.” Ujar Husna sambil membawa teh hangat. ”Teh buatanmu lain rasanya Na. Enak. Ibu ingin meminumnya barangkali untuk kali terakhir.” Sahut Bu Nafis. Edited by : Bo361 Bon-q97 mjbookmaker by http://jowo.jw.lt ”Terakhir bagaimana?” Tanya Husna santai. ”Ya terakhir sebelum kau menikah. Besok kamu kan sudah sibuk ngurusi suamimu.” ”Kalau Bue mau, Husna bisa tinggal menemani Bue sampai tua.” ”Ah Bue sudah tua kok Nak. Ya yang penting kamu nanti jadilah isteri yang baik.” Bu Nafis lalu minum teh hangat buatan putri tercintanya itu. ”Enak sekali Na. Kalau entah kapan nanti ibu tiada, jagalah kakak dan adikmu ya Na.” Pesan Bu Nafis. Azzam yang mendengar langsung menyahut, ”Aku, insya Allah yang akan menjaga Husna dan adik-adik” “Iya, iya, ibu tahu, ibu lupa kau yang mbarep. Ayo kita berangkat Zam.” ”Ayo.” Dengan mengendarai sepeda motor Husna yang sudah tua, Azzam memboncengkan ibunya menerobos gerimis pagi. Sampai di jalan raya Azzam menambah kecepatan. ”Pelan-pelan saja Nak.” ”Ini pelan Bu. Motornya Husna tidak bisa dibuat cepat.” ”Hati-hati yang penting sampai dan selamat.” ”Iya Bu.” Edited by : Bo362 Bon-q97 Azzam terus memacu kendaraan tua itu. Sampai di Pasar Tegalgondo ia belok kanan. Lalu terus lurus ke barat. Sampai di pertigaan Polanharjo belok kiri. Akhirnya tiba di halaman rumah Anna. Saat itu Anna sedang membaca buku Dhawabithul Mashlahah yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Said Ramadhan Al Buthi. Anna terhenyak melihat Azzam dan ibunya datang. Entah kenapa hatinya bergetar. Ia langsung membungkam suara hatinya dengan mengatakan, ”Dia sudah mau menikah dengan seorang dokter dari Kudus. Kau sudah terima undangannya kan?” Anna bangkit menyambut ke beranda. ”Aduh Ibu, kok hujan-hujanan sih. Kenapa tidak menunggu nanti kalau sudah reda saja?” Kata Anna halus. ”Iya, ibu ini kalau sudah ada kemauan badai saja diterjangnya. Gunung saja mungkin bisa dipindahkannya.” Sahut Azzam sebelum ibunya bicara. ”Iya benar Bue memang begitu sejak dulu. Lha sifat itu kan bagus. Sifat ini yang menurun pada dirimu Zam, hingga kamu sampai ke Mesir.” Ujar ibunya sambil tersenyum pada Azzam. Mendengarnya Anna tersenyum. ”Nduk, Abahmu ada?” Tanya Bu Nafis pada Anna. ”Oh ya ada, masih di masjid Bu. Ibu sama Mas Azzam masuk dulu saja. Anna akan panggilkan Abah. Ayo silakan!” Bu Nafis sama Azzam langsung masuk. Begitu duduk Bu Nafis langsung berkata pada Azzam, ”Kok ada ya perempuan yang jelita dan halusnya kayak Anna. Andai saja...” ”Menantu ibu, Si Vivi, insya Allah juga halus, bahkan nanti akan Azzam buat lebih halus dari Anna.” Azzam memotong perkataan ibunya. Edited by : Bo363 Bon-q97 ”Ya semoga. Tapi ibu itu kenapa tidak tahu. Ketemu Anna ini kok rasanya kayak ketemu sama anak sendiri.” ”Ya karena Anna sudah akrab sama Husna saja kali Bu.” ”Mungkin.” Terdengar langkah kaki melepas sandal. Ternyata Kiai Lutfi. Anna mengikut di belakang ”Assalamu’alaikum,” Sapa Kiai Lutfi. ”Wa’alaikumussalam.” Jawab Azzam dan Bu Nafis hampir bersamaan. ”Sudah lama Zam?” Tanya Kiai Lutfi seraya duduk. Anna lurus ke dalam. ”Baru saja sampai Pak Kiai.” ”Ibu apa kabarnya?” Tanya Pak Kiai pada Bu Nafis. ”Alhamdulillah baik Pak Kiai.” ”Senang ya Bu, punya anak seperti Azzam ini. Pinter dan ulet!” ”Ah Pak Kiai ini bisa saja. Saya justru ingin punya anak seperti Anna. Halus budi bahasanya.” ”Kalau begitu bawa saja Anna Bu, diadopsi saja dia, biar tinggal di rumah ibu, biar latihan bikin bakso he... he... he...” ”Wah boleh Pak Kiai he... he... he... Pak Kiai ini bisa juga bercanda.” Dari ruang tengah Anna mendengar canda Abah dan ibunya Azzam dengan hati berdesir tapi geli. Orang-orang tua kalau bercanda kadang memang bisa benar-benar lucu. Edited by : Bo364 Bon-q97 ”Ibu sama Azzam ini kok hujan-hujan kemari, ada keperluan apa, kok kayaknya penting?” ”Iya Pak Kiai, ini begini, alhamdulillah anak saya ini, Azzam, insya Allah mau menikah empat hari lagi.” ”Ya, saya sudah tahu, saya baca undangannya.” ”Terus adiknya yang si Husna itu juga mau menikah, dengan Ilyas, santri Pak Kiai.” ”Iya saya juga sudah tahu.” ”Azzam menikah di Kudus, tapi nanti akan mengadakan syukuran di Kartasura. Lha syukurannya Azzam ini dibarengkan dengan acara walimatul ursynya Husna. Rencananya di acara itu akan kami isi dengan pengajian singkat. Kami mohon Pak Kiai yang memberi mau’idhah hasanahnya.” Terang Bu Nafis, Mendengar permintaan Bu Nafis, Kiai Lutfi langsung menunduk. Ia malu. Pernikahan putrinya gagal, tapi ia harus memberikan mau’idhah pada orang lain. Dengan berat hati Pak Kiai Lutfi menjawab, ”Saya merasa tidak layak Bu, maaf.” ”Kami mohon Pak Kiai, sampai hujan-hujan saya kemari, mohon.” Desak Bu Nafis. Mata Pak Kiai berkaca-kaca, ”Apa pantas Bu, orang yang pernikahan putrinya saja gagal kok memberi mau’idhah pernikahan pada orang lain. ”Itu namanya kabura maqtan ’indallah” Edited by : Bo365 Bon-q97 Kata-kata Pak Kiai Lutfi membuat Azzam kaget. Bu Nafis belum paham maksudnya. Anna di dalam langsung menangis tertahan. ”Saya tidak paham maksud Pak Kiai.” ”Putri saya cerai dengan Furqan Bu. Baru kemarin, Sekarang dalam proses sidang. Memang bukan salah Anna. Yang salah saya. Seharusnya sayalah yang memilihkan jodoh buat dia. Saya pilihkan orang yang saya mantap ternyata saya salah. Saya juga tidak menyalahkan Furqan. Tidak! Yang salah adalah saya, yang waktu itu kurang tegas. Kalau saya tegas mungkin putriku sudah mau punya anak dan bahagia. Apa pantas orang seperti saya yang masih harus banyak belajar ini meskipun dipanggil Kiai untuk memberikan nasihat perkawinan. Jangan paksa saya Bu! Saya malu pada Allah juga pada diri sendiri.” Jelas Pak Kiai dengan air mata meleleh. Azzam jadi tersentuh. Ia tak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tak mau berprasangka apa pun baik pada Anna maupun pada Furqan. Di ruang tengah Anna tidak kuat untuk menahan tangisnya. Ia bergegas ke kamar mandi, menyalakan kran dan menangis tersedu-sedu. Ayahnya sedemikian besar jiwanya, dia malah menyalahkan dirinya sendiri bukan orang lain. Dalam hati Anna berjanji, untuk mencari suami lagi ia akan serahkan semuanya pada ayahnya. Ia akan tutup mata. Siapa pun yang dibawa ayahnya akan ia terima dengan hati terbuka. Tanpa ia pinta pikirannya berkelebat ke Ilyas. Ah andai dia yang dulu dia pilih. Ilyas adalah murid ayahnya, dan agaknya ayahnya lebih condong ke Ilyas daripada Furqan. Ah! Sekarang Ilyas mau menikah dengan Husna. Rezeki orang memang sudah ada jatahnya. Melihat lelehan air mata Pak Kiai Lutfi, Bu Nafis terenyuh, tak berani lagi memaksa. Dengan suara lirih, Bu Nafis berkata, Edited by : Bo366 Bon-q97 ”Kami tidak bisa memaksa Pak Kiai. Kalau boleh tanya siapa kirakira yang sebaiknya kami pinta untuk mengisi pengajian itu menurut Pak Kiai?” ”Coba saja Kiai Kamal Delanggu. Kalau sampai pasar langgu tanya saja sama orang-orang di sana pasti tahu. Nanti kalau sampai sana bilang yang minta Kiai Lutfi. Dia dulu santri di sini juga.” ”Insya Allah kami ke sana segera.” Di luar gerimis masih turun. Langit suram. Beberapa kali suara guruh bergemuruh. Anna masih di kamar mandi. Ia harus membuatkan minuman. Ia menyeka mukanya dengan sedikit air, lalu mengusapnya dengan handuk. Ia ke dapur membuat teh hangat. Lalu mengeluarkan ke ruang tamu. Azzam menunduk sama sekali tidak memandang ke wajah atau ke jari-jari Anna seperti yang pernah ia lakukan dulu. Pikirannya sepenuhnya untuk Vivi, putri Kiai Lutfi itu sudah tidak ada dalam pikirannya sama sekali. Setelah minum teh itu Azzam dan Bu Nafis mohon diri. Gerimis masih turun dari langit. Bu Nafis memakai jas hujan. Azzam mengelap air yang membasahi jok motor. ”Apa tidak ditunggu nanti saja jika sudah benar-benar tidak ada gerimis?” Ujar Pak Kiai. ”Kalau gerimis seperti ini biasanya sampai sore, Pak Kiai.” Jawab Azzam. ”Atau ibumu biar diantar Anna pakai mobil ke rumahmu. Dan kamu saja yang ke rumah Kiai Kamal.” Usul Pak Kiai. ”Ah tidak usah Pak Kiai. Saya juga ingin silaturrahmi ke sana. Delanggu itu tidak jauh kok.” Bu Nafis menukas. Edited by : Bo367 Bon-q97 ”Iya monggo kalau begitu.” Azzam menyalakan mesin. Ibunya membonceng ke belakang. Keduanya rapat dalam balutan jas hujan. Setelah mengucapkan salam keduanya meninggalkan pesantren dan meluncur ke Delanggu. Azzam mengendarai motor tua itu dengan tenang. Motor itu melewati jalan raya Solo-Jogja. Bergerak lima puluh kilometer perjam ke selatan. Ke Delanggu. Azzam berjalan di pinggir. Karena bus dan truk melaju dengan sangat kencang. Jalan itu bukan jalan tol tapi mirip jalan tol. Gerimis masih turun. Alam basah dan muram. Azzam mengendarai motor tua itu dengan tenang. Hatinya bahagia bisa memboncengkan ibunya dengan penuh cinta. Tiba-tiba entah dari mana datangnya hatinya seperti mendendangkan sebuah sajak cinta untuk ibunya: Ibu, aku mencintaimu seperti laut mencintai airnya tak mau kurang selamanya Sepeda motor Azzam melaju tenang di pinggir jalan. Sawah menghijau di kiri jalan, dan pohon-pohon menghitam di kejauhan. Azzam melaju tenang di pinggir jalan. Ia beriringan dengan mobil pick up hitam yang membawa buah pisang. Azzam begitu mencintai ibunya. Hatinya ingin mendendangkan puisi lagi. Namun, tiba tiba dari arah belakang sebuah bus berkecepatan tinggi hendak menyalip mobil pick up. Bus itu membunyikan klakson dengan keras. Azzam minggir sampai di batas akhir aspal. Bus tetap melaju dengan kecepatan tinggi Motor yang dikendarai Azzam. Dan... Edited by : Bo368 Bon-q97 Duar!!! Bemper bus bagian depan menghantam motor yang dikendarai Azzam. ”Allah!!” Jerit Azzam spontan. la terpelanting seketika beberapa meter ke depan. Dan langsung pingsan. Bu Nafis terpelanting lebih jauh dari Azzam. Helm Bu Nafis lepas sebelum kepalanya dengan keras membentur aspal. Darah mengucur dari dua tubuh lemah tak berdaya itu. Darah itu mengalir di aspal bersama air hujan. Bus berkecepatan tinggi itu lari dan langsung dikejar oleh pick up hitam. Gerimis turun semakin deras, ketika tubuh Azzam dan ibunya ditolong banyak orang. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan lewat dengan membawa mobil Kijang dihentikan. Dengan Kijang itu Azzam dan ibunya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Darah mengucur semakin deras mengiringi gerimis yang semakin deras. Edited by : Bo369 Bon-q97 25 MUSIBAH Gerimis telah berubah menjadi hujan yang sangat deras. Kilat mengerjap dan halilintar menyambar. Dukuh Sraten tampak begitu fana dan kerdil dalam guyuran hujan. Seorang gadis berjilbab putih mengangkat sedikit kain roknya dan berjalan hati-hati dengan payung di bawah hujan. Gadis itu baru keluar dari masjid. Ia baru saja ikut rapat remaja masjid Al Mannar. Akhirnya ia sampai ke rumahnya. Gadis itu adalah Lia. ”Assalamu’alaikum. Mbak Husna!” Panggil Lia begitu masuk rumahnya yang lengang. ”Mbak!” ”Iya, Mbak di belakang Dik!” Jawab Husna. ”Bue sama Kak Azzam mana?” Tanya Lia. ”Ibumu itu kalau punya kemauan tidak bisa dicegah. Dia memaksa Kak Azzam ke rumahnya Kiai Lutfi.” ”Untuk apa ke sana?” Edited by : Bo370 Bon-q97 ”Minta Kiai Lutfi ngisi tnau’idhah hasanah dalam acara walimah besok.” ”O. Kan mobilnya dibawa Kang Paimo.” ”Itulah. Mbak sama Kak Azzam sudah mencegah Bue supaya jangan berangkat pas hujan. Tapi Bue tetap ngotot. Akhirnya Kak Azzam ya manut saja.” ”Nanti Bue sakit gara-gara kehujanan.” ”Ya semoga tidak.” ”Entah kenapa Mbak ya, hati Lia sangat tidak enak rasanya. Lia lihat suasana pagi ini kok rasanya muram dan suram.” ”Ya ini kan lagi mendung, lagi hujan, ya suasananya memang suram.” ”Ini di dalam hati lho Mbak.” ”Sana kamu bantu marut kelapa, biar tidak suram. Lia bergerak memenuhi permintaan kakaknya. Tiba-tiba pintu depan diketuk dengan cukup keras Husna dan Lia kaget. Mereka berdua berpandangan. Lalu keluar bareng. Mereka melihat ada dua polisi yang berdiri, di depan pintu rumah mereka. Mereka agak was-was. ”Itu polisi nyasar.” Lirih Lia. ”Hus!” Bentak Husna lirih. ”Selamat pagi Mbak?” Sapa seorang polisi berkumis tipis ”Pagi Pak. Ada yang bisa kami bantu?” Jawab Husna ”Apa ini rumahnya Khairul Azzam?” ”Iya. Saya adiknya Pak. Ada apa ya?” ”Maaf Mbak jangan terkejut. Khairul Azzam dan ibunya kecelakaan! Dan sekarang ada di Rumah Sakit PKU Delanggu.” ”Kecelakaan Pak!?” Jerit Husna dan Lia harnpir bersamaan. Jantung keduanya bagai mau copot. Kaki-kaki mereka seperti tidak kuat untuk berdiri. Edited by : Bo371 Bon-q97 ”Oh tidak, bue... bue! Kak Azzam!” Jerit Lia dengan tangis meledak. ”Ya Allah, kuatkan! Ya Allah jangan kau panggil mereka ya Allah!” Lirih Husna dalam isak tangisnya. ”Maaf Mbak, kami tahu kalian bersedih. Keadaan sedang kritis. Kalian harus ada yang ikut kami ke rumah sakit sekarang!” Kata polisi itu. Husna segera sadar. Dalam sedih, ia harus bergerak cepat! ”Dik, kau beritahu Pak Mahbub dan Pak RT. Beritahu siapa yang menurutmu diberi tahu. Aku mau ikut Pak Polisi ini dulu!” Kata Husna sambil menyeka air matanya. ”I... iya Mbak.” Jawab Lia dengan lidah kelu. ”Sebentar Pak.” Husna masuk mencari dompetnya. Ia masukkan dompet itu ke dalam tasnya lalu bergegas keluar menerobos hujan ke mobil sedan polisi. Sepanjang jalan Husna menangis. Ia memandang ke jendela dengan basah air mata. Polisi berkumis tipis itu memperhatikan Husna sesaat. Ia merasa iba pada Husna. ”Menurut saksi mata kakak anda sama sekali tidak salah. Dia sudah mepet ke pinggir. Bus ugal-ugalan itu yang salah. Bus itu juga sempat lari tapi sekarang sudah tertangkap dan sedang kami tangani. Kita doakan semoga kakak dan ibumu bisa di selamatkan.” Kata Polisi menenangkan Husna. * * * Sampai di rumah sakit Husna langsung menghambur ruang gawat darurat. Edited by : Bo372 Bon-q97 ”Suster di mana yang korban tabrakan?” Tanya Husna dengan mata basah pada seorang perawat di depan ruang gawat darurat. ”Pemuda sama ibunya ya?” ”Iya Sus.” ”Mbak siapa?” ”Saya anak ibu itu.” ”Sabar ya Mbak, tabahkan hati Mbak ya?” ”Apa maksud suster?” ”Ibu Mbak tidak bisa kami selamatkan. Beliau sudah bertemu Allah. Kepala beliau mungkin pecah. Darahnya mengalir banyak sekali. Sedangkan kakak Mbak masih kritis. Masih belum sadar.” ”Ibu saya meninggal Mbak?” ”Iya, tabahkanlah hatimu Mbak!” Tangis Husna langsung meledak. ”Bue... bue... oh... bue!” Perawat yang ramah itu merangkul Husna. Terus berusaha menghibur dan menenangkan Husna. Husna merasa bumi bagaikan berputar. Rasanya ia ingin jatuh. Ia juga merasakan seperti ada belati yang dihunjamkan ke ubun ubun kepalanya. Dalam pelukan perawat itu Husna pingsan. * * * Edited by : Bo373 Bon-q97 Ketika Husna sadar, ia mendapati dirinya terbaring dalam sebuah ruangan. Lia, Bu Mahbub dan Bu RT ada di samping. Lia menangis dalam pangkuan Bu RT. Kedua mata Bu Mahbub juga tampak berkaca-kaca. Husna mendengar azan Zuhur berkumandang di kejauhan. Husna ingat yang terjadi langsung menangis. Ia memanggil-manggil ibunya dan kakaknya. Ia bangkit dari ranjang. ”Mau ke mana Na?” ”Mau lihat bue.” ”Sebentar ya. Tadi Pak Mahbub mengambil inisiatif minta kepada rumah sakit untuk sekalian memandikan dan mengkafani. Meskipun hari hujan. Masih ada waktu untuk mengubur jenazah ibumu. Sekarang ibumu sedang dimandikan.” Jawab Bu Mahbub. ”Apa harus hari ini bue dikubur Bu?” ”Katanya menurut sunnah nabi semakin cepat semakin baik.” ”Kasihan Kak Azzam tidak bisa lihat bue.” ”Dia masih belum sadar. Kalau pun sudah sadar juga dia tidak bisa ikut mengubur ibumu.” Husna terus meneteskan air mata. Ia ingin tabah. Tapi ia tetap menangis. Sepertinya baru tadi ibunya minta dibuatkan minum. Sekarang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia jadi ingat dialognya dengan ibunya sebelum ibunya berangkat. Tadi pagi sambil membawa teh hangat ia berkata pada ibunya, Edited by : Bo374 Bon-q97 ”Bue ini aneh-aneh saja, kenapa tidak tadi-tadi tho. Nanti di tempatnya Pak Kiai Lutfi kan pasti dikasih minuman.” Ibunya lalu menjawab ”Teh buatanmu lain rasanya Na. Enak. Ibu ingin meminumnya barangkali untuk kali terakhir.” Air mata Husna meleleh. Ternyata benar, itulah teh yang ia buatkan untuk ibunya terakhir kalinya. Setelahnya ia tidak bisa membuatkan lagi untuk ibunya. Ia juga teringat kata-kata ibunya setelah minum teh buatannya, ”Enak sekali Na. Kalau entah kapan nanti ibu tiada, jagalah kakak dan adikmu ya Na.” Dan benar, kini ibunya telah tiada. Kakaknya masih kritis belum sadar juga. Kata-kata ibunya seperti menyadarkannya. Ia harus kuat. Ia harus bangkit. Ia tidak boleh lemah. ”Lia.” Ia memanggil adiknya. Lia bangun dan memeluk kakaknya. ”Mbak bue sudah tidak ada. Kita tidak punya orang tua lagi Mbak. Kak Azzam kalau mati juga bagaimana KaK.” ”Kita harus tabah adikku. Kita doakan semoga Kak Azzam selamat. Semoga Allah tidak memanggil dua-duanya.” ”Iya Mbak.” Husna memeluk adiknya kuat-kuat. Sesedih apapun dirinya, saat ini dialah sang kakak. Dialah yang harus mengambil langkah dan keputusan. Ia melepas pelukan adiknya. Lalu dengan penuh cinta menyeka air mata adiknya. ”Dik, kita sudah besar dan dewasa. Kita harus saling dukung. Kita akan hadapi ini bersama. Kita akan hadapi ini bersama.” ”Iya Mbak.” Pelan Lia di sela-sela isaknya. Edited by : Bo375 Bon-q97 Husna menoleh ke Bu Mahbub, ”Di mana Pak Mahbub Bu?” ”Di depan sedang berbincang bersama Pak RT dan Pak War.” Husna langsung ke depan diikuti Lia, Bu Mahbub dan Bu RT. ”Nak Husna.” Sapa Pak Mahbub, ”Kami semua ikut berduka cita.” ”Terima kasih Pak. Menurut Pak Mahbub, enaknya bagaimana?” Tanya Husna. ”Begitu sampai di sini tadi saya diberi tahu oleh petugas bahwa ibumu meninggal. Bisa jadi meninggal di tempat atau di jalan. Yang jelas sampai di UGD nyawa beliau sudah tiada ada. Saya langsung inisiatif minta para pemuda untuk menggali kubur. Hujan di sana sudah reda. ”Karena kepala ibumu maaf mungkin retak atau pecah dengan darah yang begitu banyak, saya langsung minta pihak rumah sakit menjahit lukanya terus memandikan dan mengafaninya sekalian. Sekarang sedang dikafani. Menurut Bapak sebaiknya hari ini juga dikebumikan. Menurut sunnah kan menyegerakan penguburan sernakin cepat semakin baik. Tapi semua keputusan ada di tangan kamu dan Lia.” Kata Pak Mahbub dengan suara bergetar. ”Bagaimana menurutmu Dik?” Tanya Husna. ”Kalau yang terbaik hari ini juga dimakamkan, dan itu memungkinkan itu lebih baik. Sebab setelah ini kita masih akan menunggu Kak Azzam.” Jawab Lia. ”Kau benar Dik. Kalau begitu kita kuburkan sekarang.” Ucap Husna. Edited by : Bo376 Bon-q97 ”Kalau boleh usul lagi,” kata Pak Mahbub, ”Sebaiknya, nanti ada salah satu di antara kalian yang di sini. Sewaktu waktu Azzam bangun, dia langsung ada yang menghiburnya. Langsung ada yang mendengar suaranya kalau dia pesan sesuatu.” ”Iya Pak. Biar saya di sini, dan Lia pulang bersama jenazah ibu.” Seorang perawat laki-laki datang, ”Pak Jenazah sudah siap di ruang sana.” ”Ayo kita ke sana.” Seru Pak Mahbub. Semua yang ada di situ langsung bangkit menuju ruang jenazah mengikuti perawat. Hati Husna berdebar debar. Seperti apa wajah ibunya. Tiba-tiba ia merasa sangat rindu pada ibunya, padahal baru tadi pagi ia membuatkan teh hangat untuknya. Husna melangkah memasuki ruang jenazah. Hanya ada satu jenazah. Tak lain dan tak bukan jenazah ibunya. ”Posisinya sudah kami buat seperti ini. Kalau ada yang mau shalat jenazah di sini boleh.” Kata perawat itu. Husna melangkah mendekati jenazah ibunya. Kepala ibunya yang mulia itu diperban. Mukanya bersih menyungging senyum. Ada sedikit darah di keningnya, tak bisa tidak tangisnya meledak kembali. Ia ciumi wajah ibunya dengan keharuan luar biasa. Hidungnya ia ciumkan ke mulut ibunya. Ia seperti mencium bau wangi teh yang tadi pagi di minum ibunya. Ia kembali terisak. ”Sudah Nak, tabahkanlah hatimu!” Kata Pak Mahbub. Husna bangkit gantian Lia yang menciumi wajah ibunya dengan terisak-isak. ”Bue aku mencintaimu Bue.” Hanya itu yang dikatakan Lia. Edited by : Bo377 Bon-q97 ”Husna, Lia, shalatilah ibumu di sini. Sebentar lagi jenazah ibumu akan dibawa ke Sraten.” ”Baik Pak.” Jawab Husna dan Lia. Dua gadis itu lalu mengambi air wudhu dan menshalati ibunda mereka tercinta. Setelah dishalati jenazah itu dibawa ke mobil jenazah ke dukuh Sraten, Kartasura. Lia dan Bu Mahbub ikut dalam mobil jenazah. Sementara Pak Mahbub, Pak RT, Bu RT dan Pak War ikut mobil Pak War. Sore itu dukuh Sraten hujan air mata. Kiai Lutfi yang diberitahu Pak Mahbub langsung datang seketika didampingi Bu Nyai dan Anna. Pak Kiai menangis mendengar cerita tragis yang menimpa Azzam dan ibunya. Pak Kiai Lutfi merasa sangat berdosa. ”Maafkan saya Nak Lia, kalau saja saya menerima permintaan ibumu mungkin akan lain ceritanya.” Kata Pak Kiai pada Lia. ”Kematian itu kalau sudah datang tak bisa dielakkan Pak Kiai. Tak ada salah Pak Kiai sama sekali. Yang salah ya sopir bus yang ugalugalan itu.” Lirih Lia. Sore itu jenazah Bu Nafis, ibunda Azzam, dimakamkan di bawah langit yang mendung diiringi ratusan orang termasuk Kiai Lutfi. Yang membuat masyarakat takjub, meskipun paginya hujan tetapi lubang untuk mengubur Bu Nafis tidak keluar mata air. Hanya basah saja. Selesai mengubur ibunya Lia diantar oleh Anna dengan mobilnya pergi ke PKU Muhammadiyah Delanggu untuk menemani Husna yang sendirian di sana. Edited by : Bo378 Bon-q97 26 DALAM DUKA Husna menunggui kakaknya dengan terus berzikir kepada Allah dan memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah. Pipi kiri kakaknya berdarah. Tangan kiri kakaknya berdarah. Juga kaki kiri kakaknya. Ada selang kecil yang dimasukkan ke tangan kanannya. Alat pendeteksi detak jantung kakaknya ada di samping ranjang. Ia terus berdoa kepada Allah agar kakaknya segera siuman. Orang yang sangat dicintainya itu kini terkulai tak berdaya. Dengan beberapa bagian tubuh terkoyak dan berdarah. Pukul lima sore, ia melihat tangan kakaknya bergerak. Lalu kedua kelopak matanya bergerak. Lalu perlahan membuka. ”Kak Azzam.” Lirihnya dengan linangan air mata. Azzam membuka kedua matanya. ”Allah.” Itulah kalimat yang keluar dari getar bibirnya. Ia mengerjapkan matanya. Lalu melihat adiknya, ”Husna.” Edited by : Bo379 Bon-q97 Husna berusaha tersenyum pada kakaknya. ”Iya Kak. Alhamdulillah kakak sudah siuman.” ”Ini rumah sakit ya?” ”Iya.” ”Mana bue?” ”Tenang kak. Bue baik di tempat istirahatnya.” ”Maafkan Kakak ya Dik. Kakak kecelakaan. Bue pasti kesakitan. Maafkan.” Lirih Azzam sambil berlinang air mata. Azzam berusaha menggerakkan badannya. Namun nyeri luar biasa. Seorang perawat mendekat. ”Sudah siuman?” ”Alhamdulillah. Sudah Mbak.” ”Begini, pertolongan pertama sudah kami lakukan. Masa kritis kakak Anda sudah lewat. Agar lebih terjaga. Sebaiknya kakak Anda dirawat di Solo, di sana peralatan lebih lengkap. Terutama untuk operasi tulang. Kami lihat kaki kiri kakak Anda patah. Semakin cepat dioperasi akan semakin baik. Kami akan memberi rujukan silakan pilih rumah sakit mana yang Mbak pilih.” Jelas perawat itu ”Yarsi bisa Mbak?” ”Bisa. Kalau begitu kami akan siapkan segalanya secepatnya.” ”Pokoknya siapkan yang terbaik untuk kakak saya.” ”Baik.” Perawat itu pergi. Kedua mata Azzam berkaca-kaca mendengar percakapan perawat itu dengan adiknya. Ia tahu apa yang terjadi pada Edited by : Bo380 Bon-q97 dirinya. Kakinya patah harus dioperasi. Ia akan terkapar di rumah sakit dalam waktu yang lama. Dan ia akan istirahat di rumah dalam waktu yang lama. Di Cairo dulu pernah ada mahasiswa Indonesia yang dioperasi karena patah tulang saat sepakbola. Dan untuk sembuh ia harus istirahat yang lama. ”Jika kaki kakak patah, lalu bue bagaimana Dik?” ”Dia baik Kak, sedang istirahat.” ”Jelaskan pada Kakak.” ”Kakak jangan mikir bue dulu.” ”Terus bue sama siapa sekarang?” ”Sama Lia. Bue sudah dibawa pulang tadi.” ”Jadi bue tidak apa-apa?” ”Sekarang sudah tidak apa-apa. Bue sudah tenang.” ”Syukurlah.” Kata Azzam sambil memejamkan mata. ”Ambulan sudah siap. Kita bisa langsung ke Solo.” Perawat tadi datang lagi. ”Kita langsung berangkat Mbak?” ”Iya. Tapi Mbak selesaikan dulu administrasinya di sana ya. Kami akan membawa kakakmu ke ambulan.” ”Baik.” Husna melangkah ke bagian administrasi. Dua perawat pria datang dan mendorong ranjang Azzam menuju ambulan. Ketika melangkah ke bagian administrasi Lia dan Anna datang. ”Semoga musibah ini jadi sumber pahala ya Na. Kami ikut berduka.” Lirih Anna sambil merangkul Husna. ”Terima kasih sudah mau Edited by : Bo381 Bon-q97 datang.” Jawab Husna ”Bagaimana kak Azzam Mbak?” Tanya Lia ”Ada tulang yang patah, ini mau dirujuk ke Solo yang lebih lengkap peralatannya. Kak Azzam harus operasi tulang.” ”Inna lillah.” Lirih Lia. ”Kasihan dia. Semoga kakakmu diberi ketabahan oleh Allah.” Ucap Anna pelan. ”Dik kau bawa uang? Kakak cuma ada tiga ratus ribu. Kita harus selesaikan administrasi dulu baru berangkat. ”Saya cuma ada seratus ribu. Ayo coba dulu berapa semuanya.” Kata Husna sambil melangkah ke loket. ”Yang mau dipindah ke Solo ya?” Tanya pegawai loket. ”Iya.” ”Semuanya satu juta setengah Mbak. Sudah semuanya. Sudah termasuk biaya dua ambulan.” ”Dik Lia, gimana nih. Kita cuma ada empat ratus ribu.” Husna agak bingung. ”ATM kakak?” Tanya Lia. ”Kosong, sudah habis untuk persiapan nikah.” Husna panik. ”Masih kurang berapa? Pakai uangku dulu saja.” Anna tahu kepanikan Husna dan Lia. ”Satu juta seratus Mbak.” Jawab Husna. ”Tunggu aku ambil dulu di ATM.” Anna melangkah keluar mengambil uang di ATM. Tak lama kemudian Anna datang dan menyerahkan uang kepada Husna. Edited by : Bo382 Bon-q97 ”Kelihatannya banyak sekali. Berapa ini Mbak?” Tanya Husna. ”Aku ambil lima juta. Pakai saja dulu. Nanti di Solo kalian pasti perlu ini itu.” ”Terima kasih Mbak. Insya Allah nanti saya kembalikan secepatnya. Sebenamya saya yakin Kak Azzam masih punya uang.” ”Sudah biarkan Mas Azzam itu tenang dulu. Nggak usah mikir uang dulu kasihan dia.” Kata Anna. Setelah membereskan administrasi mereka berangkat ke Solo. Gantian Lia yang menemani Azzam di mobil ambulan. Dan Husna ikut mobil Anna Althafunnisa. Hari Sudah mulai gelap ketika mereka masuk di R.S. Yarsi. Begitu sampai Husna langsung bilang kepada pihak rumah sakit, ”Tolong berikan yang terbaik untuk kakakku. Operasi yang terbaik. Berapa pun biayanya tidak jadi soal. Saya yang menanggung. Ini kartu identitas saya Ayatul Husna, Psikolog dan Dosen di UNS.” Kata-kata Husna tegas. Ia tahu banyak rumah sakit yang kurang memperhatikan pasien hanya gara-gara sang pasien atau keluarga pasien dianggap tidak punya biaya. ”Baik.” Jawab pihak rumah sakit. Diam-diam Anna kagum juga dengan ketegasan Husna. Tiba-tiba ia merasa kecil dibandingkan gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis yang ditempa oleh pelbagai masalah kehidupan. Dan ketika ia kagum pada gadis itu maka mau tak mau ia harus kagum pada kakaknya. Kakaknyalah yang mendidik adiknya itu dari jarak jauh. ”Tadi kami sudah berusaha mencegah bue. Kak Azzam juga sebenarnya tidak mau. Tapi bue ngotot. Sebelum pergi bue minta dibuatkan teh hangat. Bue berkata, ’Teh buatanmu lain rasanya Na. Edited by : Bo383 Bon-q97 Enak. Ibu ingin meminumnya barangkali untuk kali terakhir.’ Ternyata memang itulah terakhir kalinya minum teh hangat buatanku.” Husna bercerita sambil berlinang air mata pada Anna. Hal itu malah membuat mata Anna berkaca-kaca. ”Iya tadi di rumah beliau juga minum teh buatanku. Kelihatannya beliau ceria sekali. Abah sempat menawarkan agar beliau saya antarkan pulang ke rumah pakai mobil. Tapi beliau tidak mau. Beliau ngotot menerobos gerimis bersama Mas Azzam ke rumah Kiai Kamal. Abah sangat menyesal dalam hal ini, karena tidak memenuhi harapan ibumu.” Kata Anna terisak. Di dalam hati Anna merasa dirinyalah pangkal musibah ini. Abahnya menolak mengisi pengajian di acara walimah itu karena merasa terpukul dengan kegagalan pernikahannya dengan Furqan. Maka dialah pangkal musibah ini. Itulah perasaan berdosa Anna yang menggelayut di pikirannya. ”Abahmu tidak salah. Memang sudah tiba ajalnya. Orang kalau sudah tiba ajalnya ada saja sebab yang menjadi perantaranya.” Ujar Husna pada Anna. ”Kau benar. Terus bagaimana dengan pesta perkawinanmu nanti?” ”Itu nanti. Yang sekarang ada dalam pikiranku adalah bagaimana agar kakakku bisa kembali seperti semula. Aku ingin kakakku bisa berjalan seperti semula. Kaki dan tangan kakakkulah yang turut menempa jati diri seorang Husna. Sekarang ini yang aku pedulikan hanyalah kakakku.” ”Kau begitu sayang pada kakakmu.” ”Kalau kau punya kakak seperti dia aku yakin kau pasti sayang padanya.” ”Semoga dia baik-baik saja.” ”Amin.” Edited by : Bo384 Bon-q97 Malam itu Azzam harus masuk ruang operasi. Setelah dirongent ia mengalami patah di betis kirinya, lengan bawah tangan kiri, dan dua tulang rusuk dada kirinya. Ia harus operasi tulang kaki dan tangannya. Husna dan Lia tetap di sana sampai operasi selesai. Anna dengan setia menemani dua gadis yang sedang dalam duka itu. Sesekali Anna keluar membelikan makan buat mereka. Jam dua malam operasi itu selesai. Azzam dimasukkan ke dalam kamar kelas satu. Husna yang minta. Uang bisa dicari belakangan yang penting nyaman. Dokter bedah yang meyakinkan Husna, Lia dan Anna bahwa Azzam akan bisa kembali seperti sedia kala. ”Insya Allah, dia akan pulih lagi. Hanya nanti tentu perlu proses sampai tulang-tulangnya menyatu dan kuat lagi- Kami akan beri obat penyambung tulang terbaik. Bersyukurlah bahwa yang patah bukan tulang belakangnya. Dan alhamdulillah kepalanya tidak apa-apa. Hanya gegar ringan yang itu biasa dalam kecelakaan ringan sekalipun. Saya dulu pernah jatuh dari tempat tidur kepala membentur lantai dan gegar ringan. Insya Allah nanti dia akan sembuh seperti semula. Tenang saja.” Dokter muda yang bernama Yusuf itu dengan sangat ramah menjelaskan secara detil apa yang dialami Azzam. Penjelasan itu membuat hati Husna, Lia dan Anna lega. Mereka bertiga berjaga di rumah sakit itu sampai pagi. Setelah operasi Azzam tertidur. Ia tidak tahu bahwa Anna juga turut menjaganya bersama adik-adiknya. Pagi harinya Pak Mahbub mengantarkan Vivi dan keluarganya menjenguk Azzam. Saat itu Azzam sedang sedih-sedihnya karena diberi tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia. Azzam sudah bisa diajak berbincang bincang siapa saja. Begitu ia tahu Vivi dan keluarganya datang ia menyeka air matanya dan menata jiwanya. Edited by : Bo385 Bon-q97 Vivi menatap Azzam dengan linangan air mata. ”Maafkan saya, mungkin saya harus tetap terbaring di sini. Sehingga saya tidak mungkin ke Kudus untuk akad nikah denganmu. Maafkan. Kita manusia hanya bisa berikhtiar tapi Allah jugalah yang menentukan.” Ucap Azzam pada Vivi yang di dampingi kedua orang tuanya. ”Bersabarlah. Ini musibah kita bersama. Aku akan setia menunggumu, sampai kau sembuh.” Vivi menenangkan Azzam dan membesarkan jiwanya. ”Terima kasih Vivi. Kau baik sekali. Kau tahu berapa lama lagi kirakira akan sembuh. Temanku di Mesir dulu menunggu sampai satu tahun baru dia bisa berjalan. Aku tak ingin mengikatmu dengan rasa kasihanmu padaku. Pertunangan itu belumlah akad nikah. Itu baru semacam perjanjian. Aku tidak ingin menzalimimu. Sejak sekarang aku beri kebebasan kepadamu. Kalau kau sabar menunggu ku maka terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kau ternyata di tengah penantian merasa tidak kuat, maka kau boleh menikah dengan siapa yang kau suka. Aku tahu umurmu sama dengan umurku. Sebentar lagi kau berkepala tiga.” Kata Azzam dengan lapang dada. Husna takjub dengan kata-kata kakaknya itu. Kakaknya benar-benar dewasa cara berpikirnya. Dan hebatnya kakaknya tidak mau dikasihani. Kakaknya masih menunjukkan karakternya sebagai Khairul Azzam yang pantang menyerah. Khairul Azzam yang sangat percaya dan yakin akan karunia Allah. “Aku akan berusaha setia.” Kata Vivi. ”Terima kasih atas kebesaran jiwamu.” Lanjut gadis yang berprofesi sebagai dokter di Puskesmas Sayung itu. Edited by : Bo386 Bon-q97 Setelah merasa cukup Pak Mahbub dan keluarga dari Kudus minta pamit. Sebelum meninggalkan ruangan itu Vivi masih sempat melihatnya kembali. Dan tersenyum padanya sebelum pergi. Azzam berusaha tersenyum. Begitu Vivi pergi Azzam menangis tersedusedu. Ia teringat pesta pernikahannya yang batal. Ia teringat gerbang pernikahan yang ada di depan mata. ”Kenapa kita harus banyak menangis hari-hari ini ya Na?” Tanya Azzam pada adiknya. ”Mungkin Allah sedang menyiapkan cara agar kita bisa tersenyum indah setelahnya.” Jawab Husna. ”Semoga jawabanmu itu benar.” ”Insya Allah kak. Janji Allah bersama kesukaran pasti ada kemudahan.” ”Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.” ”Pasti.” Dan Husna juga membatalkan pernikahannya. Ia mengatakan kepada Ilyas bahwa ia akan menikah setelah kakaknya bisa berjalan. Ia tidak akan meninggalkan kakaknya terkapar sendirian di rumah sakit, sementara ia berbulan madu dengan suaminya. Ia lalu mengatakan kepada Ilyas seperti yang dikatakan kakaknya pada Vivi, ”Mas Ilyas tentu paham bahwa pertunangan itu belumlah akad nikah. Itu baru semacam perjanjian. Au tidak ingin menzalimimu. Sejak sekarang aku berkebebasan kepadamu. Kalau kau sabar menungguku maka terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kau ternyata di tengah penantian merasa tidak kuat, maka kau boleh menikah dengan siapa yang kau suka.” Jawaban Ilyas hampir mirip dengan jawaban Vivi, ”Insya Allah aku akan setia padamu. Akan aku selesaikan dulu masterku baru aku akan menikahimu.” Edited by : Bo387 Bon-q97 ”Terima kasih Mas.” Azzam dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari. Selama sepuluh hari, hampir setiap hari selalu ada yang datang menjenguk. Selain warga dukuh Sraten, karyawannya di bisnis bakso dan foto copy, banyak juga jamaah pengajian Al Hikam yang datang. Setiap kali ada yang datang, semangat hidup Azzam berkobar, semangatnya untuk sembuh menyala. Dalam sebuah perenungan akan duka yang dialaminya, Azzam menulis puisi dalam hatinya untuk meneguhkan jiwanya: dalam duka kita berguru pada hujan yang terus menyiram arang hitam dengan kesabaran siang malam kuncup-kuncup pun bermekaran meneguhkan harapan-harapan Pada hari ke delapan dan ke sembilan Azzam dilatih bagaimana menggunakan krek. Setelah dilihat bisa menggunakan krek dengan baik dan pengaruh gegar kepalanya hilang Azzam diperbolehkan pulang. Dokter menyarankan untuk banyak di rumah dulu dan menasihati untuk tidak sekali-kali berjalan atau berdiri tanpa bersandar pada krek. ”Kau boleh lepas krek, kalau aku sudah mengatakan kau boleh lepas!” Demikian kata Dokter Yusuf sesaat sebelum pulang. Pada saat ia siap untuk keluar kamar Kiai Lutfi datang, bersama Bu Nyai dan Anna. Kiai Lutfi minta maaf kepada Azzam atas peristiwa Edited by : Bo388 Bon-q97 pagi hari itu. Kiai Lutfi tak henti hentinya menyesali penolakannya waktu itu. ”Kalau aku penuhi permintaan ibumu mungkin tidak terjadi kecelakaan. Sungguh aku mohon maaf Azzam. Aku merasa berdosa.” Kata Kiai Lutfi. ”Pak Kiai tidak salah. Ini sudah tercatat di sana.” Jawab Azzam sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas. ”Terus bagaimana dengan kelanjutan pernikahanmu?” Tanya Kiai Lutfi. ”Biarlah Allah yang menentukan.” Jawab Azzam. Edited by : Bo389 Bon-q97 27 JIWA YANG BANGKIT Azzam harus menunggu kesembuhannya di rumah. Dokter mengatakan ia baru boleh lepas krek kira-kira jika sudah sepuluh bulan sejak dioperasi. Azzam hanya bisa beraktivitas di dalam rumah. Bulan pertama aktivitasnya ada di kamarnya, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Yang paling susah saat ia akan mandi atau buang air besar. Perban yang ada di kaki kiri dan tangan kiri tidak boleh terkena air. Untuk buang air besar ia tidak bisa jongkok. Sangat susah jongkok dengan kaki satu. Dan jika ia nekat jongkok maka tulang rusuknya yang patah akan terasa sakit. Luar biasa sakitnya. Husna punya akal. Ia mengambil kursi kayu. Lalu minta kepada Kang Paimo agar melubangi bagian tengahnya. Sehingga Azzam bisa duduk ketika buang air besar. Juga bisa duduk saat mandi. Husna sangat perhatian pada kakaknya. Sebelum mandi dia begitu teliti mencari plastik dan membungkus kaki kiri dan tangan kiri Azzam dengan plastik. Sehingga perbannya tetap kering dan aman. Edited by : Bo390 Bon-q97 ”Kakak kalau mandi sebaiknya duduk saja. Kaki kiri diselonjorkan. Pokoknya jangan pernah sekali-kali bertumpu dengan kaki kiri. Ingat kaki kiri Kakak patah dan belum tersambung betul. Dan kalau mengambil air hati-hati. Tangan kiri diangkat ke atas. Jangan sampai perban basah. Luka bekas operasi belum kering.” Begitu kata Husna selalu mengingatkan setiap kali Azzam mau mandi. Husna seolah menjadi ibu Azzam, juga sekaligus perawat Azzam yang setia, bahkan teman berbagi duka yang tiada duanya. Jika Husna tidak ada maka Lia dengan setia membantu kakaknya. Memasuki bulan ketiga Azzam mulai jenuh terus di rumah ia seperti hidup dalam rumah tahanan. Ia minta pada Husna agar memanggil Kang Paimo. Lalu ia minta pada Husna agar menemaninya keliling kota Solo dengan mobil yang dikemudikan Kang Paimo. Ia tengok warung baksonya yang sempat tutup beberapa minggu. Husnalah yang berinisiatif agar warung baksonya tetap buka. Selama Azzam berada di rumah, hampir setiap minggu selalu ada tamu yang datang mengunjunginya. Baik tamu itu para tetangga, jamaah pengajian Al Hikam, maupun teman atau kenalan yang datang mengejutkan. Suatu hari Eliana datang dengan memakai busana muslimah yang sangat modis. Putri Dubes itu tampak anggun dan mempesona. Eliana kaget melihat kondisi yang menimpa Azzam dan keluarganya. Bintang sinetron itu menitikkan air matanya ketika Husna menceritakan apa yang menimpa keluarganya. ”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Ibu telah tiada. Padahal aku ingin kembali mencium tangannya. Aku bawakan kerudung Turki untuk ibu. Oleh-oleh dari umroh dua minggu yang lalu.” Ucap Eliana dengan muka sedih. ”Jadi syuting film di Solo Mbak?” Tanya Lia. Edited by : Bo391 Bon-q97 ”Besok insya Allah mulai syuting. Saya datang lebih awal agar bisa mampir di sini. Ada yang aku rindukan di sini.” Jawab Eliana. ”Siapa yang dirindukan Mbak?” Tanya Lia lagi. ”Dia.” Kata Eliana sambil menunjuk Azzam. ”Entah kenapa akhirakhir ini hati aku terasa tidak enak. Aku heran kok terbayang dia selalu. Jawabannya baru aku ketahui setelah sampai di sini.” Lanjutnya. Gadis lulusan EHESS Prancis itu begitu berterus terang dengan santainya. Azzam merasakan getaran lembut mendengar perkataan Eliana. Azzam langsung mengingat tunangannya di Kudus sana. Lia yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya langsung bertanya, ”Apa Mbak mencintai kakak saya?” Azzam dan Husna kaget mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Lia. Sementara Eliana kaget sesaat namun langsung bisa menguasai dirinya. Dengan menunduk dia berkata, ”Sejak di Alexandria dulu, ketika aku mau memberinya hadiah ciuman dan dia tidak mau. Dia bersikukuh memegang teguh prinsip-prinsip Islam yang diyakininya, aku tahu kakakmu ini orang yang berkarakter dan berjiwa. Sejak itu aku sudah mencintainya. Tapi aku gengsi untuk menyampaikan padanya.” ”Kalau sekarang setelah kecelakaan ini apa Mbak masih suka padanya?” ”Kecelakaan seperti ini biasa saja. Nanti juga sembuh seperti sedia kala. Kecelakaan seperti ini hanyalah kecelakaan fisik ringan tak akan mengubah orang yang hatinya ada cinta. Jika kecelakaannya adalah kecelakaan moral seperti zina misalnya maka itu akan menghilangkan cinta. Rasa sukaku masih sama.” ”Sayang Mbak Eliana menyampaikan ini semua sudah terlambat.” Edited by : Bo392 Bon-q97 ”Maksud Dik Lia.” ”Dia sudah punya tunangan.” Eliana tampak kecewa. ”Mungkin memang belum jodohnya.” Ucapnya pelan. * * * Suatu hari saat ia jalan-jalan lagi keliling kota Solo, ia mampir di warung bakso cintanya di UMS. Para karyawannya tampak lesu. Pengunjung tidak ada seorang pun. Azzam merasa ada yang janggal. Dengan langkah tertatih-tatih pakai krek Azzam bertanya, ”Ada apa sebenarnya? Kalian tampak lesu tidak bergairah?” ”Kita difitnah Mas?” ”Difitnah apa?” ”Kita difitnah bakso kita ada formalinnya. Bahkan lebih keji lagi kita difitnah bakso kita dibuat dari cacahan bangkai tikus.” Azzam kaget. ”Astaghfirullah Benarkah?” ”Iya. Sudah dua hari ini sepi. Ketika saya tanya pada pelanggan setia kita dia berterus terang tidak mau lagi beli bakso kita karena alasan itu.” ”Kalian tahu siapa yang memfitnah?” ”Tidak Mas. Tapi itulah yang beredar di sekitar kampus.” ”Baik. Tenang. Akan aku pikirkan jalan keluarnya. Para mahasiswa saja mudah dihasut dan difitnah rupanya.” Kata Azzam dengan Edited by : Bo393 Bon-q97 kening berkerut. Ia harus segera menemukan jalan terbaik untuk menepis fitnah itu. Kalau tidak usaha andalannya akan gulung tikar. Azzam langsung pulang ke rumah dan bermusyawarah dengan Lia dan Husna. ”Kita lapor saja ke polisi Kak? Lapor saja sama Si Mahras itu, biar diuber siapa pemfitnahnya.” Usul Lia. Namun ia merasa bahwa usul Lia belum benar-benar menyelesaikan masalah. ”Kita pindah usaha saja Kak. Usaha yang lain. Kan masih banyak. Kalau dua hari sama sekali tidak ada yang datang itu artinya sudah sangat payah. Kalau diteruskan benar-benar akan buntung kita.” Kata Husna. ”Itu hanya akan membuat si pemfitnah senang. Memang tujuan dia membuat fitnah ya agar kita tidak jualan bakso. Aku tak mau mundur!” Kata Azzam. Ia terus berpikir bagaimana caranya ia seribu langkah lebih maju dari pesaingnya. Ia yakin yang memfitnahnya adalah salah satu dari pesaing yang tidak ingin dia bangkit dan maju. ”Aku ketemu ide!” Teriak Azzam. ”Apa itu Kak?” Tanya Lia. ”Kita tunjukkan profesionalitas kita. Orang yang suka memfitnah dalam bisnis biasanya adalah orang yang tidak profesional. Orang yang cetek cara berpikirnya. Kita harus lebih maju dan lebih canggih lagi sehingga fitnahnya hanya akan menjadi kentut di tengah padang pasir. Alias tidak ada pengaruhnya. ”Terus apa langkah Kakak?” Tanya Husna. Edited by : Bo394 Bon-q97 ”Kita luruskan isi fitnah itu dengan argumentasi ilmiah. Ketika kita meluruskan sekaligus kita promosi kecanggihan dan kualitas dagangan kita.” ”Caranya bagaimana Kak?” ”Kita dituduh memakai formalin, terus difitnah memakai bangkai tikus. Kita harus luruskan itu. Caranya pertama kita berikan contoh produk kita ke Departemen Kesehatan. Minta keterangan isi kandungan bakso kita. Sekaligus minta keterangan dari Depkes bahwa bakso kita adalah bakso yang menyehatkan. Kedua kita berikan contohnya juga ke MUI kita minta sertifikat halal. Setelah kita sudah dapat sertifikat dari Depkes dan MUI kita kopi sertifikat itu dengan minta legalisasi dari Depkes dan MUI kita sebar ke seluruh penjuru kota Solo. Kita juga akan pasang iklan di Solo Pos kitalah bakso sehat yang utama dan pertama di Indonesia. Bagaimana?” Kata Azzam menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuhnya. ”Kakak memang jagonya bisnis!” Seru Lia. ”Baik aku yang ke Depkes dan Lia yang ke MUI Solo, okay?” sahut Husna. ”Okay.” Jawab Lia. Sambil menunggu sertifikat jadi, sementara warung bakso libur. Begitu sertifikat jadi Azzam langsung membuat semacam grand opening untuk warung baksonya dengan mengundang para aktifis kampus dan aktifis dakwah. Ia juga mengundang beberapa wartawan. Seketika warung baksonya berjubel-jubel pengunjungnya setelah itu. Keuntungannya dua kali lipat lebih banyak. Edited by : Bo395 Bon-q97 Bahkan ada seorang mahasiswa asal Semarang yang tertarik untuk membuka cabang ’Bakso Cinta’ di Semarang. Sejak itu Azzam merasa baksonya layak difranchisekan. Dua cabang langsung ia buka. Di Semarang dan di Jogjakarta. Dengan ketegaran luar biasa Azzam bangkit dari keterpurukannya. Sebenarnya berkali-kali rasa putus asa karena kecelakaan itu hendak membelitnya, tapi ia sama sekali tidak mau rasa putus asa sedikit pun menjamah dirinya. Berkenalan pun ia tidak mau dengan yang namanya putus asa. Ia teringat perkataan Vince Lombard: Once you learn to quit, it becomes a habit. Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa maka akan menjadi kebiasaan! Azzam terus bangkit, pelan-pelan ia merasakan kembali gairah hidup yang sesungguhnya. Setiap kali melihat Husna dan Lia ia merasa bahwa dirinya masih diberi karunia yang agung oleh Allah SWT. Husna dan Lia adalah dua permata jiwanya. Ia sangat menyayangi kedua adiknya itu. Ia berpikir bagaimana jika ia tidak punya adik mereka. Sanggupkah ia melalui hari-hari dukanya dengan penuh ketegaran. Betapa banyak ia temukan seorang kakak memilik adik yang sama sekali tidak hormat pada kakaknya. Adik yang tidak mencintai kakaknya. Ia bersyukur memiliki adik yang sedemikian ikhlas merawatnya dan membesarkan hatinya. Siang itu sepucuk surat datang dibawa oleh Bu Mahbub untuknya. Ia baca pengirimnya adalah Alviana Rahmana Putri alias Vivi. Ia buka surat itu dengan penuh penasaran. Ia terkejut di dalamnya ada cincinnya. Cincin yang dulu dipakaikan ibunya ke jari Vivi. Ia sudah bisa menerka apa isinya. Tapi ia baca juga: Yang saya hormati Mas Khairul Azzam Di Kartasura Edited by : Bo396 Bon-q97 Assalamu’alaikum wr wb Vivi tulis surat ini, sungguh dengan hati hancur, dan linangan air mata yang terus mengalir. Harus Vivi katakan sungguh Vivi sangat mencintai Mas. Tapi inilah Vivi, Siti Nurbaya di abad millenium. Ibu Vivi punya teman Bu Nyai yang punya putra baru pulang dari Syiria. Bu Nyai itu melamar Vivi. Dan ibu lebih memilih putra Bu Nyai itu. Vivi sudah berusaha menjelaskan bahwa Vivi memilih setia pada Mas Azzam. Tapi ibu malah sakit dan meminta aku untuk memilih di antara dua hal; pilih ibu atau pilih Azzam. Saat kau baca suratku ini Mas, kau pasti paham kenapa surat ini aku kirimkan bersama cincin ini. Maafkan diriku, jika kau anggap aku mengkhianatimu. Terima kasih atas kebesaran jiwamu. Wassalam, Yang lemah tiada daya Vivi Ia menangis membaca surat itu. Cincin yang telah ! dipakaikan ibunya di jari Vivi tak ada gunanya. Ia merasa di dunia ini tak ada lagi orang yang setia pada cinta. Betapa mudah hati berubah-ubah. Ia tersedu-sedu sendirian di kamar tamu. Pada saat itulah Husna muncul. Ia serahkan surat itu pada Husna. Seketika Husna berkata,”Jangan cengeng Kak, apakah kakak tidak ingat kakak katakan pada pada Vivi ketika dia menjengukmu. Bukankah kakak mengatakan: Sejak sekarang aku beri kebebasan kepadamu. Kalau kau sabar menungguku maka terima kasihku padamu tiada terhingga. Kalau kau ternyata di tengah penantian merasa tidak kuat, maka kau boleh menikah dengan siapa yang kau suka. Kakak Edited by : Bo397 Bon-q97 harus jadi lelaki sejati yang siap menghadapi dari setiap kata yang telah diucapkan!” Kata-kata Husna itu langsung melecut jiwanya. Ia tidak boleh lemah. Ia harus buktikan pada dunia bahwa ia mampu untuk sukses dan berguna. Ia kembali mengingat perkataan Vince Lombard: Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa maka akan menjadi kebiasaan! ”Kak, yakinlah hanya jari gadis yang berhati bersih yang akan menerima cincin itu. Percayalah Kak!” Husna memberi semangat. ”Ya aku percaya adikku. Hanya gadis yang berhati bersih yang akan menerima cincin ini. Cincin yang dipilih oleh ibu kita tercinta.” ”Oh iya Kak. Bagaimana kalau kakak coba memberikan cincin ini pada Eliana?” Hati Azzam bergetar mendengar usul adiknya. Eliana ya Eliana. Terakhir bertemu, gadis lulusan Prancis itu datang secara terangterangan menyampaikan rasa cintanya padanya. Apakah mungkin gadis itu adalah jodohnya? Apakah dirinya siap memiliki isteri seorang artis yang kecantikannya dinikmati oleh sekian juta pemirsa? Kecantikan itu jadi milik bersama bukan dirinya saja yang memilikinya, karena memang kecantikan itu dijual untuk disuguhkan kepada para pemirsa. Azzam jadi berpikir ketika nama Eliana kembali disebut-sebut adiknya. Azzam terus menumbuhkan harapan sembuh dalam hatinya. Ia begitu iri setiap kali melihat ada anak kecil bisa berlari-lari dan melompat-lompat seenaknya. Ingin rasanya seperti mereka berlari dan melompat seenaknya karena kedua tulang kaki tidak ada Edited by : Bo398 Bon-q97 masalah. Sementara dirinya belum bertumpu pada kaki kirinya. Tak boleh ada beban untuk kaki kirinya. Setelah sepuluh bulan lamanya hidup dalam sepi. Dokter memutuskan Azzam boleh mulai latihan pelan pelan tidak menggunakan krek. Tapi tetap sebagian besar tumpuan tubuh saat berjalan dengan krek. Barulah setelah satu tahun Azzam bisa berjalan normal tanpa krek. Ia sudah kembali bisa mengendarai mobil sendiri. Azzam kembali aktif ke masjid. Juga aktif kembali memberi pengajian Al Hikam di Pesantren Daarul Quran Wangen. Setiap kali Azzam yang mengisi pengajian itu jamaah membludak memenuhi masjid. Dalam bisnis Azzam juga terus bangkit lebih baik. Bakso cintanya kini sudah punya sepuluh cabang di luar Solo. Yaitu di Semarang, Jogja, Salatiga, Klaten, Bandung, Jakarta, Depok, Malang, Surabaya, dan Kudus. Ia bahkan mulai merambah bisnis percetakan dan penerbitan. Ia mulai penerbitannya dengan menerbitkan buku-buku yang ditulis adiknya sendiri yaitu Ayatul Husna. Lambat laun ia dikenal sebagai entrepreneur muda dari Solo yang sukses sekaligus dikenal sebagai dai muda yang mampu menyihir hadirin jika ia sudah ada di atas panggung. Setiap minggu ia punya rubrik khusus tentang motivasi bisnis Islami di radio Jaya Pemuda Muslim Indonesia Solo. Suatu sore setelah shalat ashar di atas mimbar Pesantren Daarul Quran Wangen ia menjelaskan kandungan perkataan Imam Ibnu Athaillah As Sakandari, ”Jamaah yang dimuliakan Allah, Ibnu Athaillah dalam kitab Al Hikamnya mengatakan, ”Memperoleh buah amal di dunia adalah kabar gembira bagi orang yang beribadah akan bakal adanya Edited by : Bo399 Bon-q97 pahala di akhirat.” Maksudnya jika ada orang ikhlas beribadah kepada Allah di dunia ini, dan orang itu merasakan buahnya ibadah itu misalnya ketenangan hati, kejernihan pikiran, keluarga yang sakinah, anak-anak yang shaleh, kerinduan untuk semakin giat beribadah, merasakan kelezatan ibadah dan lain sebagainya. Itu semua menjadi kabar gembira bahwa kelak di akhirat akan ada pahala yang lebih lezat, pahala yang lebih agung dari Allah ’Azza wa Jalla.” Edited by : Bo400 Bon-q97 28 BARAKAH CINCIN IBU ”Bagaimana Kak? Mau mencoba memberikan cincin itu pada Eliana? Kalau kakak malu, biar Husna yang bilang sama dia.” ”Na, hatiku masih bimbang.” ”Insya Allah dia bisa jadi isteri yang baik. Aku sudah baca di koran dia sudah berniat tidak akan melepas jilbabnya setelah umrah.” ”Dunia yang kuimpikan rasanya berbeda dengan dunia yang diimpikannya. Aku juga belum menerima kecantikan isteriku setiap hari dinikmati jutaan orang. Di antara jutaan orang itu mungkin ada yang membayangkan yang bukan-bukan ketika melihat wajah isteriku di layar kaca. Entah kenapa aku belum bisa. Mungkin aku ini kolot dan koneservatif. Ya inilah aku. Jelas Azzam pada Husna. ”Husna paham yang Kak Azzam inginkan. Bagaimana kalau Kak Azzam coba cari di pesantren. Kan ada ribuan santriwati di Solo dan sekitarnya ini. Kakak minta tolong aja sama pengasuhnya. Minta satu Edited by : Bo401 Bon-q97 saja santriwatinya. Masak sih tidak juga ada satu orang pun yang mau.” ”Mungkin ini juga ikhtiar yang harus kakak tempuh.” ”Ya coba saja Kak. Kata orang Arab yang sering Husna dengar dari para ustadz man jadda wajada. Siapa yang sungguh-sungguh akan mendapatkan apa yang diinginkannya.” ”Benar Dik. Tapi enaknya ke pesantren mana ya?” ”Menurut Husna ya dimulai yang paling dekat dan paling dikenal. Tak ada salahnya dicoba dulu Pesantren Wangen.” ”Masak muternya ke Pesantren Wangen lagi?” ”Kenapa memangnya?” ”Malu sama Kiai Lutfi.” ”Malu kalau dikira mau melamar anaknya yang janda? Ya kakak jelaskan saja minta santriwatinya. Kakak jelaskan apa adanya. Minta santriwati yang cocok untuk kakak. Pak Kiai pasti akan bijak dan legowo. Banyak juga kok kak santriwati di Wangen yang tak kalah dengan Vivi.” Husna mencoba menyemangati kakaknya. ”Oh ya kak hampir lupa. Husna pernah hutang sama Anna lima juta untuk biaya administrasi rumah sakit. Mumpung ingat. Kakak bayarkan ya. Kalau bisa hari ini biar tidak lupa lagi. Tidak enak rasanya. Sudah hampir satu tahun lho kak. Jangan-jangan Anna sebenarnya perlu dengan uang itu tapi malu menagihnya.” ”Baik nanti sore insya Allah kakak akan ke sana.” * * * Sore itu Kiai Lutfi dan Bu Nyai Nur membantu putrinya Mengemasi dan merapikan barang-barang yang akan dibawa terbang ke Cairo. Sudah satu tahun lebih Anna di Indonesia. Tesis yang ditulisnya Edited by : Bo402 Bon-q97 sudah dua pertiga. Tinggal sepertiga lagi hendak dirampungkan di Mesir. ”Jangan lama-lama di sana ya Nduk?” Tanya Pak Kiai Lutfi. ”Insya Allah Bah. Anna akan berusaha secepatnya. Yang sering jadi kendala itu justru administrasi di Fakultas yang sering berbelit dan molor Bah. Sering juga yang jadi kendala adalah promotor yang sering terbang ke luar negeri. Sebab-sebab itu yang seringkali membuat tesis jadi tidak selesai-selesai. Ya doakan saja Bah.” ”Tak pernah putus Abah dan Ummimu berdoa untukmu anakku. Oh jadinya naik apa ke Caironya?” ”Kata teman yang mengurus di Jakarta naik Etihad Bah. Katanya itu sekarang yang paling murah.” Mereka bertiga ada di ruang tengah. Ruang itu dengan ruang tamu disekat dengan kaca riben hitam tebal. Sehingga dari ruang tengah bisa melihat ruang tamu dan tidak sebaliknya. Hanya bertiga mereka menata pakaian, oleh-oleh, dan buku-buku yang akan dibawa Anna ke Cairo. ”Kalau di Cairo kau rasa ada yang cocok untuk jadi suami ya tidak apa-apa kau nikah di sana Nduk. Kau kan sudah janda, sudah lebih bebas menentukan pilihanmu. Nanti Abah bisa kirim surat taukil32 ke KBRI untuk menikahkan kamu.” Seloroh Pak Kiai Lutfi. ”Anna agak trauma dengan pilihan Anna Bah. Anna sudah berjanji pada diri Anna sekarang Anna serahkan pada Abah dan Ummi siapa yang akan mendampingi hidup Anna. Sekarang Anna sudah tidak sedikitpun mempertimbangkan fisik lagi. Ibaratnya kalau ada orang 32 Surat kuasa mewakilkan. Edited by : Bo403 Bon-q97 buta jadi pilihan Abah, Anna akan terima dengan kelapangan hati.”Jawab Anna. ”Masak Ummi sama Abah mau memilihkan yang begitu untukmu.” Tukas Bu Nyai Nur. ”Itu ibarat saja Mi. Tapi seandainya benar juga tidak ada masalah. Orang buta, apalagi butanya sejak kecil malah tidak banyak maksiat. Di Mesir banyak guru besar yang buta. Tapi keilmuan dan ketakwaannya luar biasa.” Ketika sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba...”Assalamu ’alaikum”. Pak Kiai Lutfi, Bu Nyai dan Anna spontan melihat ke arah pintu depan. Mereka agak kaget ketika tahu siapa yang datang. Azzam. Setelah menjawab salam, Pak Kiai Lutfi langsung bangkit dan menemui tamunya. Azzam mencium tangan Kiai Lutfi dengan rasa ta’zhim. Anna melihat apa yang dilakukan Azzam. Entah kenapa hati Anna berdesir-desir. ”Dari mana Zam?” Pak Kiai Lutfi membuka percakapan sambil menyandarkan punggungnya di sofa yang terbuat dari busa. ”Biasa Pak Kiai, dari warung bakso. Namanya juga penjual bakso.” ”Wah besok kalau kau punya anak bakal senang itu anakmu. Tiap hari bisa makan bakso. Habis bakso kau buka saja warung pecel lele. Biar tiap hari makan Lele. Sampai mukanya kaya Lele. He... he... he...!” ”Wah Pak Kiai ini bisa saja kalau bercanda.” Sahut Azzam sambil tersenyum. Edited by : Bo404 Bon-q97 Di dalam Bu Nyai Nur dan Anna tersenyum mendengar cara Kiai Lutfi bercanda. ”Nduk, Abahmu itu bisa saja bercanda. Oh ya Nduk, Ummi ke belakang dulu. Ummi lupa mengambil jemuran. Sri belum pulang.” Kata Bu Nyai setengah berbisik. ”Biar Anna saja yang mengambilnya Mi.” Lirih Anna ”Tidak usah, biar Ummi saja. Kau teruskan saja mengemasi barang-barangmu.” ”Bagaimana dengan kesehatanmu Zam?” ”Alhamdulillah sudah baik semua Pak Kiai. Seperti yang Pak Kiai lihat, saya sudah bisa berjalan seperti semula. Tangan yang patah sudah tersambung seperti semula. Dan tulang iga yang patah juga sudah baik lagi. Rongent terakhir semuanya sudah tak ada masalah menurut dokter. Hanya saja pen-nya belum diambil. Mungkin ya diambil satu dua tahun lagi.” ”Alhamdulillah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Terus ngomong-ngomong ini ada perlu apa kamu sore ini kemari. Kok rasanya agak berbeda dengan biasanya?” ”Begini Pak Kiai, ternyata kami masih punya hutang sama Anna. Hampir kelupaan. Mohon sampaikan maaf pada Anna. Dulu Husna pernah pinjam uang lima juta pada Anna untuk bayar administrasi rumah sakit. Ini saya datang untuk membayar hutang itu.” Azzam menjelaskan maksud kedatangannya. Di dalam, Anna sangat berharap agar ayahnya menolak uang itu. Agar uang itu dianggap lunas saja. Tapi Kiai Lutfi justru menjawab, ”Ini namanya rezeki. Kau datang tepat waktu Zam. Kebetulan Anna mau pergi jauh. Itu bisa untuk uang saku baginya. Terima kasih Zam.” Edited by : Bo405 Bon-q97 ”Pergi ke mana, kalau boleh tahu Pak Kiai?” ”Kembali ke Cairo. Dia mau menyelesaikan S2-nya. ”Alhamdulillah, semoga segera selesai. Ummat ini memerlukan ahli fiqh seperti Anna. Kalau perlu dia harus sampai doktor Pak Kiai. Saya sangat kagum padanya saat melihatnya jadi moderator.” ”Di mana?” ”Di Auditorium Shalah Kamil. Bahasa Arab dan Inggrinya bagus. Dia sampai jadi pembicaraan para mahasiswa di kampus lho Pak Kiai. Sampai ada yang ingin menyuratinya. Ada saja yang ingin meminangnya, dan lain sebagainya. Namanya juga anak muda.” ”Dan kau juga ikut membicarakannya?” ”Kalau saya ya beraninya dalam batin saja Pak Kiai. Lha saya ini siapa, saat itu hanya dikenal mahasiswa yang tidak lulus-lulus karena jualan bakso. Mana berani ikut ikutan memmbicarakan dia.” Anna jadi teringat dengan seminar sehari tentang Ulama Permpuan di Asia Tenggara yang diadakan PMRAM, HW, PPMI, Wihdah dan ICMI di Auditorium Shalah Kamil Universitas Al Azhar. Sebuah seminar akbar yang dikuti oleh mahasiswa Asia Tenggara yang ada di Mesir. Dan saat itu ia didaulat untuk jadi moderatornya. Anna berkata dalam hati, ”Oh ternyata dia juga ikut seminar itu, pantas dia tahu.” ”O iya Pak Kiai, saya masih ada perlu satu lagi.” Kata Azzam sambil memandang wajah Kiai Lutfi. Wajah itu tampak begitu teduh dan sejuk. ”Apa itu?” Edited by : Bo406 Bon-q97 ”Saya mau sedikit minta tolong pada Pak Kiai. Begini Pak Kiai, cincin ini yang membeli dan memilih adalah almarhumah ibu.” Kata Azzam dengan bibir bergetar. Jantungnya mulai berdegup semakin kencang. ”Azzam sudah berikhtiar pelbagai macam jalan dan acara untuk menemukan jari yang cocok memakai cincin ini. Terakhir sudah terpasang cincin ini pada jari seorang gadis dari Kudus. Dan tinggal menunggu hari akad nikah ternyata musibah jadi penghalang. Cincin ini dikembalikan. Dan gadis itu menikah dengan orang lain.” ”Pak Kiai, sore ini Azzam datang kemari juga dalam rangka ikhtiar mencari jari siapa yang cocok dan pas menerima cincin ini. Di sini ada ratusan santri perempuan tidak adakah satu orang saja yang pantas dan mau memakai cincin ini? ”Pak Kiai, Azzam titipkan cincin ini pada Pak Kiai sebab Azzam merasa berat untuk menyimpannya, begitu Pak Kiai merasa ada yang pantas memakainya silakan Pak Kiai pakaikan di jarinya. Azzam akan sami’na wa atha’na. Azzam akan memejamkan mata dan ikut pada apa yang Pak Kiai pilihkan.” Dengan penuh pasrah Azzam menyerahkan cincin yang dibelikan ibunya itu pada Kiai Lutfi. Tak jauh dari situ, hanya beberapa meter saja jaraknya, di balik kaca hitam pekat tak terlihat, seorang perempuan bermata indah mendengarkan kalimat-kalimat Azzam dengan hati penuh harap. Penuh harap agar cincin itu disematkan saja dijarinya. Kiai Lutfi langsung paham apa maksud Azzam menyerahkan cincin itu padanya. ”Nak, aku mau cerita, sebuah kisah nyata, maukah kau mendengarkan?” Kata Kiai Lutfi. ”Ya Pak Kiai, dengan senang hati dan lapangnya dada.” Edited by : Bo407 Bon-q97 ”Ada seorang gadis yang halus hatinya. Patuh dan bakti pada kedua orang tuanya. Apapun yang diinginkan orang tuanya pasti dikabulkannya. Gadis itu shalihah insya Allah. Gadis itu sangat takut pada Tuhannya. Cinta pada nabinya. Bangga dengan agama yang dipeluknya. Suatu hari gadis itu dilamar pemuda yang dianggapnya akan membahagiakannya. Ia menerima lamarannya. Kedua orang tuanya merestuinya. Nikahlah gadis itu dengan sang pemuda. Hari berjalan. Bulan berganti bulan. Orang tuanya beranggapan bahwa putrinya telah menemukan kebahagiaannya. Tenyata anggapan itu tidak sama dengan kenyataan. Enam bulan menikah pemuda yang menikahinya tidak mampu melakukan tugasnya sebagai suami. Gadis itu masih perawan. Masih suci. Pemuda itu lalu menceraikannya. Sejak sekarang pertanyaanku. Maukah kau menikah dengan gadis itu?” Hati Anna bergetar hebat. Air matanya meleleh. Hatinya penuh harap semoga Azzam menerima gadis itu. Sebab gadis yang diceritakan Abahnya pada Azzam adalah dirinya. ”Dia shalihah Pak Kiai?” ”Insya Allah.”. ”Jika Pak Kiai yang menjamin, maka saya mau!” ”Kau tidak ragu?” ”Saya mau tanya pada Pak Kiai apa dia menurut Pak Kiai pantas untuk saya dan saya pantas untuknya?” ”Insya Allah.” ”Kalau begitu saya tidak ragu sama sekali Pak Kiai.” ”Baiklah kalau begitu shalatlah maghrib di sini. Dirimu akan aku nikahkan dengan gadis itu bakda shalat maghrib. Yang jadi saksi Edited by : Bo408 Bon-q97 adalah masyarakat yang jamaah di sini dan para santri. Maharnya cincin emas ini.” ”Masalah surat-surat resminya Pak Kiai?” ”Itu gampang. Besok langsung diurus di KUA. Ketua KUA nya malah biasanya shalat maghrib di sini. ” ”Kenapa tidak besok sekalian Pak Kiai?” ”Cincinmu ini amanah bagiku Nak, aku khawatir nyawaku tidak sampai besok pagi sehingga aku tidak bisa menunaikan amanahmu.” ”Kalau boleh tahu, gadis itu asal mana, dan siapa namanya Pak Kiai?” ”Dia asli Wangen sini, dia putriku sendiri namanya Anna Althafunnisa.” ”Anna Pak Kiai?” ”Iya. Apakah kau keberatan aku nikahkan dengan Anna?” ”Tidak Pak Kiai.” Jawab Azzam dengan linangan air mata. ”Tapi Pak Kiai?” ”Tapi apa?” ”Bagaimana dengan iddahnya.” ”Sudah lama terlewati masa iddahnya. Kamu tak usah mengkhawatirkan masalah itu. Dia telah menikah tapi sampai sekarang masih perawan. Dia janda, tapi janda kembang. Janda yang Edited by : Bo409 Bon-q97 mahkota kewanitaannya masih utuh. Dia sama saja belum pernah menikah sebenarnya.” ”Maaf apa sebaiknya tidak ditanyakan dulu ke keluarga Furqan. Siapa tahu Furqan sudah sembuh. Terus ingin rujuk pada Anna. Dan siapa tahu sebenarnya Anna ingin rujuk pada Furqan. Sebab Furqan itu teman baik saya, Pak Kiai. Saya tidak ingin menikah di atas penderitaan orang lain. Apalagi teman saya sendiri.” ”Anna sudah berkali-kali bilang tidak mungkin lagi mau rujuk pada Furqan. Dan Anna sudah menyerahkan urusan jodohnya pada Abahnya ini. Dia bahkan bilang seandainya orang buta sekalipun yang aku bawakan padanya, dia akan taat. Jadi tidak ada masalah sama sekali.” ”Apa harus habis maghrib ini Pak Kiai?” ”Apa kau tidak siap?” Tantang Pak Kiai Lutfi. Di balik dinding kaca hitam, Anna Althafunnisa menahan harunya. Ia mendengar percakapan Azzam dengan Abahnya dengan dada bergetar. Ia sangat berharap pernikahannya dengan Azzam benarbenar terjadi setelah shalat maghrib. ”Baik, saya siap Pak Kiai!” Jawab Azzam mantap. Anna langsung sujud syukur dengan tubuh bergetar karena merasakan anugerah yang datang begitu tiba-tiba. la teringat kembali pertemuannya dengan Azzam pertama kali waktu ditolongnya dengan taksi. Ia ingat kembali saat ia menanyakan namanya;lalu ia menunduk dan hanya memperkenalkan namanya dengan mengatakan: Abdullah. Ia sangat berteri kasih dan kagum pada pemuda itu ketika itu. Sampai kini pemuda itu akan menikahinya. Edited by : Bo410 Bon-q97 Sementara Azzam berusaha keras untuk menahan air matanya. Ia tidak mau air matanya meleleh di depan calon mertuanya. Ia ingat pertama kali mendengar nama Anna dari Pak Ali, sopir KBRI. Lalu ia cari informasi. Ternyata Anna adalah bintangnya mahasiswi Indonesia yang ramai dibicarakan dan didambakan orang. Ia nekat meminangnya lewat Ustadz Mujab, tapi Ustadz Mujab memberikan jawaban yang tidak pernah dilupakannya. Ia masih ingat betul kata-kata Ustadz Mujab: “Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh aku ingin membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki aku bisa membantumu kali ini. Anna Althafunnisa masih terhitung sepupu denganku. Aku tahu persis keaadaan dia saat ini. Sayang kau datang tidak tepat pada waktuya. Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh temanmu sendiri.” Allahlah yang mengatur hidup ini. Kalau memang jodohku adalah Anna Althafunnisa seperti apapun berliku adanya maka akan sampai pada jodohnya. Itulah yang ada di benak Azzam. Meski ia berusaha menahan,tapi matanya tetap berkaca-kaca. Langit cerah. Ufuk barat memerah. Angin berhembus. Daun mangga jatuh. Senja bertasbih. Burung- burung pulang ke sangkarnya dengan bertasbih. Para santri di masjid ada yang menghafal Alfiyah, ada yang membaca Al Quran, ada yang membaca ma’tsurat, dan ada juga yang memilih duduk menghadap kiblat dengan bertasbih. Azan maghrib berkumandang. Azzam menjawab panggilan azan dengan hati bergetar. Jiwanya ia pasrahkan semuanya kepada Allah. Sementara Anna bersiap dengan mukena putihnya. Ia larut dalam zikir mengagungkan Allah. Edited by : Bo411 Bon-q97 Senja itu langit cerah. Angin mengalir dari sawah. Bintang-bintang bertasbih. Shalat didirikan. Selesai shalat Kiai Lutfi naik mimbar, setelah membaca hamdalah dan shalawat pengasuh pesantren itu memberikan pengumuman singkat, ”Jamaah shalat maghrib, santri-santriku yang aku sayangi. Malam ini pengajian tafsir Jalalain waktunya diganti bakda Isya. Insya Allah bakda maghrib ini akan ada peristiwa bersejarah yang penting. Yaitu saya akan menikahkan Anna Althafunnisa dengan Khairul Azzam. Saya mohon kepada semua yang ada di masjid ini untuk menjadi saksi!” Setelah itu Pak Kiai turun dan memanggil Azzam untuk maju ke depan. Azzam maju dengan langkah gemetaran. Lebih dari seribu mata santri memandang ke arahnya. Pak Kiai duduk di depan mihrab. Azzam duduk tertunduk di hadapannya. Pak Kiai memanggil seorang santri senior bernama Hamid, seorang pria berumur empat puluh lima tahunan bernama Pak Fadlun. Pak Fadlun adalah kepala KUA Kecamatan Polanharjo. Sebelum akad Pak Kiai berkata pada Pak Fadlun, ”Tolong Pak Fadlun sampeyan jadi saksi, dan sekalian kau catat dan kau buatkan surat nikahnya. Persyaratan berkasberkasnya menyusul ya.” ”Inggih Pak Kiai.” Jawab Pak Fadlun. Azzam mendengar percakapan itu. Hatinya semakin mantap. Di lantai dua, Anna menanti detik-detik membahagiakan itu dengan tidak sabar. Ia segera ingin resmi jadi isteri Azzam, agar status jandanya segera hilang. Pak Kiai memulai prosesi akad nikah. Sebelumnya ia membatakan khutbah nikah secara singkat. Semua dalam bahasa Arab. Khutbah nikahnya baginda Nabi ketika menikahkan Fatimah dengan Ali. Khutbah yang ditulis banyak ulama dalam kitab-kitab fiqh. Lalu Kiai Edited by : Bo412 Bon-q97 Lutfi berkata kepada Azzam,”Ya Khairul Azzam, anikahtuka wa tazwijatuka binti Anna Althafunnisa bi mahri al khatam min dzahab haalan”33 ”Qiiiltu nikahaha wa tazwijaha bi mahril madzkur haalan”34 Jawab Azzam spontan. Di lantai dua Anna langsung memeluk Umminya yang ada di samping. Ibu dan anak larut dalam tangis bahagia. ”Ummi, Anna sudah punya suami lagi. Anna tidak janda lagi. Dan suami Anna kali ini adalah orang yang sebenamya selama ini Anna cintai.” Kata Anna setengah berbisik pada ibunya. ”Iya Nduk, alhamdulillah.” Selesai akad Pak Kiai membaca doa, yang diamini semua santri yang memenuhi masjid itu. Setelah itu para santri menyalami Azzam dengan senyum mengembang. Pak Kiai hendak membawa Azzam ke rumah untuk menemi isterinya. Azzam menjawab, ”Perkenankan saya i’tikaf Pak Kiai sampai Isya.” ”Jangan panggil Pak Kiai lagi. Panggillah Abah. Sekarag kau menantuku Zam.” ”Baik Abah.” Pak Kiai tetap pulang, dan meminta isteri dan anak putrinya menyiapkan sesuatu yang bisa digunakan untuk menyambut sang menantu setelah shalat Isya’. 33 ”Wahai Khairul Azzam, aku nikahkan dan aku kawinkan kamu dengan putriku Anna Althafunnisa dengan mahar cincin emas dibayar tunai.” 34 ”Aku terima menikah dan mengawininya dengan mahar tersebut dibayar tunai.” Edited by : Bo413 Bon-q97 29 DAN CINTA PUN BERTASBIH Anna tidak sabar untuk segera bertemu Azzam. Selesai shalat Isya ia berharap Azzam akan dibawa Abahnya langsung ke rumah. Tapi Abahnya malah meminta Azzam untuk memberikan pengajian Tafsir Jalalain. Dengan agak berat Azzam maju ke mimbar pesantren. Ia meminjam kitab Tafsir seorang santri. Di atas mimbar setelah membaca hamdalah, Azzam berkata, ”Para santri Pesantren Wangen yang saya cintai. Jujur saya tidak siap untuk membacakan Tafsir Jalalain. Saya tidak punya persiapan apaapa. Saya tidak mau ngawur dalam memahami tafsir ayat-ayat suci Al-Quran. Sebagai gantinya saya akan sedikit bercerita saja. Semoga ada gunanya. Saya awali dari sebuah kisah yang sangat menggugah saya. Suatu siang, saat saya masih kuliah di Universitas Al Azhar Kairo, sekitar tahun 1999 saya membeli majalah Al ij’uu Al Islami yang diterbitkan oleh Kementerian Wakaf Kuwait. Sampai di flat, karena lelah, yang Edited by : Bo414 Bon-q97 saya baca dulu adalah suplemen majalah itu. Yaitu majalah tipis untuk anak, namanya Bara’imul Iman. Dalam keadaan lelah saya memang biasa membaca bacaan yang ringan dan menghibur. Pokoknya harus tetap membaca. Termasuk majalah anak-anak. Bahkan, saat itu saya juga sering membaca komik Donal Bebek versi bahasa Arabnya. Selain ringan, lucu, menghibur, seringkali saya juga menemukan kosa kata baru dan lucu dalam bahasa Arab. Jadi dalam lelah pun masih tetap bisa mendapatkan manfaat berlipat. Di majalah Bara’imul Iman yang saya pegang itu saya menemukan sebuah kisah yang sangat bergizi dan memotivasi. Sebuah kisah fabel yang sangat menggugah dan inspiratif judulnya Kisah Seekor Anak Singa. Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerakgerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu. Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu. Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya. Edited by : Bo415 Bon-q97 Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum! la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambingkambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa. Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala. ”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar. Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala. Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah, ”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang jahat itu!” Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala Edited by : Bo416 Bon-q97 sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya. Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya! Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, ”Emmbiiik!” Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang untuk menyeruduk lagi. Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing. Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu! Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing Edited by : Bo417 Bon-q97 menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan? Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun. Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat! Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa. Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, ”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!” Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, ”Jangan bunuh aku, ammpuun!” Edited by : Bo418 Bon-q97 ”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!” Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!” Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing. Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!” ”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa. ”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!” ”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa. Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu. Edited by : Bo419 Bon-q97 Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!” Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya. Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya. Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasabiasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya. Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk menaklukkannya. Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis, ”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.” Edited by : Bo420 Bon-q97 Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah ’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing. Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia Islam saat ini. Ketika saya pulang kampung, setelah sembilan tahun meninggalkan kampung halaman untuk belajar di Cairo, saya menemukan tidak ada perubahan berarti di kampung halaman saya. Cara berpikir masyarakatnya masih sama. Cara hidupnya masih sama saja. Pak Anu yang ketika saya masih di SD dulu kerjanya menggali sumur, sampai saya pulang dari Mesir, bahkan sampai saat saya berdiri di mimbar ini juga berprofesi menggali sumur. Bu Anu yang dulu kerjanya menjual air memakai gerobak sampai sekarang juga tidak berubah. Mbak Anu yang dulu jualan krupuk sambal di dekat SD sampai sekarang juga masih di sana dan berjualan dagangan yang sama. Bahkan teman-teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita-cita mau jadi ini dan itu dan saya berharap ia telah meraih cita-citanya sekian tahun berpisah ternyata jauh panggang dari api. Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah. Edited by : Bo421 Bon-q97 Kenapa tidak berubah? Jawabnya karena mereka tidak mau berubah. Kenapa tidak mau berubah? Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwariskan turun-temurun. Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan, ”Aku malu jadi orang Indonesia!” Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orangorang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera. Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa! Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar! Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing. Edited by : Bo422 Bon-q97 Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sedikitpun. Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah ummat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta ummat Islam di negeri tercinta Indonesia ini. Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah ummat Islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya. Dua ratus juta ummat Islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa. Penguasa belantara dunia. Itulah yang sebenarnya. Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi! Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh! Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental ummat yang terbelakang. Allah berfirman, ”Kalian adalah sebaik Edited by : Bo423 Bon-q97 mjbookmaker by http://jowo.jw.lt baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.!”35 Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Pidato motivasi yang disampaikan Azzam membuat dada para santri membara oleh semangat. Ketika Azzam turun, ia langsung disambut dengan takbir yang menggema di seluruh masjid. Pak Kiai Lutfi langsung memeluknya erat-erat dan mengatakan, ”Aku cinta padamu Nak! Ini aku hadiahi kamu sorban yang paling kucintai, sorban pendiri pesantren ini!” Azzam menerima sorban itu dengan linangan air mata. * * * Dengan hati bergetar Azzam mengiringi Kiai Lutfi ke rumah. Ia lihat dengan ujung matanya Anna dan Umminya sudah masuk duluan. Ia sudah punya isteri. Inilah rezeki yang tidak di sangka-sangka datangnya. Begitu sampai Bu Nyai Nur langsung berkata kepadanya, ”Langsung naiklah ke atas Nak! Isterimu sudah menunggu di sana. Di atas cuma ada dua kamar, perpustakaan dan kamar isterimu. Kamar isterimu yang ada di sebelah kanan. Yang pintunya ada tulisannya Anna .” Azzam agak ragu. ”Jangan ragu, naiklah! Ini juga rumahmu.” Kata Kiai Lutfi menguatkan. Azzam naik ke atas. Hatinya berdegup kencang ketika sampai di sebuah kamar yang ada tulisannya Anna. Ia ketuk kamar itu pelan 35Ali Imran: 110 mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt sambil mengucapkan salam. Ada suara yang bening menjawab dari dalam. Pintu terbuka perlahan. Dan tampaklah bidadari itu di hadapannya. Azzam masuk. Anna mengunci pintunya. Azzam memandang Anna dengan mata berkaca-kaca. Anna memakai jilbab dan baju birunya. Jilbab dan baju biru yang ia kenakan saat pertama bertemu di Cairo. Saat ia menolong gadis yang kini jadi isterinya itu dengan memberinya tumpangan taksi. Anna menunduk malu. Dalam terpaan temaram cahaya lampu tidur Anna tampak begitu jelita. Bau harum wangi yasmin merasuk jiwa. Azzam maju dan mengangkat wajah isterinya, lalu lirih berkata, ”Apakah kau ridha dinikahkan Abahmu denganku?” Anna menganggukkan kepala. Ternggorokannya tercekak haru. Ia seperti tak mampu bicara. ”Kalau begitu duduklah, aku akan membacakan doa barakah.” Anna menuruti perintah Azzam. Ia duduk di samping ranjang. Azzam duduk di samping isterinya. Ia meletakkan sorban pemberian Kiai Lutfi ke ranjang, lalu pelan tangan kanannya memegang ubunubun isterinya dan membacakan doa barakah yang diajarkan Rasulullah. Ann mengamini dengan air mata meleleh. ”Ayo kita sholat dulu!” ”Baik Mas.” Mereka mengambil air wudhu lalu shalat. Selesai shalat Azzam berdoa lagi. Anna mengamini. Setelah itu perlahan Anna melepas mukenanya. Di balik mukena Anna memakai baju dan bawahan biru. Azzam berdiri dan berkata pada Anna, ”Maaf Dik, aku harus pulang.” Edited by : Bo425 Bon-q97 ”Pulang ke mana?” ”Ke Sraten. Kasihan Husna dan Lia.” ”Mas tidak boleh pulang. Malam ini harus tidur di kamar ini.” ”Mereka nanti cemas kalau Mas tidak pulang.” ”Jangan khawatir Husna tadi sudah aku beritahu lewat handphone, sebelum Mas masuk kamar ini. Dia titip salam.” ”Tapi aku harus pulang, ada urusan yang Husna tidak tahu.” ”Apa itu?” ”Memberi bumbu adonan bakso.” ”Apakah bakso itu lebih berharga dari isterimu ini Mas.” ”Tidak Dik, tentu kau lebih berharga. Bahkan dibanding dengan dunia seisinya.” ”Kalau begitu sekarang lakukanlah tugasmu sebagai seorang suami.” Ucap Anna pelan. Jari-jari Anna memegang kancing baju birunya. Azzam melihat dengan hati bergetar. ”Tunggu isteriku!” ”Kenapa?” Azzam maju lalu perlahan mencium kening isterinya. Dengan suara halus Azzam berkata kepada isterinya, ”Ini bukan tugasmu, ini tugas suamimu!” Ia merebahkan isterinya pelan-pelan. Dengan mata Edited by : Bo426 Bon-q97 berlinang Anna berkata, ”Mas Azzam, aku punya puisi untukmu, mau kau mendengarkan?” Azzam mengangguk dengan tangan terus bekerja untuk menyempurnakan ibadah dua insan yang dimabuk cinta. Anna berkata kepada Azzam: Kaulah kekasihku Bukalah cadarku Sentuh suteraku Muliakan mahkotaku Nikmati jamuanku Jangan khianati aku! Azzam tersenyum, lalu mencium kembali kening isterinya. Lalu ia membalas, Bismillah, Kemaril ah cintaku Akan kubuka cadarmu dengan cintaku Akan kusentuh suteramu dengan cintaku Akan kumuliakan mahkotamu dengan cintaku Dan kunikmati jamuanmu dengan cintaku Tak mungkin aku mengkhianatimu Karena aku cinta padamu Kedua insan itu bertasbih menyempurnakan ibadah mereka sebagai hamba-hamba Allah yang mengikuti sunnah para nabi dan rasul yang mulia. Malam begitu indah. Rembulan mengintip malu di balik pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan bersembahyang. Malam itu Azzam dan Anna merasa menjadi hamba yang sangat disayang Tuhan. Selesai shalat subuh, Azzam membaca Al Quran disimak oleh isterinya tersayang. Setengah juz ia baca dengan tartil dan penuh penghayatan. Ia telah melewatkan malam yang tak akan terlupakan selama hidupnya. Anna tampak begitu ranum dan segar. Senyumnya mengembang ketika suaminya selesai membaca Al Quran. ”Mau apa pagi ini sayang?” Tanya Anna. ”Terserah kau.” Edited by : Bo427 Bon-q97 ”Bagaimana kalau kita buka internet. Aku akan beritahu temanteman di Cairo bahwa aku sudah tidak janda lagi.” ”Boleh, tapi di mana kita buka internet?” ”Di kamar samping. Komputernya ada line internetnya.” ”Baik. Ayo kita ke sana.” Suami isteri itu lalu beranjak ke perpustakaan dan membuka internet. Ketika mereka sedang berduaan di depan komputer, Kiai Lutfi masuk ke perpustakaan. Kiai Lutfi tersenyum, lalu balik kanan, sebelum pergi Kiai Lutfi bertanya pada Anna dengan nada canda, ”Nduk bagaimana jago yang Abah pilihkan?” ”Pilihan Abah tepat. Jagonya lebih hebat dari elang!” Jawab Anna sekenanya. Azzam langsung menguyek-uyek kepala isterinya dengan rasa cinta dan sayang. Anna melihat inbox emailnya. Email terbaru dari Furqan. Ia ingin melewati email itu, tapi Azzam berkata, ”Coba buka emailnya apa isinya?” Mau tidak mau Anna membuka email mantan suaminya itu. Pelanpelan email itu mereka baca berdua: Untuk Anna Di Kartasura Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Semoga kau, Abahmu, Ummimu, dan seluruh keluargaEdited by : Bo428 Bon-q97 ”Karena dipaksa, ya baiklah, dengan senang hati isteriku.” Ucap Azzam pelan di telinga isterinya. Mereka berdua kembali ke kamar dan menutup pintu kamar. Anna kembali membacakan puisinya dengan sepenuh jiwa, Azzam menjawab dengan suara bergetar, Akan kumuliakan mahkotamu dengan cintaku Dan kunikmati jamuanmu dengan cintaku Tak mungkin aku mengkhianatimu Karena aku cinta padamu Kedua insan itu kembali bertasbih menyempurnakan ibadah mereka sebagai hamba-hamba Allah yang mengikuti sunnah para nabi dan rasul yang mulia. Pagi begitu indah. Sang Surya mengintip malu di balik pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan bersembahyang. Pagi itu Azzam dan Anna kembali merasa menjadi hamba yang sangat disayang Tuhan. Fa biayyi aalaai Rabbikuma tukadzibaan! Candiwesi, Salatiga-Ciputat-Kukusan, Depok: Oktober-Nopember 2007 Alhamdulillah wash shalatu was salamu ’ala Rasulillah. Edited by : Bo429 Bon-q97 TENTANG NOVEL BERIKUTNYA Alhamduliltah, dengan rahmat dan taufiq dari Allah Azza wa Jalla dwilogi ”Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2” berhasil penulis rampungkan. Dengan berleleran keringat dan berdarah-darah Azzam akhirnya berhasil meraih apa yang diikhtiarkannya. Namun di hadapan Azzam masih terbentang seribu satu tantangan kehidupan. Tanggung jawabnya setelah rnenikah dengan Anna Althafunnisa justru semakin berat. Azzam tak akan pernah benar-benar beristirahat. Memang demikianlah seorang Muslim sejati seharusnya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan, bahwa seorang Muslim sejati akan benar-benar istirahat adalah jika kedua kakinya telah menginjakkan pintu Surga. Sebelum itu tak ada istirahat, yang ada adalah ikhtiar dan terus ikhtiar untuk menggapai cinta dan ridha Allah Swt. Lalu bagaimanakah nasib Eliana, Furqan, Husna, Zumrah, juga Fadhil dan Cut Mala? Juga nasib Husna dan kedua adiknya? Tentang perjuangan hidup Husna selanjutnya, juga perjuangan Eliana untuk mendapatkan hidayah di tengah tengah kehidupan hedonis yang mengepungnya, serta perjuangan Furqan untuk kembali bangkit menciptakan masa depannya insya Allah penulis sedang menyiapkan novel pembangun jiwa berikutnya berjudul: DARI SUJUD KE SUJUD. Kepada segenap pembaca yang penulis cintai; mohon doanya, semoga novel DARI SUJUD KE SUJUD segera bisa penulis selesaikan. Semoga Allah Swt. senantiasa mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Amin. Wallahu waliyyut taufiq wal hidayah. Salam cinta dan ta’zhim, Habiburrahman El Shirazy Edited by : Bo430 Bon-q97 KITAB-KITAB YANG MENDAMPINGI PENULISAN NOVEL INI: Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Dar Al Fikr Al Mu’ashir, Damaskus, 2006 Al Hikam, Al Imam Ibnu ’Athaillah Al Sakandari, Thaha Putra, Semarang, Tanpa Tahun Al Islam Aqidatun Wa Syari’atum Al Imam Al Akbar Syaikh Mahmoud Shaltout, Dar Al Syuruq, Cairo, 2004 Al Jami’ Li Ahkami Al Qur’an, Imam Al Qurthubi, Al Maktabah At Taufiqiyyah, Cairo, Tanpa Tahun. Al Mughni, Ibnu Qudamah, Al Maktabah Al Riyadh Al Haditsah, Riyadh, Tanpa Tahun. Al Qawaa’id Al Fiqhiyyah Baina Al Ashaalah Wa At Taujiih, Prof. Dr. Muhammad Bakar Ismail, Daar Al Manaar, Cairo, 1997 Fathul Bari Bi Syarhi Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, Dar Al Hadits,1998 Min Taujihat Al Islam, Al Imam Al Akbar Syaikh Mahmoud Shaltout, Dar Al Syuruq, Cairo, 2004 Shahih Muslim Bi Syarhin Nawawi, Imam Abu Zakariya An Nawawi, Dar At Taqwa, Cairo, 2001 Subul Al Salam, Al Imam Al Shan’ani, Thaha Putra, Semarang, tanpa tahun Syarh Al Qawaid Al Fiqhiyyah, Syaikh Ahmad Muhammad Al Zarqa, Dar Al Qalam, Damaskus, 1989. Edited by : Bo431 Bon-q97 PROFIL PENULIS HABIBURRRAHMAN EL SHIRAZY, lahir di Semarang, pada hari Kamis, 30 September 1976. Sasterawan muda yang oleh wartawan majalah Matabaca dijuluki ”Si Tangan Emas” karena karya-karya yang lahir dari tangannya dinilai selalu fenomenal dan best seller ini, memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan KH. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke Kota Budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fak. Ushuluddin, Jurusan Hadis, Universitas Al-Azhar, Cairo dan selesai pada tahun 1999. Telah merampungkan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies in Cairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri (2001). Profil diri dan karyanya pernah menghiasi beberapa koran dan majalah, baik lokal maupun nasional, seperti Jawa Post, Koran Tempo, Solo Pos, Republika, Suara Merdeka, Annida, Saksi, Sabili, Muslimah, Tempo, Majalah Swa dll. Kang Abik—demikian novelis muda ini biasa dipanggil adikadiknya — semasa di SLTA pernah menulis naskah teatrikal puisi berjudul ”Dzikir Dajjal” sekaligus menyutradai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel seMAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fairx94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Karesidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Kang Abik juga pemenang I lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Ia juga peraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang Edited by : Bo432 Bon-q97 diadakan IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994- 1995) mengisi acara Syarhil Quran setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se- Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Ketika menempuh studi di Cairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Studi Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Cairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti ”Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu. ia berkesempatan memberikan orasi berjudul ”Tahqiqul Amni Was Salam Fil *Alam Bil Islam” (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan berskala internasional tersebut. Pernah aktif di Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Cairo (1998-2000). Dan pernah menjadi koordinator sastra Islam ICMI Orsat Cairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastarawan muda ini juga pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Cairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Cairo. Selain itu, Kang Abik, telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarai pementasannya di Cairo, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ’Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insaniyyah al Islam Edited by : Bo433 Bon-q97 terkodifikasi dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Cairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua Tim Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu menara ”NAFAS PERADABAN” (diterbitkan oleh ICMI Orsat Cairo, 2000). Kang Abik, telah menghasilkan beberapa karya terjemahan, seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah Ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpencerpennya termuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004) dll. Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, Kang Abik diundang oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan puisipuisinya berkeliling Malaysia dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading Ke-9, bersama penyair-penyair dunia lainnya. Puisinya juga termuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair dunia yang lain, puisi Kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004). Pada medio pertengahan Oktober 2002, Kang Abik tiba di Tanah Air, saat itu juga, ia langsung diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren; Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003). Mengikuti panggilan jiwa, antara tahun 2003 hingga 2004, Kang Abik memilih mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya, sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 ini, Kang Abik tercatat sebagai dosen di Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Edited by : Bo434 Bon-q97 Selain menjadi pernah dosen di UMS Surakarta, kini Kang Abik sepenuhnya mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya, lewat Pesantren Karya dan Wirausaha BASMALA INDONESIA, yang sedang dirintisnya bersama sang adik tercinta, Anif Sirsaeba dan budayawan kondang Prie GS di Semarang, dan lewat wajihah dakwah lainnya. Berikut ini adalah beberapa karya Kang Abik, yang telah terbit di Indonesia dan Malaysia dan menjadi karya fenomenal, bahkan megabestseller di Asia Tenggara, antara lain: Ayat Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Dari Sujud ke Sujud, Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening dan Bulan Madu di Yerussalem. Sastrawan muda yang kini sering diundang di forumforum nasional maupun internasional ini masih duduk di Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena. Dan untuk mendulang manfaat Kang Abik membuka komunikasi dan silaturrahim kepada sidang pembaca lewat e-mail: kangabik@yahoo.com. mjbookmaker by http://jowo.jw.lt